Jumat, 05 Desember 2014


Lost in Sentarum

Perjalanan kali ini menjelajahi Taman Nasional Danau Sentarum yang terkenal di mancanegara itu. Di musim penghujan, danau ini digenangi air yang mencapai ketinggian 6-14 meter. Namun di musim kemarau berubah menjadi daratan dan rawa-rawa yang indah. Memiliki kekayaan flora dan fauna yang luar biasa. Dihuni oleh berbagai jenis hewan langka; buaya, ular, biawak, ikan dan lain-lain. Bahkan Sentarum tercatat sebagai salah satu habitat ikan air tawar terlengkap di dunia. Salah satu penghuni aslinya ikan arwana telah menembus pasar internasional. Luasnya kawasan danau mencapai 132.000 hektar.

Saat ini jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Langit kota Putussibau telah terang oleh sang surya. Putussibau merupakan ibu kota kabupaten Kapuas Hulu, sebuah kabupaten paling ujung dan terjauh dari Kota Pontianak Kalimantan Barat. +700 KM! Setelah sarapan dengan beberapa lembar roti kering yang telah dipanggang di penginapan, kami berangkat menelusuri jalanan sejauh 120 KM. Jalanan panjang dan berliku ini terhampar sangat rapih meskipun di beberapa titik masih dalam penyelesaian pengaspalan. Kadang menanjak kadang menurun mengikuti kontur jalanan yang berbukit-bukit. Dihimpit oleh pepohonan hutan yang menjulang tinggi dan bentangan sawah padi yang baru ditanam penduduk lokal setelah buka lahan hutan. Sayangnya pembukaan lahan hutan dengan cara dibakar ini menyebabkan beberapa petak pohon lain turut hangus, meskipun pohon-pohon itu masih berdiri kokoh tapi kondisinya sudah menghitam legam menjadi arang.

Jalanan sepi. Hanya hitungan jari kendaraan lain melintas. Hawa sejuk pagi sungguh menyegarkan. Bulir-bulir embun di dedaunan menetes satu demi satu, rembes dalam tanah. Perjalanan memakan waktu 3 jam lebih. Tepat jarum jam berhenti di angka 10, kami tiba di Lanjak, sebuah kecamatan yang menjadi jalur penghubung menuju Taman Nasional Danau Sentarum. Juga 46 km menuju kecamatan Badau, salah satu border perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat selain Entikong di Kabupaten Sanggau, Sajingan di Kabupaten Sambas dan Kecamatan Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang. Lebih dekatnya jarak ke Serawak Malaysia daripada Kota Putussibau sebagai ibukota Kabupaten menyebabkan hampir seluruh barang-barang yang ada toko itu adalah made in Malaysia; minuman, makanan hingga tabung gas. Bahkan mobil-mobil yang berflat asing hilir mudik di jalanan ini.

Selamat Datang di Sentarum
Setelah rehat sejenak dan menyiapkan perbekalanan makanan yang cukup di salah satu warung makan, tepat pada pukul 11.00 kami bersiap melanjutkan penjelajahan ke Taman Nasional Sentarum. Konon pesonanya mampu menghipnotis para wisatawan mancanegara dengan ragam tujuan. Ada yang sekedar ingin tahu seperti kami, tapi lebih banyak yang bertujuan untuk hiking ataupun penelitian flora dan fauna. Hal ini terungkap dari hasil obrolan dengan para bule saat di penginapan di Putussibau ataupun catatan buku tamu di Taman Nasional Danau Sentarum.
Saat ini danau sedang mengering karena musim kemarau sehingga yang terlihat adalah hamparan daratan luas nan hijau seperti savana yang dibelah beberapa sungai besar. Padahal saat pasang ketinggian air mencapai 6 meter lebih hingga menutupi pepohonan yang tumbuh di tengah danau. Kami memulai perjalanan menjelajahi danau dengan naik ojek terlebih dahulu menuju lokasi yang masih terdapat genangan air yang lebih dalam. Mereka menyebutnya dermaga meski tidak terlalu tepat istilah itu.

Destinasi utama kami di Danau Sentarum ini adalah Pulau Tekenang. Start dari dermaga ini perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri genangan air yang membentuk rawa dan sungai panjang. 2 speed boat siap membawa kami menjelajahi salah satu danau terpenting di dunia karena ragam hayatinya yang langka. Kapasitas masing-masing speed boat hanya 4 orang. Bak seperti para peneliti di National Geografic, kami mengamati setiap jengkal rawa-rawa. Mata dipicingkan ke kanan dan ke kiri mencari-cari sesuatu yang mungkin terjadi secara alami di alam terbuka ini yang sayang kalau dilewatkan. Perasaan senang dan takut campur aduk dalam perjalanan ini. Senang karena merasakan pengalaman mengesankan. Perasaan takut muncul karena kadang terlintas bayangan film-film dokumenter tentang hewan-hewan buas di rawa.

Di tepi sungai sekumpulan burung bangau putih tiba-tiba terbang berpindah dari satu daratan ke daratan lain. Susunan formasi terbangnya terlihat cantik menghiasi langit biru. Terlihat pula beberapa burung elang mengitari langit mencari mangsa hewan untuk sekedar makan. Sempat pula menyaksikan adengan burung yang memangsa ikan dengan cara meluncur deras menghujam permukaan air. Hasilnya seekor ikan memenuhi paruh burung yang panjang. Kemudian dibawanya ke daratan untuk proses pencernaannya.

Sepanjang perjalanan air ini beberapa kali menemukan sederetan gubuk para nelayan di bibir sungai. Mereka tinggal di gubuk-gubuk itu hanya saat musim air danau surut. Kembali ke kampungnya saat air danau pasang. Ikan dan madu menjadi buruannya untuk dijual di pasar.
Pukul 14.00 speed boat sampai dan menepi di Pulau Tekenang. Pulau yang berkontur bukit ini menjadi Kantor Pusat Observasi Alam Taman Nasional Danau Sentarum yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan. Setelah mengisi daftar tamu dan membayar biaya perijinan, kami mulai diijinkan mendaki bukit yang memiliki ketinggian 500 dpl. Jalur tracking yang sudah dibuatkan tangga membuat para pendaki menjadi mudah dan terarah. Terlebih disediakan pula tempat istirahat di beberapa titik pemberhentian.

Berada di puncak bukit Pulau Tekenang sungguh memberikan sensasi rasa tersendiri. Terbayar lunas sudah kelelahan perjalanan yang dilalui. Mata dapat menyapu seluruh pandangan menakjubkan di Danau Sentarum. Sungai-sungai panjang bercabang meliuk-liuk di danau sentarum yang sedang mengering. Jika danau sedang pasang yang terlihat sejauh mata memandang hanyalah gugusan pulau kecil serta pucuk pepohonan yang tinggi di tengah hamparan air yang sangat luas membentang.

Berpuas diri di Pulau Tekenang sampai waktu telah beranjak sore. Di pukul 15.00 kami melakukan perjalanan kembali ke dermaga di kecamatan Lanjak. Belum separuh perjalanan kami mampir di beberapa gubuk yang dihuni para nelayan untuk membeli ikan danau yang telah dikeringkan dan beberapa liter madu asli untuk sekedar oleh-oleh.

Dalam perjalanan pulang matahari sore tidak lagi menyengat. Awan di langit bergumpal cukup memberikan keteduhan. Air sungai terasa tenang. Sesekali ikan dari kejauhan terlihat melompat. Masih terlihat pula sekumpulan burung bangau di tepi genangan air. Ketenangan dan kesenangan kami tiba-tiba terusik karena speed boat yang kami tumpangi secara perlahan mendadak berhenti. Mesin diesel dipaksakan hidup tetap saja tak kunjung berhasil. Ternyata bensin telah habis. Celakanya tidak ada sedikitpun minyak cadangan. Sementara speed boat yang lain telah jauh meninggalkan kami. Deru suara mesinnya tak lagi terdengar.

Perahu yang berkapasitas 4 orang itu didayung menepi karena air sedikit demi sedikit mulai masuk ke lambung speed boat yang telah tua itu. Kami disarankan pemilik Speed boat untuk berjalan kaki menelusuri daratan danau yang telah mengering itu karena menurutnya lokasi dermaga sudah dekat. Sementara dia sendiri mendorong perahunya menyusuri sungai.

Tersesat
Senangnya kami berempat dapat menginjak rerumputan yang telah menghijau. Seakan berada di lapangan golf terluas di dunia. Senyum sumringah masing-masing kami merekah. Terdokumentasikan dalam jepretan kamera ponsel yang sudah lowbat. Pemandangan indah ini tersaji alami. Lembayung senja dari pancaran matahari sore memantul cantik dalam genangan air. Tidak salah kalau danau ini telah memikat banyak turis.

Kaki ini telah melangkah hampir satu jam, namun dermaga tempat semula kami mulai berlabuh tak kunjung terlihat. Cahaya di langit pun mulai redup. Kami berpandangan satu sama lain. “Jangan-jangan kita sedang tersesat”. Celetuk salah satu kawan. Saat itulah kepanikan terjadi. Rasa senang berubah menjadi penuh kekhawatiran. Jantung mulai berdebar.

Langit telah pekat. Tak ada sedikit pun benda langit yang memancarkan cahayanya. Ponsel kami yang masih on hanya tersisa satu. Selebihnya tak berguna sama sekali, meski hanya sebagai penerang jalan. Kami berusaha menghubungi tim lain melalui ponsel untuk meminta bantuan, namun kami sendiri tidak tahu di mana posisi kami persisnya. Tidak ada petunjuk yang bisa dijelaskan. Semua terlihat gelap di tengah luasnya cekungan danau yang telah menjadi daratan dan rawa itu. Sempat terdengar suara mesin speed boat melintas di kejauhan, namun suara teriakan kami terdengar percuma.

Pandangan semakin terbatas. Tidak lagi mampu membedakan mana genangan air mana hamparan pasir putih. Jalanan kadang berumput, kadang berpasir dan kadang pula tergenang air. Semua harus dilalui. Tidak ada pilihan. Alas kaki yang semula terasa nyaman, kini dipenuhi lumpur. Gerimis sempat turun meski tidak terlalu lama. Entah berteduh dimana jika gerimis berubah menjadi hujan lebat. Apalagi hujan petir. Tidak hanya itu, genangan air pun akan meninggi. Bayangan para penghuni asli rawa yang sedang mencari makan di malam hari terlintas dalam benak meski tidak berani untuk saling mengungkapkan agar situasi tetap kondusif. Bagaimanapun sejatinya saat ini kami sedang berada di dalam cekungan danau walaupun sedang surut.

Meski diliputi rasa cemas, kaki tetap terus melangkah. Kami tidak menduga sejauh ini jarak yang harus ditempuh. Mungkin jika diperhatikan secara detil saat pemilik perahu menunjuk arah dermaga dengan jari jempolnya dan mengatakan dekat, ternyata jari jempolnya itu melengkung. So jalanan kami pun melengkung-lengkung sesuai bentuk jari itu.

Rasa optimis tiba-tiba muncul saat terlihat di kejauhan ada setitik cahaya merah. Aku menduga pasti itu tower seluler yang dipancang di ketinggian. Lampu berwarna merah itu seakan menjadi penunjuk jalan meskipun kami sendiri tidak tahu persis daerahnya. Pastinya itu berlokasi di daratan sesungguhnya. Semangat kami menyala kembali setelah lelah mendera hebat. Tidak hanya fisik juga mental. Rasa cemas dan senang telah bercampur aduk. Harapan selamat mulai nampak. Kami melangkah pasti. Tidak cepat. Tidak pula lambat. Tujuan mulai jelas. Cahaya merah itu seakan mendekat karena terlihat membesar. Di tengah perjalanan kami dihadang genangan air yang luas. Kini tidak ada lagi daratan yang bisa dipijak. Jalanan menjadi buntu. Kami coba menembus genangan air, ternyata semakin jauh semakin dalam. Kami mundur kembali sambil berharap ada bantuan datang menuju tempat kami berdiri.

Cahaya Terang
Di ujung mata 2 sinar terang bergerak-gerak menerangi daratan pijakan kami. Spontan kami berteriak dengan sekuat tenaga. Melompat-lompat sambil melambaikan tangan. Cahaya ponsel digerakkan. Segala upaya diusahakan agar cahaya itu terarah. Usaha ini berbuah hasil. Cahaya itu tepat menerangi kami. Alhamdulillah, kami girang bukan kepalang. Terlebih beberapa menit kemudian cahaya itu mulai mendekat. Terlihat 2 sosok penjemput di ujung genangan air yang gelap mulai mengarahkan jalan dengan gerakan lampu yang dibawanya.

Kami mengikuti arah gerakan itu hingga mendapati genangan air yang tidak terlalu dalam. Kami melintasinya penuh hati-hati. Air hanya setinggi lutut. Ungkapan terima kasih yang tak terhingga kepada para penjemput. Kami mulai mengatur napas agar lebih rileks untuk meneruskan perjalanan menuju dermaga. Senyum kami merekah sejadinya bak bunga mekar di pagi yang cerahSesampai di dermaga kami naik ojek untuk kembali ke warung makan sekedar melepas lelah. Wajah-wajah muram berubah sumringah. Kini waktu telah berputar ke angka 7. Setelah membersihkan diri dari kotoran lumpur dan menunaikan shalat kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Putussibau. Selama perjalanan tidak henti-hentinya kami bercerita soal suka dan duka dalam ketersesatan. Kami menyebutnya Lost in Sentarum: Terlalu indah tuk dilupakan. Terlalu sakit tuk dikenang.
Perjalanan menuju "dermaga"
Gerbang Pulau Tekenang


Si Anak Bertanya pada Sang Bapak

Suatu hari di stasiun Bojonggede Bogor, seorang laki-laki berkumis dan berambut hitam tebal, badan gempal dan berpakaian necis tengah duduk menanti kereta tujuannya sambil membaca koran harian langganannya. Stasiun terlihat lengang penumpang mengingat waktu telah beranjak siang. Sesekali terdengar suara bising dari para pekerja yang sedang merenovasi fasilitas stasiun. Para petugas berseragam keluar masuk ruang kantor yang bercat putih gading dan berarsitektur Eropa tua itu. Tampaknya PT.KAI tetap mempertahankan bentuk asli bangunan peninggalan Belanda tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring pengumuman soal kedatangan kereta dari corong speaker yang terpasang di beberapa sudut peron. Laki-laki itu pun beranjak dari tempat duduknya untuk bersiap naik kereta, namun karena dalam pengumuman itu tujuan kereta berbeda dengan tujuan laki-laki itu ia pun duduk kembali di tempat semula meneruskan bacaan korannya.

Dari kejauhan seorang anak ABG memperhatikan gerak gerik laki-laki itu. Ia pun duduk mendekatinya ingin melihat lebih jelas tahi lalat yang terdapat di sebelah kiri dagu laki-laki itu. Dalam pikirannya laki-laki itu pasti seorang artis yang dulu terkenal sebagai Si Doel yang sekarang telah menjadi Wakil Gubernur.
Rasa polos dan ingin tahunya mendorong ia menghampiri laki-laki itu.
“Maaf pak, Bapak kayaknya Rano Karno yah?” Tanya anak itu tiba-tiba sampai laki-laki itu sedikit terkejut karena sedang khusyu membaca Koran.

“Bukan!” sahut laki-laki itu sambil kembali memperbaiki posisi duduk seperti semula untuk membaca koran.

Selang beberapa menit anak ABG itu menghampirinya kembali untuk mengulang pertanyaan yang sama. Jawaban yang dilemparkan sang bapak itu pun tetap sama bahwa ia bukan Rano Karno seperti yang diduga anak ABG itu.

Jawaban tegas lelaki itu tidak membuat si anak puas hingga akhirnya ia bertanya kembali dengan rasa penasaran yang lebih tinggi.
“Bapak pasti Rano Karno yah yang sering saya lihat di TV?” tanya anak itu kembali dengan wajah sumringah dan mulut menyeringai.

Bermaksud ingin memuaskan rasa penasaran dan menghindari “gangguan” si anak ABG itu, Bapak yang disebut mirip Rano Karno itu dengan ketus dan sedikit emosi menjawab.
“Iya saya Rano Karno, emang kenapa dik?” Jawab sang bapak dengan nada lebih tegas sambil menunjukkan tahi lalat yang menempel di dagu.

Dengan wajah yang nampak lebih bingung dan dahi mengkerut tidak karuan, si anak ABG itu berkata penuh keheranan.
“tapi kok ga mirip yah pak?


Penghormatan Terakhir Kita

Rasanya baru kemarin kita melintasi bersama almarhumah selama 3 tahun di Darussalam Ciamis. Padahal sudah belasan tahun lalu. Cerita suka dan duka dialami bersama. Canda dan tawa selalu mengiringi. Dia memang orang yang luar biasa. Bahkan bisa dibilang bukan orang rata-rata seperti kebanyakan kita. Selalu menjadi yang terbaik di kelas dalam soalan prestasi belajar. Keuletannya dan kesenangannya dalam bersosialisasi dapat dilihat pada aktivitasnya di OSIS, Pramuka dan Paskibra.

Karena rasa duka yang mendalam itulah kita atas nama para sahabat alumni MAK’98 menetapkan waktu di hari Sabtu, 26 April 2014 untuk bertakziyah, memberikan penghormatan terakhir bagi sahabat kita ini. Di tengah kesibukan pekerjaan kita masing-masing yang tidak berkesesudahan. Tepat pukul 11.00 kita menyempatkan diri bertemu dan  berkumpul di rumah orang tua almarhumah di Sangkanhurip Kuningan.

Ada rasa yang membeku saat kita berdiri persis di hadapan rumahnya yang asri dan bersih. Rumah yang terlihat lebih tua dari penghuninya itu bercat kuning pudar. Desain bangunannya masih mempertahankan pola lama. Di sisinya berdiri sebuah musholla kecil dengan warna yang sama.Antara percaya dan tidak kita berkunjung ke rumahnya justru saat dia sudah tidak ada.

Pintu dibuka oleh seorang bapak yang masih terlihat gagah meski di sudah di usia sepuh, mempersilakan kita untuk masuk. Disambut pula oleh ibunya dengan tangan terbuka. Di dalam rumah yang sederhana ini kita lihat ada foto-foto yang masih menggantung di dinding mempertegas sosok bayangan almarhumah. Seakan dia tengah hadir bersama kita. Menatap kita, menyalami dan menyapa kita satu persatu dengan senyumnya yang merekah. Mungkin karena senang atas kedatangan kita.

Setelah kita dipersilakan duduk di hamparan anyaman tikar, salah seorang dari kita menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan. Bercerita soal masa lalu yang pernah kita lewati bersama. Kata-katanya yang terbata-bata jelas menunjukkan rasa sedih itu meski dikemas dengan sedemikian rupa. Tentu rasa itu dialami oleh kita semua. Dada mulai sesak. Membayangi sosoknya di 15 tahun silam saat masih bersama-sama duduk di bangku MAK. Mungkin di antara kita tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Mungkin juga sebagian kita justru baru beberapa bulan yang lalu bertemu dengannya, bercengkerama dan bercerita. Mungkin ada pula yang hitungannya hanya beberapa jam sebelum kepergiannya, sempat berkomunikasi lewat BBM. Namun takdir berkata lain.

Akhirnya tangis kita tak terbendung. Air mata kita tumpah saat orang tuanya mengungkapkan kronologi kejadian meninggalnya almarhumah. Suaranya terasa berat. Semakin berat. Air matanya deras mengalir. Tak kuasa memendam rasa duka di hati. Sesekali sang bapak melepas kacamatanya untuk menyeka mata yang berair agar dapat melanjutkan kata-katanya. Tak ketinggalan sang ibu meratapi anaknya yang justru malah mendahului dirinya. Sekali lagi ternyata takdir berkata lain.

Sesuai dengan rencana, setelah dzuhur kita menyempatkan diri berdoa bersama di hadapan pusara. Lagi-lagi tangis kita pun pecah saat melihat gundukan tanah yang masih basah penuh taburan bunga yang tertulis atas nama sahabat kita. Sahabat yang tidak pernah menyerah atas derita yang dirasa selama 5 tahun menahan sakit ginjal. Tidak ada keluh kesah. Sahabat kita yang hebat itu Yuyun Yurnaningsih. Dia telah meninggalkan kita selamanya dan meningalkan suami dan anaknya yang masih kecil pada hari Jum'at, 18 april 2014 Pukul.17.45 WIB
Selamat jalan sahabat! Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu‘anha


Traveling ala Backpacker

Berbekal tiket promo murah yang sudah diburu sejak 2 bulan yang lalu, akhirnya pada tanggal 4 April 2014 perjalanan ini dimulai. Sebuah perjalanan yang sarat pengalaman dalam suka dan duka bagi kami, saya dan istri. Apapun itu, sesungguhnya setiap perjalanan kemanapun menjadi sumber ilmu yang sangat berharga karena pengalaman adalah guru yang terbaik. Terlebih traveling ini pun dilakukan ala backpacker.

Dengan menggunakan maskapai Tiger Airways dari Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta, tepat pukul 07.30 WIB pesawat take off menuju Singapura. Penerbangan Jakarta-Singapura memakan waktu hanya 1 jam 15 menit namun karena waktu Singapura 1 jam lebih cepat daripada waktu Jakarta maka tiba di Changi International Airport pukul 09.45 waktu Singapura.

Sungguh sangat disayangkan jika tiba di Changi International Airport melewatkannya begitu saja apalagi bagi yang pertama kali, Kita dapat menikmatinya dengan berjalan santai ke sana ke sini mengunjungi beberapa gerai toko yang tertata rapih bak berada di sebuah supermall nan megah.
Tentu saja bukan untuk membeli sesuatu tapi hanya sekedar melihat harga yang tertera dalam benda-benda yang dipajang itu. Setelah menganggukan kepala berkali-kali kami pun lantas keluar di toko tanpa banyak bicara. Maklum perjalanan ini ala backpacker kawan!

Permadani terhampar luas. Suasana ramai tapi tidak gaduh. Lampu penerang sekaligus penghias dipasang di beberapa titik menambah suasana nyaman berlama-lama di bandara mewah ini. Tersedia pula fasilitas kereta yang terkoneksi antar terminal dalam bandara. Namun sayangnya karena keterbatasan waktu tidak sempat menikmati fasilitas ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Itu artinya destinasi berikutnya telah menanti.

Setelah menukarkan rupiah ke dolar singapura yang nominalnya makin menciut, palang pintu pertama yang harus dilewati sebelum masuk Singapura adalah imigrasi yang terkenal angker. Tidak banyak pertanyaan petugas karena semua dokumen telah lengkap selengkap-lengkapnya. Kalau perlu surat keterangan RT/RW disiapkan. Hati pun terasa lega. Kini saatnya berpetualang ke dua negara sekaligus; Singapura dan Malaysia. Ibarat pepatah melayu, sekali dayung dua negara terlampaui.

Karena di Singapura direncanakan hanya satu hari, maka kami membeli STP (Singapore Tourist Pass) one day seharga $10. STP adalah kartu pass yang bisa digunakan untuk menaiki transportasi umum di Singapura secara tak terbatas. Kita cukup membeli kartu ini, dan kita bisa naik angkutan umum MRT, LRT serta bus berulang kali tanpa membayar lagi. Kartu ini lebih praktis karena tidak perlu mengantri kembali untuk membeli kartu standar setiap melakukan perjalanan dengan naik kendaraan umum. Kartu ini pun dan dapat direfund di beberapa ticket office setelah tidak kita gunakan lagi dengan batas waktu tertentu.

Shalat Jum’at di Singapura
Sesuai itinerary yang sudah dibuat, shalat jum’at ditunaikan di Masjid Jami’ Sultan di wilayah Bugis, semacam kampung Arab-Melayu. Rute untuk mencapai lokasi ini pun cukup mudah karena peta MRT ini sangat jelas. Dengan kartu STP kita bisa menggunakan MRT dari Changi International Airport, kemudian transit di Stasiun Tanah Merah untuk melanjutkan perjalanan ke Bugis Street.

Saat shalat jum’at Singapura sempat diguyur hujan padahal sudah berbulan-bulan langitnya tidak lagi menurunkan air meski setetes. Khotib jum’at tadi juga sempat menyinggung dalam khutbahnya tentang hemat air dan shalat istisqo. Alhamdulillah, semoga hujan ini mendatangkan rahmat bagi Singapura.

Selepas jum’atan, panas matahari kembali menyengat. Langit menjadi terang benderang. Orang-orang pun kembali hilir mudik beraktivitas dengan kesibukannya masing-masing. Di tengah terik, perut tak lagi kuasa menahan rasa lapar dan dahaga. Saatnya mencari sumber kehidupan. Tentu saja bukan di restoran elit yang bisa menguras banyak dolar tapi cukup tempat makan yang terjangkau dan halal, KFC. Sialnya tempat makan ini tidak menyediakan nasi padahal sedari pagi belum ketemu nasi walaupun sebetulnya sudah makan roti bertumpuk-tumpuk di Bandara Soekarno Hatta. Karena belum makan nasi rasanya belum afdhol makan.

Energi sudah terisi penuh. Semangat kembali menyala. Siang itu juga perjalanan dilanjutkan ke destinasi utama yaitu Merlion Statue, sebuah ikon Negara Singapura yang berbentuk badan ikan tapi kepalanya singa. Kata orang, ke Singapura tanpa berkunjung ke lokasi ini rasanya seperti lulus kuliah tanpa wisuda. Kebayang kan kawan? So, kunjungan ke sini menjadi wajib!
Dari Bugis street kita dapat menyusuri hutan beton yang menjulang-julang dengan jalan kaki. Bingung? Tanya kanan kiri pasti sampai tujuan. Masyarakat disini sangat informatif dan negara ini sangat menghargai para pejalan kaki dengan fasilitas pedesterian yang luas.

Waktu menunjukan pukul 15.00, langit Singapura sangat cerah secerah hati kami yang telah menuntaskan destinasi utama ke Singapura. Perjalanan dilanjutkan ke Little India sekedar untuk membeli souvenir yang tentu saja murah, bukan ke Orchad Street yang terkenal sebagai surga belanja buat mereka yang berkantong tebal. Kali ini perjalanan mencoba menggunakan bis sekaligus merasakan bagaimana nyamannya naik bis umum di Singapura. Setelah bertanya ke kanan kiri naiklah bis 131. Modalnya tentu saja STP, yang bisa digunakan selain untuk naik monorail, kartu ini juga dapat digunakan untuk naik bis kota. Cukup tapping STP di mesin samping sopir, langsung tancap gas. Taaaarik mang!

Sesuai dengan namanya Little India tentu saja semuanya serba India. Bau dupa yang menyengat, lalu lalang orang yang berpenampilan ala India hingga suara musik dari toko-toko sekitar yang memperdengarkan lagu-lagu dari film bollywood. Hmm...aca..aca..sambil geleng-geleng kepala, serasa di New Delhi. Tujuan ke Little India ini adalah ke tempat belanja favorit para Backpacker yang tidak menguras isi dompet, Mustofa Center.

Hari semakin sore, waktu menunjukkan pukul 16.30. Matahari di langit Singapura mulai redup. Dolar makin menipis. Sesuai dengan rencana perjalanan yang sudah dibuat, maka destinasi berikutnya adalah Kota Kuala Lumpur Malaysia. Sebetulnya banyak tersedia bis bahkan kereta dari Singapura tujuan Kuala Lumpur langsung, namun karena pertimbangan ekonomis perjalanan ke Kuala Lumpur ini dimulai dari Johor Baru. Uang yang digunakan di wilayah ini tentu saja RM yang nilainya jauh lebih rendah dari $. Termasuk biaya perjalanan naik bis inipun dicas ringgit

Dari Little India menggunakan MRT menuju Stasiun Kranji lalu dilanjutkan dengan bis Causeway Link/170. Karena bertepatan dengan akhir pekan ternyata di luar stasiun ini banyak sekali warga Singapura yang hendak menyebrang ke Johor Baru dengan menggunakan bis. Akhirnya harus mengantri panjang. Sesaat kemudian bis menuju perbatasan datang, dalam waktu singkat sudah terisi penuh penumpang. Meski cukup sesak kondisi bis tetap nyaman.

Setiba di Gedung Imigrasi Singapura, orang-orang sedikit berlari untuk mengantri lebih awal di pos pemeriksaan. Meski hari ini sangat banyak orang yang hendak keluar Singapura, namun antrian cepat terurai karena banyaknya petugas yang melayani pemeriksaan dan stempel paspor. Setelah itu antrian kembali mengular untuk naik bis menuju pos pemeriksaan Malaysia yang berlokasi di JB Central. Dalam JB Central terdapat stasiun kereta tujuan Kuala Lumpur, namun karena rencana awal ke Kuala Lumpur menggunakan bis maka perjalanan dilanjutkan ke Larkin. Terminal bis jarak jauh ini cukup rapi meski banyak calo-calo yang menawarkan tiket. Bis di sini pun datang dan pergi sehingga walaupun tidak sebesar Terminal Kampung Rambutan kondisinya cukup tertata rapi. Tidak ada bis yang berhenti lama menunggu penumpang di Plat Form. Tersedia pula toko-toko makanan, pakaian hingga mainan. Untuk keperluan shalat terdapat juga masjid yang cukup luas di lantai 3.

Tepat pukul 00.30, bis dengan tarif RM27 berangkat menuju Kuala Lumpur. Kondisinya sangat nyaman, full AC dan luas. Perjalanan ditempuh selama 5 jam. Waktu yang cukup untuk melepas lelah setelah seharian berjalan serba cepat baik saat keliling Kota Singapura maupun saat menaiki dan menuruni tangga di border imigrasi Singapura dan Malaysia. Juga saat berdiri dalam antrian yang mengular untuk menunggu giliran masuk bis lintas negara. Tidur pun sangat lelap, ditemani mimpi.

Bis mulai memasuki Kota Kuala Lumpur. Di tengah kegelapan tiba-tiba segerombolan orang bertopeng menghentikan bis secara mendadak. Sang sopir sekuat tenaga menginjak rem. Bis sedikit oleng. Di tengah kegaduhan penumpang masuklah gerombolan itu dalam bis dengan senjata api yang terkokang di tangan, berteriak-teriak dan memukul pintu secara kasar. Semua penumpang kaget bukan kepalang. Tidak ada satu penumpang pun yang berani menegakkan kepala atau sekedar melihat wajah para perampok yang memang gelap. Suasana semakin mencekam dan badan terasa bergetar hebat saat satu persatu semua penumpang ditanya. Jantung rasanya mau lompat. Tulang-tulang berubah menjadi lunak tak mampu lagi menopang tubuh yang sudah lemas. Saat giliranku dia menepuk bahu. Semakin lama semakin kencang hingga membangunkan tidurku. “Bangun...bangun...sudah sampai Terminal Puduraya Pak”. Sambil mengusap mata, semua barang dikemas karena bis telah sampai.

Sabtu, 05 April 2014
Wellcome to Kuala Lumpur
Pagi masih buta. Langit Kuala Lumpur masih gulita. Jam menunjukkan angka 5. Jalanan pun masih sepi. Satu dua taksi lewat mencari penumpang. Bis berhenti di Terminal Puduraya, salah satu terminal di Kuala Lumpur yang cukup besar. Lantai 1 untuk parkiran bis dengan berbagai tujuan jarak jauh. Lantai 2 sebagai ruang tunggu penumpang dan lantai 3 terdapat fasilitas musholla dan layanan kereta dalam kota. Sambil menunggu waktu shubuh tiba pukul 06.00 sisa waktu singkat ini dimanfaatkan untuk beristirahat di ruang tunggu dengan membiarkan mata yang masih ingin terpejam.

Pukul 08.00 matahari pagi diujung timur mulai merangkak naik. Sinarnya menyelinap dari balik gedung-gedung tinggi menjulang menerangi langit Kuala Lumpur yang mulai terang perlahan. Hari ini tidak terlalu diburu waktu sehingga setelah membersihkan diri di terminal Puduraya langkah pertama yang dituju adalah tempat makan. Menu sarapan kali ini adalah nasi lemak dan teh tarik yang hangat. Hmm....nikmatnya, alhamdulillah. Destinasi pertama yang dikunjungi di Kuala Lumpur ini adalah Batu Cave, sebuat tempat ibadah umat Hindu sekaligus lokasi wisata yang terletak di ujung Kuala Lumpur.

Karena dari Puduraya tidak menemukan bis kota yang langsung menuju Batu Cave, akhirnya untuk mencapai lokasi harus menggunakan bis 2 kali. Tidak banyak penumpang yang naik turun bis. Jalanan masih sepi dan tidak ada kemacetan. Mungkin karena hari ini hari Sabtu, hari libur bagi para pekerja formal. Ongkos bis RM1.

Patung berwarna kuning keemasan di samping mulut goa menyambut kedatangan setiap pengunjung di Batu Cave. Tingginya yang menjulang dan warnanya yang mentereng membuat patung ini sudah terlihat dari kejauhan. Banyak mengunjung yang hadir. Terutama mereka yang hendak melakukan ritual ibadah di tempat suci ini. Meskipun begitu kehadiran para pengunjung lain yang bertujuan wisata tidak menggangu kekhusuan mereka. Mulutnya terus menerus melapalkan sesuatu sambil berjalan cepat menaiki tangga demi tangga tanpa alas kaki menuju mulut goa yang di dalamnya ada tempat ibadah. Luar biasanya tangga itu berjumlah 264 anak tangga. Betul, angka tersebut didapat saat kaki mulai melangkah sambil menghitung. Sayangnya saat turun angka itu berbeda. Entahlah kawan!

Waktu sudah mulai beranjak siang. Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati air kelapa yang melegakan tenggorokan, perjalanan dilanjutkan ke penginapan yang sudah dibooking sebelumnya seharga RM60. Lokasinya cukup strategis di pusat keramaian kota Kuala Lumpur yaitu Bukit Bintang. Dari Batu Cave menaiki kereta menuju KL Central. Kemudian dilanjutkan dengan monorail sampai Bukit Bintang. Alhamdulillah, akhirnya dapat beristirahat di hotel yang sudah dipesan lewat booking.com. Meski kamarnya sangat kecil dan murah namun tetap bersih. Petugas hotel yang berasal dari Bangladesh ini pun sangat friendly. Terlebih saat ngobrol ngalor ngidul cerita tentang pengamalannya bekerja di Kuala Lumpur yang baru 6 bulan.

Sore menjelang, destinasi berikutnya adalah Twin Tower Petronas. Menara kembar tertinggi di dunia ini menjadi icon sekaligus kebanggaan masyarakat Malaysia. Berlokasi di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC). Dari Bukit Bintang naik Monorail ke Stasiun Bukit Nanas, lalu berjalan kaki sejauh 300 meter menuju ke stasiun Dang Wangi untuk melanjutkan perjalanan dengan LRT (Light Rail Transit) menuju ke KLCC. Tiba di sini, kemegahan dan keindahan menara semakin terasa di tengah himpitan gedung-gedung tinggi menjulang. Masing-masing pengunjung sibuk mencari spot terbaik untuk melakukan pemotretan. Termasuk kami.

Ada pemandangan yang tidak menarik saat makan kari kambing di sebuah restoran seberang menara. Rasa sedih di dada melihat seorang pelayan restoran dimarahi oleh pemiliknya lantaran hanya gara-gara masalah sepele. Belakangan diketahui setelah tidak sengaja minta tolong untuk foto di luar tempat makan ternyata pelayan muda itu orang Malang Jawa Timur yang baru bekerja 8 bulan di Malaysia.

Puas berlama-lama di sekitar menara, menjelang magrib kembali ke penginapan. Kali ini menggunakan bis gratis yang telah tersedia di halte Petronas menuju Bukit Bintang. Hari semakin malam. Lampu-lampu mulai terang menghiasi kota Kuala Lumpur yang eksotis. Keramaian Bukit Bintang yang penuh dengan pusat perbelanjaan menghipnotis siapapun yang masuk dalam pusarannya. Siang malam tak ada bedanya, tetap ramai. Karena perjalanan masih harus dilanjutkan besok hari, saatnya beristirahat merebahkan badan yang telah diterpa lelah. Mengumpulkan tenaga yang masih tersisa untuk destinasi berikutnya. Bismika Allahumma Ahya Wa Bismika Amut.

Ahad, 6 April 2014
Matahari pagi mulai memancar terang. Jalanan masih saja sepi oleh lalu lalang kendaraan. Mungkin karena hari ini masih libur. Sebelum kembali ke Indonesia destinasi hari ini adalah Putra Jaya, lokasi kantor pemerintahan Ibu Kota Malaysia yang tertata sangat rapi sampai dijadikan destinasi wisata.

Untuk memenuhi asupan tenaga, kali ini menu sarapannya adalah roti cane. Tentu saja dengan ditemani teh tarik yang hangat dan nikmat. Dari Bukit Bintang naik monorail menuju KL Sentral. Perjalanan ke Putra Jaya dilanjutkan dengan KLIA Transit, turun Stasiun Cyber Jaya. Di sini bis wisata untuk mengelilingi Putra Jaya telah tersedia dengan tarif hanya RM 2 setiap orang.
Bercampur dengan pengunjung lain dari berbagai negara kita difasilitasi guide yang menjelaskan tentang seluk beluk bangunan. Bis berhenti di beberapa spot untuk memberikan kesempatan para pengunjung sekedar mengabadikannya dengan gambar. Soal pemotretan kita harus pintar-pintar bernegosiasi dengan wisatawan asing lain supaya bisa saling foto bergantian. Saat itulah berkenalan dengan sepasang turis dari Vietnam. Adapula turis Uzbekistan yang selalu mengucap salam setiap minta tolong difoto. Mungkin karena istri saya berjilbab.

Menjelang waktu dzuhur tiba bis kembali lagi ke Stasiun Cyber Jaya. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA) menggunakan kereta. Setelah check in dan pemeriksaan dokumen imigrasi di bandara kami kembali ke negeri tercinta, Indonesia.

Magic of Football


Sepak bola telah menjadi sihir bagi para penggemarnya. Sihir itu telah mempengaruhi sebagian dari hidup; gaya dan pola hidup hingga mata pencaharian. Coba kita perhatikan di sekeliling kita atau mungkin termasuk kita sendiri, di antara kita senang sekali memakai jersey  klub sepak bola atau tim nasional negara favorit kapan dan dimanapun, tak peduli soal momentum. Adapula yang menggantungkan mata pencahariannya terkait dengan urusan sepak bola. Kini tidak hanya laki-laki yang menyukai sepak bola tapi juga kaum hawa. Tua ataupun muda.

Bagi penggemar, waktu bukanlah persoalan. Meski di tengah malam, pertandingan tetap penting untuk dinanti. Berbagai cara dilakukan untuk mempersiapkan soal itu. Jam tidur rela dikurangi demi menjadi salah saksi dari jutaan orang yang menonton saat tim favorit berlaga.

Banyak cara mengekspresikan kegandrungan. Salah satunya diwujudkan dengan cara mendatangi langsung stadion sepakbola setiap ada pertandingan. Stadion hampir selalu penuh disesaki para fans. Terlebih tim-tim yang bertanding adalah tim-tim besar. Berbagai cara dilakukan untuk mendukung tim. Segala atribut, aksesoris hingga panji-panji kebesaran ditunjukkan kepada khalayak dengan penuh kebanggaan. Teriak kesemangatan dan rasa setia supporter terhadap tim menjadi pil kuat bagi para pemain. Bahkan bisa dikatakan mereka seolah-olah menjadi pemain bola yang ke-12.

Karena jenis olahraga ini banyak penggemarnya tentu saja memiliki daya tarik luar biasa buat para insan bisnis. Klub-klub sepak bola menjadi sarana efektif untuk melakukan promosi produk. Berbagai perusahaan berani menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk itu. Besarnya sokongan dana sponsor seiring sejalan dengan besarnya nama klub. Disitulah sesungguhnya letak sibiosis mutualisme keduanya. Sama-sama untung. Kita tahu bahkan keuntungan itu tidak hanya bersumber dari sponsor saja, ada pula dari bisnis penjualan tiket, jersey hingga aksesoris resmi klub. Intinya sepak bola telah menjadi sebuah industri. Televisi berebut untuk mendapatkan hak siar pertandingan. Tidak heran bila gaji para pemain dan coach sangat besar.

Akan bertambah besar pendapatannya bila disertai dengan prestasi. Bahkan di antara mereka gara-gara olah raga ini menjadi kaya raya. Kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar telah merubah kehidupan mereka dari sebelumnya miskin. Tentu untuk menjadi pemain top tidak seperti sim salabim yang begitu saja dapat “menjadi” tetapi memerlukan proses yang tidak mudah dan waktu yang tidak singkat. Ketekunan berlatih, kemauan dan kerja keras mungkin menjadi kata kunci dalam proses ini. Bila sudah “menjadi” maka nama besar mereka seolah menjadi jimat tersendiri bagi tim. Lebih dari itu pengaruhnya juga merambah ke luar urusan sepakbola. Nilai transfer pun meningkat.

Beruntung kini kita tidak perlu bersusah payah untuk datang jauh ke Eropa karena semua dapat disaksikan cukup duduk manis di depan televisi atau berbaring dengan berbagai macam gaya. Sajian ini menjadi hiburan tersendiri bagi para penggilanya. Keindahan sepak bola yang diramu berbagai macam trik dan intrik dipertontonkan liga-liga Eropa dan Liga Champion; Spanyol, Inggris, Italia, Perancis dan Jerman. Negeri kita pun diramaikan dengan Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia.

Saat pertandingan berlangsung tidak hanya dialami para pemain, kita pun turut terlibat emosi. Tegang, was was, penasaran, senang, sedih bercampuraduk tak beraturan sebagaimana bola menggelinding kemanapun ia ditendang. Tangan meninju ke atas disertai teriakan kegirangan manakala tim kesayangannya memperoleh kemenangan. Sebaliknya wajah tertunduk lesu sebagai ekspresi kekecewaan atas kekalahan. Hal-hal yang diakibatkan oleh semua itu dapat dikatakan sebagai The magic of football.

Kawan, kesetiaan dan kecintaan kita terhadap sebuah klub seyogyanya tidak menjadi alasan kita untuk membenci orang lain yang bersebrangan dengan kita. Semua hanya permainan. Tidak lebih dari itu. Menang atau kalah akan bergulir sebagaimana bola itu itu sendiri adalah bulat.

Pontianak, 27 April 2013
Pukul. 05.40 WIB


Menuju Puncak Gunung Gede-Pangrango

Setelah melakukan pendaftaran 1 minggu sebelumnya melalui website resmi, pendakian dimulai dari Gunung Putri Cianjur, salah satu pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango selain Selabintana di Sukabumi dan Cibodas di Cianjur. Saat sore menjelang, saya dan 2 orang teman lainnya melapor ke Petugas Pos di kaki Gunung. Berbekal ijin itulah pendakian Gunung Gede dimulai.

Dalam catatan wikipedia.org, Gunung Gede merupakan sebuah gunung yang berada di Pulau Jawa, Indonesia.Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede-Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.Gunung ini berada di wilayah tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian 1.000 - 3.000 m. dpl. Suhu rata-rata di puncak Gunung Gede18 °C dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 °C, dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm/tahun.

Gunung Gede diselimuti oleh hutan pegunungan,yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya. Hutan pegunungan di kawasan ini merupakan salah satu yang paling kaya jenis flora di Indonesia, bahkan di kawasan Malesia.Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara.

Sebagai pemula tentu pendakianini terasa berat mengingat ketinggian gunung melebihi 2000 dpl dengan track yang cukup terjal. Orang-orang mengkategorikannya dalam pendakian tingkat sedang. Hujan terus menerus mengguyur dengan derasnya memperberat beban cariel punggung yang berisi keperluan selama perjalanan dan di lokasi tujuan. Sungguh ternyata pendakian ini menguras fisikyang luar biasa, sayangnya tidak ada persiapan khusus soal itu, terutama jogging untuk memperkuat otot kaki dan paha ataupun sit up untuk memperkuat otot perut dan pernapasan.

Pos Pertama
Setelah 1 jam memasuki kawasan hutan gunung, tiba-tiba didera rasa lelah fisik dan mental luar biasa. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di pos pertama untuk memulihkan tenaga karena sebelumnya memang telah terkuras selama perjalanan dari Bogor ke Cianjur. Disertai gerimis yang menambah dinginnya angin pegunungan, tenda dipasang untuk sekedar jadi tempat bernaung. Perut diisi dengan bekal secukupnya dan sholat ditunaikan sambil berharap mendapat kekuatan dari Dia Al-Qowy .

Malam semakin larut. Udara bertambah dingin dan gerimis pun mulai reda. Kami merebahkan diri menjelajahi mimpi dengan perlengkapan sleeping bad  untuk penghangat suhu badan. Meski hanya berbantalkan tumpukan cariel mata dapat terpejam lelap diiringi murotottal Syekh Junaidi juz 29 yang terdengar mengalun merdu dari tape kecil di pojok tenda. Tuhan, terimakasih Engkau telah memberikan banyak kenikmatan sampai hari ini. Bismika Allahumma Ahya Wa bismika amut

Malam mulai pekat. Suara-suara jangkrik, katak, burung malam dan binatang kecil lainnya saling bersahutan. Tetesan air terdengar padu dari celah-celah pohon yang menimpa dedaunan. Bunyi gemeretak tak beraturan dari patahan ranting-ranting pohon yang telah rapuh jatuh saling berbenturan terhempas hembusan angin malam.

Waktu menunjukkan pukul 00.01 WIB, pertanda hari telah berganti. Kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Gede. Tenda dan barang-barang lain dikemas seperti semula. Setelah berolah raga kecil untuk memastikan kesegaran badan dan membersihkan sampah-sampah sisa makanan kami memantapkan diri melanjutkan perjalanan.Tiba-tiba 2 orang pendaki lain yang baru tiba di lokasi kami berkemah meminta untuk bergabung. Semangat kian menggumul merasuki aliran darah kami. Rasa takut kegelapan berganti kekuatan tekad. Niat pun menjadi kuat meski beban cariel  rasanya bertambah berat karena terguyur hujan tadi sore.

Berbekal sorotan terang dari lampu senter yang mulai tampak redup, mata dapat menyapu pandangan meski terbatas. Kaki mulai melangkah menyusuri jalur pendakian. Sesekali berhenti sejenak meneguk bekal air minum yang masih tersisa untuk sekedar menghilangkan dahaga yang menyekat tenggorokan. Jalur terkadang datar, kadang pula terjal. Mungkin karena jalurnya melingkar. Rasa dingin terkalahkan oleh bulir-bulir keringat yang keluar dari pori-pori.

Jalur pendakian diapit pepohonan berjajar rapat menjulang tinggi dengan kekarnya dan ditopang oleh akar kuat yang mencengkram perut bumi seolah ingin menunjukkan kewibawaan usianya kepada manusia yang melintas. Tumbuhan kecil merangkak naik meregenerasi pohon lain yang telah lapuk dimakan zaman. Serakan daun-daun berwana coklat kehitam-hitaman menutupi tanah pijakan yang lembab hingga bebatuan. Kabut turun menyelimuti udara yang semakin dingin menggigil. Jejak-jejak para pendaki di tanah dijadikan arah agar tidak tersesat di jalan.

Di ujung mata tampak titik temaram cahaya dalam kegelapan. Kami mendekat menghampiri. Cahaya semakin jelas dilihat. Sekumpulan pendaki lain tengah beristirahat sambil memasak makanan, mengisi perut yang sudah kosong.
Belum lama waktu berselang kami pun berpapasan dengan pendaki lain yang hendak turun gunung berjumlah 3 orang. Jumlah ini memang batas minimal yang dipersyaratkan Pengelola Taman Nasional untuk mengantisipasi kejadian tak terduga. Kami saling menyapa meski tidak kenal. Memang, di tengah hutan yang gulita seperti ini rasanya bertemu dengan sesama pendaki lain menjadi penyemangat tersendiri. Minimal perasaan kita mengatakan “you are not alone”.

Taman Suryakencana
Setelah hampir memakan waktu 7 jam perjalanan pendakian, akhirnya kami sampai di Suryakencana, sebuah dataran taman bunga Edelweiss yang sangat luas. Bunga nya khas. Hanya tumbuh di sekitar puncak gunung. Konon bunga ini disebut bunga abadi. Pohonnya tidak lebih tinggi dari ukuran tinggi kita. Rerumputan menghampar bak karpet hijau yang tertata rapi, digurat oleh sungai kecil memanjang dan dialiri air jernih nan segar. Udara pagi terasa sejuk meski matahari memancarkan sinar terangnya. Semilir angin menyelinap dalam balutan pakaian yang telah lusuh. Dari kejauhan di ujung mata, tersingkap pemandangan kota Cianjur yang dikelilingi perbukitan indah bagai lukisan alam. Awan-awan putih berkumpul menambah kemolekan ciptaan Tuhan. Subhanallah, Dialah Yang Maha Indah.

Di tempat inilah hampir seluruh pendaki menghentikan langkah kakinya untuk menikmati kesejukan udara dan pemandangan indah meski dalam waktu yang tidak lama. Tidak terkecuali kami yang tiba di lokasi ini pukul 7 pagi. Suasana terasa ramai. Di antara mereka ada yang sedang memasak. Adapula yang sedang sibuk mencari lokasi terbaik untuk pemotretan meski dari kamera handphone pinjaman kawan. Bahkan sebagian pendaki sudah ada yang berkemah sejak malam agar bisa menikmati munculnya matahari dari balik gunung dengan warna keemasannya yang mempesona.

Setelah istirahat sejenak untukmengendurkan otot kaki yang mulai kaku, kami pun memasak bahan makanan pengisi perut yang mulai kerocongan. Seakan para pendaki telah sepakat, rasanya tidak ada lagi makanan yang mengenyangkan dan mudah dimasak selain mie instan. Tidak perlu berdebat soal kandungan gizi atau bahan pengawet yang ada di dalamnya. Bagi kami yang penting dapat menambah asupan energi baru. Terlebih perjalanan ke puncak masih memerlukan waktu beberapa jam lagi. Kami saling berbagi. Rasa kebersamaan tumbuh begitu saja sesama pendaki. Duh, indahnya kebersamaan.

Matahari mulai merangkak naik.Tepat jarum jam berhenti di angka 8 kami berkemas bersiap diri melanjutkan pendakian menuju puncak. Dengan berbekal air minum yang diambil dari aliran sungai kecil untuk persiapan perjalanan kami memulai perjalanan. Kali ini melintasi track terjal dan berkerikil. Mungkin kerikil-kerikil ini adalah bekas muntahan Gunung Gede yang memang masih aktif. Sepanjang perjalanan dari Suryakencana menuju Puncak Gede ditumbuhi pepohonan kecil yang tidak terlalu tinggi. Pucuk pohonnya berdaun merah.

Sesama pendaki yang sedang naik ataupun turun gunung saling menyapa dan melempar senyum. Sebuah ungkapan perasaan bahagia dari masing-masing pendaki karena tujuan hampir atau telah tercapai. Bau belerang mulai tercium hidung. Semakin menanjak semakin kuat dirasa. Itu pertanda kawah Gunung Gede telah dekat. Suara bising terdengar diujung telinga. Mungkin mereka tengah melampiaskan kegembiraannya.

Puncak Gede
Jam hampir menanjak pada angka 10 pagi kami telah sampai di Puncak Gede. Senyum mengembang dari para pendaki. Bendera Indonesia berkibar-kibar seperti halnya semangat kami yang menyala-nyala. Keletihan berganti kesegaran. Rasa haru dan puas terpancar. Semua karena merasa tujuan telah tercapai. Banyak pendaki laki-laki maupun perempuan, pendaki lokal maupun asing berdiri di bibir kawah yang hanya dibatasi pagar kabel berfose sambil menikmati pemandangan yang menakjubkan. Asap putih membumbung ke atas mengepul dari celah-celah belerang di pinggir danau kawah berwarna biru yang memanjang itu. Tidak ada satupun pohon yang tumbuh di tepi jurang. Mungkin karena ada hawa panas yang menggelak-gelegak dari dasar danau yang suatu saat atas izin-Nya akan menggelegar memuntahkan isi beban perutnya.

Allah Maha Besar.
Kebesarannya ditampakkan melalui salah satu Gunung ini. Di sinilah sesungguhnya saat yang paling tepat bila kita ingin merenung lebih dalam dengan memperhatikan ayat-ayat-Nya. Betapa kecilnya kita meski sudah di puncak gunung. Kita tidak akan terlihat meski hanya setitik dari sudut manapun di ujung bawah sana. Tidak ada yang lebih besar selain Dia Yang Maha Besar. Allahu Akbar!

Sehebat apapun kita. Tidak ada kuasa sedikitpun atas alam bila tiba-tiba kawah bergerak menelan apa yang ada di atasnya dan memuntahkannya ke penduduk yang ada di bawahnya. Hanya Dia yang berhak sombong. Dialah al-Muttakabbir. Dialah as-Shomad dan Dialah al-Kabir. Sekali lagi, saya, anda atau siapapun kita semua adalah kecil di hadapan Sang Penguasa Alam Raya ini.

Gunung Gede-Pangrango, 6-7 April 2013


Di Sebuah Negeri……

Di sebuah negeri, seorang raja menulis sebuah sayembara. Dalam sayembara tersebut tertulis; “Wahai rakyatku, Barang siapa di antara kalian berhasil menyebrangi sebuah kolam istana, maka akan aku anugerahi ia 2 (dua) hadiah; Pertama aku nikahkan ia dengan putriku, Kedua; aku angkat ia menjadi putra mahkotaku. Melalui sekretarisnya, sayembara itu kemudian disebar melalui koran, televisi, radio, facebook, twitter dan lain-lain.

Keesokan harinya, karena tergiur dengan 2 hadiah tersebut berkumpullah ribuan calon peserta sayembara di depan kolam istana kerajaan. Di antara mereka ada yang muda, tua bahkan kakek-kakek bercucu tiga.

Berselang beberapa waktu, sang raja keluar dari istananya dan berpidato di hadapan para calon peserta sayembara.
“Wahai rakyatku, terima kasih kalian telah memenuhi undanganku. Pada kesempatan ini ingin kutegaskan kembali, siapa di antara kalian yang mampu menyebrangi kolam istana ini, maka aku akan anugrahi ia 2 hadiah; Pertama aku nikahkan ia dengan putriku, Kedua; aku angkat ia menjadi putra mahkotaku”.

Mendengar pengumuman tersebut semua calon peserta gemuruh bertepuktangan. “Tapi tunggu dulu wahai rakyatku” lanjut Sang raja. “Aku perlu ingatkan kepada kalian bahwa kolam ini berisi ribuan ikan Piranha”. Sebagai bukti Sang Raja pun meminta kepada anak buahnya untuk menceburkan seekor kerbau. Dalam hitungan detik kerbau tersebut habis dilalap ikan Piranha. Melihat kejadian menakutkan ini, banyak peserta mengundurkan diri.

Tiba-tiba ada seorang pemuda berperawakan kurus kering melompat ke dalam kolam, kemudian dengan secepat kilat ia berenang menuju ke tepian. Akhirnya ia pun berhasil. Semua peserta terkagum-kagum dengan keberanian pemuda itu. Gemuruh tepuktangan tiada henti sebagai rasa bangganya mereka kepada pemuda pemberani itu.

Dengan rasa senang, Sang raja memuji-muji pemuda tersebut. Ia bertutur “Luar biasa, sungguh anda luar biasa hai pemuda! Sesuai janjiku, aku akan menghadiahi engkau 2 hadiah; menikahi putriku dan  kuangkat engkau menjadi putra mahkotaku”

“Tunggu paduka” Potong sang pemuda. “Ampun beribu-ribu ampun, Paduka. Sebelum Paduka memberi hadiah kepada hamba, hamba ingin tahu siapa yang mendorong hamba dari belakang sehingga hamba tercebur ke dalam kolam”. Lanjut pemuda dengan rasa penasaran.

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita ini?


Geliat Malam di Kota Pontianak

Matahari beranjak pergi meninggalkan ufuknya dan malam pun menjelang menggantikan siang. Semilir angin bertiup perlahan menemani sang rembulan yang tengah purnama. Seakan dia lah yang memberi cahaya di tengah pekat malam. Subhanallah Yang Maha Mencintai keindahan.

Malam ini di kota Pontianak sebagian orang mungkin sedang beristirahat melepas lelah setelah siang hari mereka bekerja di ladang, di pasar atau di perkantoran. Namun sebagian lagi ada yang baru memulai kehidupan.

Di antara mereka ada muda mudi yang sedang asyik maksyuk di alun-alun pinggir sungai Kapuas sambil menikmati indahnya temaram cahaya lampu dan deburan ombak saat dilintasi kapal-kapal besar. Adapula sekumpulan orang yang tengah menyeruput kopi hangat dan pisang goreng Pontianak yang terkenal itu sambil mengobrol soal banyak hal yang mungkin mereka sendiri tidak tahu ujung pangkalnya.

Beberapa area kosong mulai disi oleh tenda-tenda pedagang pecel ayam atau pecel lele yang siap menyajikan menu khasnya untuk memenuhi keinginan perut mereka yang sedang begadang malam baik karena urusan pekerjaan atau hanya sekedar menikmati malam.

Tepat pukul 21.00 WIB, jalanan dipenuhi bis-bis besar jurusan Pontianak-Kuching/Brunei Darussalam yang mulai bergerak membelah malam mengantar penumpangnya ke tempat tujuan. Bis-bis ini sampai ke pintu perbatasan Indonesia-Malaysia di Entikong waktu shubuh. Tepat pukul 06.00 WIB pintu perbatasan pun dibuka.

Yang lebih menarik dari itu, di pinggiran sepanjang jalan Teuku Umar durian terhampar dijajakan oleh para pedagangnya. Bagi mereka yang maniak durian, di sinilah tempatnya. Selain karena harganya yang murah, kenikmatannya pun tidak kalah dari durian impor. Makin malam makin ramai orang berkumpul. Belum habis durian dibeli orang sudah datang lagi mobil-mobil mengantarkan durian dari daerah perbatasan ini. Konon durian ini berasal dari hutan-hutan yang masih tersisa di Kalimantan.

Selamat Ulang Tahun Kota Pontianak ke -241. Terus berbenah agar lebih baik dari Kota Kuching di negeri tetangga


Rapat a la Tikus

Ratusan tikus tengah melakukan rapat akbar di sebuah lokasi yang sangat dirahasiakan. Saking rahasianya, tidak semua tikus tahu soal ini, apalagi kucing yang menjadi musuh bebuyutannya.

“Ini rahasia besar untuk masa depan anak cucu kita!” Tukas sang pemimpin rapat dengan nada tegas dihadapan perwakilan tikus-tikus yang berasal dari  mancanegara itu.

Rapat kali ini soal bagaimana caranya tikus-tikus hidup nyaman tanpa gangguan kucing. Demikian pentingnya urusan ini, rapat berjalan sangat alot. Masing-masing Negara mengajukan usulan dan saling berdebat satu sama lain untuk mencari sebuah solusi tepat dan cepat dalam upaya ketentraman hidup mereka.

Ada satu usulan yang sangat menarik hati pemimpin rapat bahkan peserta lainnya. Usulan tersebut dinilai sangat jitu. Dalam bayangan mereka dengan usulan ini hidup para tikus menjadi tentram karena mereka tahu kapan datangnya bahaya. Dengan demikian mereka dapat segera melakukan antisipasi yang cepat agar terhindar dari petaka itu.

Usulan salah seekor peserta rapat itu adalah mengalungkan leher kucing dengan kaleng. Dengan tergantungnya kaleng di leher kucing maka kemanapun ia pergi atau hanya sekedar bergerak saja sudah dapat terdengar suaranya. So, para tikus dapat segera menghindari bahaya itu.

Mendengar usulan yang luar biasa itu, para peserta rapat sangat bergembira. Gemuruh tepuk tangan terdengar membahana. Mereka kegirangan seakan beban seumur hidupnya telah terlepas. Hidup menjadi merdeka. Tidak ada lagi tekanan hidup. Jeratan yang membelengu mereka selama ini telah terurai. Bayang-bayang ketakutan telah sirna. Perasaan mereka pun ploong.

“Tok….tok…tok….!!” Pemimpin rapat berusaha menghentikan kebisingan peserta dengan memukul palu berkali-kali. Sang pemimpin pun melanjutkan ucapan:

“Wahai para peserta rapat, usulan ini betul-betul sangat luar biasa, namun siapa di antara kalian yang berani mengalungkan kaleng tersebut di leher sang kucing?”

Suasana tiba-tiba senyap. Tak ada suara dan gerakan apapun. Raut wajah mereka terlihat pucat tanpa ekspresi. Pandangan mata kosong dengan mulut ternganga. Semua diam.


Melongok Tapal Batas Negeri

Setiap perjalanan kemanapun kita akan menemukan pengalaman dan pengetahuan yang baru dan berbeda. Ini yang menjadi catatan penting buat kita untuk mencoba banyak belajar dari berbagai pengalaman. Bulan lalu saya berkesempatan melakukan perjalanan yang kali ini menelusuri perbatasan Indonesia-Malaysia melalui jalur darat. Meski memakan waktu yang lama dan melelahkan tapi tekad telah bulat; melongok tapal batas negeri ini!

Kalimantan memang pulau yang unik karena dihuni oleh 3 (tiga) Negara yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Karena itulah khusus di Kalimantan Barat ini tidak ada bis antar propinsi tapi yang ada adalah antar Negara. Jumlah bis ini pun dirasa cukup banyak baik yang dikelola Indonesia maupun oleh Malaysia atau Brunei Darussalam. Sayangnya keunikan ini belum terkelola dengan baik oleh Pemerintah Daerah setempat. Terbukti di Pontianak ini belum ada terminal khusus bis antar Negara sehingga tempat pemberangkatan atau kepulangan pun masih menyesuaikan lokasi kantor operator bis tersebut di pinggir jalan raya.

Perjalanan bermula dari Kota Pontianak menuju Kabupaten Sanggau dengan memakan waktu 5 jam. Kondisi jalan yang masih banyak lubang membuat kita harus hati-hati dan menjaga stamina tubuh agar tidak mabuk darat. Setelah selesai melakukan kegiatan di Kabupaten Sanggau keesokan harinya perjalanan dilanjutkan menuju border perbatasan di Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau dengan jarak tempuh 3 jam. Lagi-lagi kerusakan jalan semakin parah di Kabupaten Sanggau ini membuat jarak tempuh menjadi lebih lama.

Meski tidak terlalu lebar, kemulusan jalan baru terasa ketika masuk di jalur Internasional menuju Border Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau. Jalan yang berbukit dengan diapit oleh deretan pohon kelapa sawit dan terasa mengasyikan. Duren lokal dijajakan di tepi-tepi jalan cukup menggoda untuk beristirahat sekedar menikmati beberapa buah duren yang terkenal nikmat dan harum itu. Konon buah berkulit tajam itu dipetik dari hutan sehingga terjaga orisinalitasnya.

Sesampai di perbatasan, suasana lebih ramai. Sebagian orang berkerumun di warung-warung kopi. Sebagian yang lain berlalulalang di Gerbang Pos Pemeriksaan Imigrasi dengan membawa segepok uang Rupiah dan Ringgit di tangan sambil menawarkan penukaran uang. Menurut informasi yang didapat di sinilah salah satu jalur pintu masuk TKI kita ke Sarawak Malaysia dan Burunei Darussalam untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Motor dan mobil baik yang berplat Indonesia maupun Malaysia terparkir agak semrawut di ‘halaman’ Indonesia ini. Atapnya pun hanya potongan kardus sejadinya, yang penting kendaraan tidak terpanggang panasnya matahari.

Berbeda dengan suasana perbatasan Indonesia di Entikong, perbatasan Malaysia terasa sepi. Tidak ada rumah penduduk apalagi warung-warung yang dibangun sembarang tempat. Jalan-jalannya sangat lebar dan mulus. Rumput tertata rapi. Ah…..seperti beda alam saja.

Karena tidak membawa Paspor, perjalanan hanya diijinkan maksimal sejauh 2 KM saja wilayah Serawak Malaysia. Tepatnya hanya sekitar Tebedu saja. Di sinilah kita baru menemukan semacam Ruko atau Mini Market. Lagi-lagi suasana pun masih terasa sepi. Salah satu keluarga pedagang nasi nya pun kalau dilihat dari logat bahasanya adalah orang Jawa Timur meski menu makanannya adalah makanan khas Melayu. Uniknya di sini Rupiah dan Ringgit boleh digunakan. Di sini  juga terjadi perbedaan waktu, Malaysia mempercepat waktunya 1 jam meski sebetulnya hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari Negeri kita.

Pengalaman yang cukup menggelitik di sini adalah saat memesan nasi goreng. Mak Cik menghidangkan nasi goreng dan semangkuk air. Spontan saja tangan dicelupkan ke mangkuk yang agak hangat tersebut untuk cuci tangan sebelum makan . Ternyata eh ternyata….air dalam mangkuk itu adalah kuah untuk nasi goreng. Gubrak!

Ditahan di Imigrasi Singapura


Sebuah pengalaman yang cukup berkesan. Mengingat ini terjadi di Negeri yang terkenal sangat ketat. Karena ketatnya teroris sulit masuk ke Negara ini tapi tidak sedikit koruptor negara kita justru bisa bersebunyi di sini.

Meski bukan pertama kali, bagiku setiap perjalanan kemanapun menjadi pengalaman terbaik. Tahun 2011, saya kembali ke negeri ini bersama kawan-kawan lain dengan tujuan menambah wawasan dan pengalaman di luar negeri.

Setiba di Bandara Changi International Airport, aku mengantri di pintu imigrasi bersama dengan turis dari Negara lain. Sementara kawan yang lain di antrian sebelahku. Antrian pun terasa mengalir begitu cepat dan lancar. Kini giliranku berhadapan dengan petugas imigrasi Singapura. Akupun menyodorkan dokumenku sebagaimana turis lain melakukannya. Pasporku dibolak-balik sambil melihatku tanpa ekpresi.

“Your KTP?!” pinta petugas perempuan gemuk itu dengan suara ketus.
“Sorry, I don’t bring it, but this is my SIM” jawabku sambil menyodorkan SIM ku.

Kebetulan KTP ku tertinggal di rumah sehingga akupun menggantinya dengan SIM karena menurutku SIM juga adalah dokumen resmi.

Ia pun bertanya lagi soal tujuan dan alamat hotel tempatku menginap di Singapura. Bahkan sebelum aku meninggalkan imigrasi sang petugas memintaku nomor ponsel. Kutulisnya dalam secarik kertas yang ia sodorkan.

Meski dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan petugas imigrasi, pikiranku melantur melayang-layang penuh tandatanya. Kenapa hanya aku yang ditanya soal ini-itu, sementara kawan-kawan satu grupku lancar-lancar saja melewati petugas imigrasi. Aku pun berusaha menepis pikiran negatif yang menghinggap kepalaku agar liburan ini terasa lebih menyenangkan.

Setelah bermalam di Negeri Singa ini, keesokan harinya perjalanan dilanjutkan menuju Kuala Lumpur Malaysia melalui Johor Bahru dengan menggunakan bis. Paspor pun diperiksa sebelum masuk batas Malaysia. Mungkin karena menjelang akhir pekan, antrian pemeriksaan cukup panjang mengingat orang Singapura bila akhir pekan berbelanja keperluannya di Malaysia. Jalan raya di perbatasan kedua Negara ini cukup lebar, mulus dan tertata rapi sehingga kendaraan yang kami naiki berjalan sangat lancar tanpa hambatan.

City Tour di Malaysia dilakukan selama 2 hari. Kemudian kembali ke Singapura untuk melakukan perjalanan pulang ke Tanah Air melalui Changi International Airport. Lagi-lagi melalui prosedur pemeriksaan yang sangat ketat di Imigrasi Singapura.

Merasa tidak membawa sesuatu yang mencurigakan, aku pun mengikuti prosedur itu dengan tenang dan percaya diri. Tiba pas giliranku, petugas imigrasi memperhatikanku dengan mimik serius. Bahkan kali ini lebih detil. Mendapat perlakukan seperti itu, akupun berusaha untuk tetap tenang atau lebih tepatnya memaksa diriku untuk tetap bersikap tenang. Paling tidak aku tidak menampakkan kegusaranku di hadapan petugas perempuan berkacamata tebal itu.

Lagi-lagi ia memintaku menunjukkan KTP. Dengan suara dipaksakan sopan dan halus aku pun menyampaikan bahwa aku tidak membawa KTP. Kemudian aku sodorkan SIM sebagai pengganti KTP ku yang tertinggal.

Aku perhatikan sang petugas kali ini lebih detil memeriksa SIM. Pemeriksaan pun terasa lebih lama. Dibandingkannya foto yang tertera di SIM dengan wajah asli yang terpampang dalam wujud manusia ku. Ia bolak-balikan SIM-ku sambil sesekali melihat wajahku lagi tanpa ku tahu apa maksudnya. Meski ruangan ber-AC, tanpa kusadari butir-butir keringat mulai menggelembung. Aku berusaha mengingat selama perjalananku ke Singapura-Malaysia-Singapura.
Rasanya tidak ada satu pun pelanggaran negara yang aku lakukan.

Tiba-tiba terdengar di ujung telingaku.

“you have to go to the office” Ucap sang petugas sambil berjalan mengajakku menemui petugas lain di ruang kantor imigrasi Singapura.

Aku pun mengikutinya dari belakang sambil sekali lagi mencoba bersikap tenang meskipun sesungguhnya tentu saja ada perasaan khawatir. Khawatir dituduh teroris sebagaimana pernah 4 tahun yang lalu salah seorang rombongan kami saat melakukan study banding ke beberapa universitas di Malaysia-Singapura diinterogasi lantaran persoalan nama. Lontaran pertanyaan menggulung tak karuan di kepalaku. Apa mungkin nama dan wajahku mirip dengan DPO mereka. Apa karena aku pernah nyantri di beberapa pesantren yang konon pesantren pernah dituduh sebagai sarang teroris. Jangan-jangan Imigrasi Singapura mempunyai data sesat tentangku.

"Ah…bismillah" aku kuatkan mentalku.

Setiba di ruang kantor, aku “diserahkan” kepada petugas lain yang berseragam lebih lengkap. Seakan telah dipersiapkan sebelumnya, dua petugas telah siap menginterogasiku. Berbagai pertanyaan diajukan tentang maksud dan tujuan ke Singapura hingga pesawat terbang yang digunakan dan lain sebagainya. Di sinilah aku diberitahu kesalahanku bahwa SIM yang aku sodorkan teryata berbeda data bulan lahir dengan data di Paspor yang kumiliki.

“Astaghfirullah!” gumamku sambil meletakkan telapak tangan kanan di dadaku, meraba detak jantungku yang langsung berdegup kencang.

Aku pun dibuat kaget karena aku sendiri baru tahu soal kesalahan data tanggal lahir dalam SIM ku. Ya aku justru tahu dari penjelasan mereka, petugas imigrasi Singapura. Lebih lanjut mereka menyampaikan bahwa berdasarkan undang-undang mereka aku tidak bisa masuk Singapura karena ada double data bulan lahir itu. Konsekuensinya aku akan dideportasi ke Malaysia, Negara yang kusinggahi sebelum kembali masuk Singapura.

Alasan salah ketik pembuat SIM tidak bisa diterima oleh akal mereka. Aku berpikir luar biasa negeri kecil ini ternyata urusan semacam ini menjadi masalah besar buat mereka. Entah bagaimana jika mereka bertugas di Negeri ku. Aku kira mereka akan kewalahan mengurusi persoalan kesalahan data.

Hampir saja mereka menghubungi Maskapai untuk membatalkan penerbanganku ke Indonesia. Segera kupanggil tour guide untuk membantu permasalahanku. Kulihat ia mencoba melobby petugas imigrasi untuk mengijinkan aku masuk Singapura. Ia juga meyakinkan mereka bahwa aku adalah salah seorang pegawai pemerintah yang menangani pelatihan. Masuk Singapura hanya untuk transit pulang ke Tanah Air.

Sambil menanti hasil lobby, aku mencari kartu identitas lain untuk mendukung data yang benar. Kutemukan dalam dompetku kartu ASKES yang tertulis data kelahiranku sama dengan Paspor. Kusodorkan kartu itu di hadapan petugas untuk meyakinkan kepada mereka bahwa data di Pasporku adalah benar.

Alhamdulillah setelah memakan waktu 1 jam, akhirnya mereka mulai melunak sehingga mengijinkanku masuk Singapura. Namun sebelum aku keluar ruangan, sempat mereka panjang lebar memberikan “kuliah gratis” soal peraturan di Singapura. Karna keterbatasan penguasaan bahasa tidak semua omongannya bisa kumengerti.
Karena hanya bersifat saran, aku hanya menganggukkan kepala pertanda setuju dengan apa yang mereka sampaikan. Di antara pesan-pesan yang aku bisa pahami adalah aku diminta membetulkan data SIM ku dengan data yang benar karena jika aku sampai dideportasi, maka aku dilarang masuk Singapura selama 2 tahun.

Setelah menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih karena telah mengijinkanku transit di Singapura, aku meneruskan perjalanan menuju Changi International Airport. Di Bandara ini tidak hanya aku tapi semua penumpang yang akan menuju Indonesia diperiksa dengan ketat. Isi tas dikeluarkan. Bahkan laptop pun harus dalam keadaan terbuka. Beberapa barang milik kawanku ada yang disita tanpa tahu alasannya. Meski hanya sebuah parfum yang dibawa dari Indonesia. Aku bilang anggap aja shadaqah untuk menenangkan kawanku.

“Mungkin petugas Bandara perlu pewangi agar mereka tidak stress dengan pekerjaannya” tambahku sambil memasuki pesawat yang akan mengantarkanku kembali ke negeri tercinta, INDONESIA!

BAHAYA GOSIP


Gosip adalah kabar yang belum tentu kebenarannya. Juga cerita tanpa dasar fakta dan data yang kuat. Penyebarannya demikian cepat bisa melalui obrolan ringan di warung-warung kopi, di pasar-pasar bahkan di kantor-kantor. Kini ia dikemas sedemikan rupa dan ditayangkan di televisi-televisi. Hampir semua stasiun televisi memiliki program ini sebab saat ini gosip menjadi industri bisnis yang menggiurkan. Ia akan terus berkembang karena masyarakat menyukainya. Dan akan berhenti bila masyarakat bertekad kuat untuk tidak menontonnya.

Ketahuilah, gosip bila disebar tidak akan berkurang ceritanya bahkan terus akan bertambah seiring dengan penyebarannya itu sendiri karena memang biasanya gosip  itu semakin digosok akan semakin sip. Tidak salah bila ia disebut sebagai “bisa” yang dapat meracuni setiap orang. Siapapun bisa menjadi korbannya, entah seorang pejabat, artis, politisi, agamawan atau hanya orang biasa.

Dalam konteks yang lebih luas ia dapat menjatuhkan kewibawaan pemerintah dengan menyebarkan propokasi dan hasutan melalui penyebaran berita negatif tanpa data dan fakta yang akurat itu. Tujuannya adalah untuk mengkroposi sendi-sendi pemerintahan, menggangu kenyamanan sosial dan merusak tatanan. Bila halnya terjadi demikian bukan tidak mungkin pemerintahan akan jatuh.

Gosip juga akan menggangu hubungan pernikahan. Cobalah kita tengok orang-orang di sekitar kita, berapa banyak pernikahan hancur hanya gara-gara gosip murahan. Istri/suami begitu mudah terhasut karena yang dikedepankan adalah sisi emosional nya ketimbang logika sehat. Pernikahan yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan perasaan sakinah, mawaddah warohmah luluh lantak akibat menjalarnya “bisa” yang disebut dengan gosip  itu.

Sudah sejak dahulu kala, gosip dapat dijadikan alat untuk menghancurkan karir seseorang, mencemarkan nama baik, menyebabkan sakit kepala, menyebabkan mimpi buruk, membangkitkan kecurigaan, menyebarkan kesedihan, menyebabkan orang-orang yang tidak bersalah menangis pilu, membasahi bantal mereka dengan air mata.

Tidak terkecuali, istri Rasulullah saw pernah merasakan dampak dari bahaya gosip. Kisah ini tertuang dalam hadist yang diriwayatkan olah Aisya RA oleh Imam Bukhari dengan sanadnya dari Ibnu Syubaid az-Zuhri, Said al-Musaiyid, Alqamah bin Waqqash, Ubaidullah bin Abdulah bin Utbah bing peristiwa tersebut, dikatakan setelah usai peperangan itu, semua rombongan kaum Muslimin bermaksud kembali ke Madinah. Saat itulah, Aisya RA menyadari bahwa kalungnya yang terbuat dari merjan Azhfar telah putus (hilang). Maka Aisya RA yang biasanya ditandu, segera kembali ke tendanya untuk mencari kalung tersebut. Sekian lama ia mencari kalung tersebut. Sementara, orang-orang yang membawa tandu Aisya tidak menyadari bahwa tuannya tidak berada di dalamnya. Karena itulah, Aisya RA tetinggal dari rombongan. Maka, Aisya RA hanya pasrah. Ia berharap, ada rombongan kaum Muslimin yang kembali. Terlalu lama menunggu, Aisya akhirnya terserang kantuk hingga akhirnya tertidur. Tanpa diduga, di saat itulah muncul salah seorang rombongan yang bernama Shafwan bin Mu’athal as-Sulami adz-Azakwani. Shafwan bertugas sebagai anggota pasukan yang paling belakang.

Melihat ada yang tertinggal, Shafwan segera menjenguknya. Namun, setelah mengetahui yang tertinggal itu adalah Ummul Mukminin, Aisya RA, Shafwan pun langsung ber-istirja (mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rajiun), dan membuat Aisya terbangun dan reflek memakai cadarnya. Shafwan pun segera memberikan tunggangnnya (unta) kepada Aisya, sedangkan Shafwan sendiri berjalan kaki sambil menuntun unta yang ditunggangi oleh Aisya. Mereka berdua berhasil menyusul rombongan kaum Muslimin yang sedang beristirahat.

Orang-orang yang menyaksikan kedatangan Ummul Mukminin besama Shafwan, muncullah gosip terhadap hubungan keduanya. Mereka membicarakannya menurut prasangka masing-masing. Gosip itu kemudian terus menyebar hingga akhirnya menjadi fitnah atau berita bohong terhadap diri Aisya RA, hingga seluruh rombongan tiba di Madinah. Fitnah ini akhirnya menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum Muslimin. Si penyebar berita itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Dalam sejarah peristiwa ini dikenal dengan haditsul ifki. Kisah selengkapnya dapat di lihat dalam sirah Ibnu Hasyim 2/297, Tarikh At-Thabari 2/611, Tafsir At-Thabari 18/93 dll.

Peristiwa kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang munafik itu diabadikan Allah dalam al-Qur’an pada surah An-Nur [24] ayat 11-26.
“sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu adalah buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan, siapa diantara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS An-Nuur [4]:11).

Sekali lagi gosip adalah racun yang menjalar dan akan mengerogoti korbannya dengan pasti. Tidak memandang siapa yang jadi korbannya, saya, anda atau kita semua, Daripada bergosip lebih baik kita manfaatkan waktu dengan membaca, menulis atau aktivitas lain yang bermanfaat. Lebih baik menuai pahala daripada menuai dosa.

Dari ulasan ini pelajaran yang mendasar untuk kita adalah sebelum kita mengulang sebuah cerita, tanya pada diri anda sendiri, benarkah cerita ini? Wajarkah cerita ini? Perlukan saya ceritakan? Bila tidak, tutup mulut! Wallahu a’lam

Kebersamaan Kita


Sabtu siang itu tanggal 9 Juli 2011 kita sudah berkumpul di kediaman sdr. Dadang Gani. Teringat yang hadir adalah saya, Dadang Gani, Cucu Setiawaan, Asmuni Marzuki, Misbahul Khoir & istri, Enceng & istri,  H. Taqiyudin, Fitriyah, Hari Hermawan, Ratnani Suminar, Indra Rahadian Asmara, Junjun Mulyana, Nurlaela Hayati & anak, Imron Rosyadi. Jumlah yang hadir memang tidak terlalu banyak sebagaimana rencana awal kita tetapi Alhamdulillah tidak mengurangi sedikitpun rasa kebahagian itu atas dasar kebersamaan kita.

Menjelang siang kita melakukan napak tilas dengan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di masjid ar-rahman sekaligus numpang mandi (maklum lagi langka air). Kemudian bersilaturrahim dengan keluarga Kang Farhani sekedar untuk bercengkrama dan berpose bersama di halaman rumah nya. Napak tilas pun dilanjutkan dengan mengunjungi sekolah kita yang sudah almarhum.

Kegiatan berlanjut silaturrahim ke rumah Kang Hasan. Dengan logat dan tawanya yang khas suasana terasa lebih renyah. Obrolan pun lebih hidup, tidak ada ketegangan sebagaimana terjadi 12 tahun silam bila berhadapan dengan beliau.

Setelah menikmati santap malam berupa nasi liwet, ikan bakar dan cah kangkung buatan para ahli, tepat tengah malam semua berkumpul di alun-alun Kota Ciamis menikmati udara malam. Tiba-tiba salah seorang mengajukan usul untuk melanjutkan perjalanan wisata ke Green Canyon. Semua setuju kecuali salah seorang yang tidak bisa ikut karena alasan klasik. Gas pun ditancap malam itu juga. Untung kita punya Imron Rosyadi yang bertindak sebagai sopir tembak 24 jam. Dengan nyalinya yang besar ia berani menerebos pekatnya malam dan jalanan yang berliku untuk mencapai destinasi pertama yaitu rumah sdr. Enceng di Parigi. Perjalanan pun ditempuh 3 jam non stop.Di tempat itu pula shalat shubuh ditunaikan. Sarapan pagi kemudian dihidang di pinggir pantai Batukaras dengan menu yang sangat nikmat, hmmm....pete nya lebih banyak dari lauk nya. Mandi di Green Canyon sambil menikmati ukiran alam yang indah terpahat di dinding-dinding bebatuan.

Berkumpul seperti ini dengan teman-teman MAKY’98, raga seakan terlempar jauh masuk ke dalam masa sekolah 12 tahun silam. Saat itu kita berkumpul di kelas, suara kita terdengar seperti segerombolan lebah, saling berbisik soal siapa yang mendapatkan hadiah dari KISS (Kuis Infak dan Shadakah) kali ini. Terlebih saat Dadan Ramdan, sang pencetus mengumumkan pemenangnya. Ide kreatifnya selalu membuat kelas kita begitu hidup semarak.

Demikian pula saat pelajaran Ulumul Qur’an di kelas dimulai, teringat saat itu suasana begitu tegang. Hampir semua kepala terlihat menunduk, entah sedang memelototi tulisan gundul kitab tebal itu atau justru menghindari telunjuk sang guru yang mengarah kepada “korban” berikutnya.

Terlihat pula di pojok kelas Dadang Gani sedang khusu’ membolak-balikan alfiyah ibn malik  sampai kucel and dekumel dan kemudian satu persatu bait-baitnya beterbangan masuk ke dalam kepalanya dengan berbaris rapi sesuai nadzomnya. Sementara itu Indra Rahadian Asmara, si jagoan kungfu dari Tasikmalaya sedang memperagakan keahlian jurus maboknya dengan meniru gaya Yoko di Return of The Condor Heroes. Ateng Sutisna diam-diam tengah menyusun pidato politiknya untuk persiapan pemilihan ketua OSIS yang sebentar lagi digelar. Ternyata hasilnya jitu. Dede Hasyim Asyari tetap bersikukuh dengan pendapatnya bila diskusi meskipun didebat oleh satu kampung sekalipun. Cucu Setiawan kini telah menjadi seorang dosen padahal cita-citanya ingin menjadi Tajug Masjid saat ditanya oleh guru Bahasa Indonesia saat itu. Di pelataran masjid ar-rahmah, Ahmad Basuni sang pangeran cinta sedang berkonsultasi dengan penasehat cinta, Misbahul Khoir soal rencana meeting di ibn Bajah. Di kamarnya Taqiyudin sedang merapikan pakaiannya untuk persiapan ke Baitullah. Asep Bambang Hartono, Hidra Mulyana dan Solehudin selalu menyepi menjemput inspirasi di sebuah tempat yang aman dari ganguan bagian keamanan. Hari Hermawan dipaksa menghafal al-Qur’an untuk mendapatkan hati dari sang pujaan meskipun selalu gagal.

Karena tulisan indahnya, sang Kaligerafer Junjun Muyana selalu didapuk guru untuk menuliskan teks berbahasa Arab di papan tulis, yang lainnya hanya bisa berdecak kagum. Dengan niat tulusnya Enceng sang Qori terbaik tingkat kelas selalu mengingatkan kita tiap pagi dengan memperdengarkan kaset ceramah KH. Jujun Junaedi dari Tape rakitannya yang nyaring masuk ke gendang telinga mengalahkan music rock n’ roll yang juga distel oleh Isman Rohimansah di kamar sebelah. Faisal Elahi Fikri yang kemana-mana membawa Kamus bahasa Inggris tapi sekarang malah kerja di Arab Saudi.
H. Abdul Muiz yang sedari kecil telah berhaji tengah menyendiri menghafal al-Qur’an. Konon ia telah hafal melampaui hafalan teman sekelasnya yang memang malas menghafal. Nurhasanudin, sesepuh asli Betawi ini terlihat lebih gagah bila kumis nya tetap terpampang melintang. Erwin Hadiansyah jago basket namun tetap lembut dalam tutur bahasanya. Sunda banget euy!

Di kamar khususnya Rafiudin melayani konsultasi cinta 24 jam tanpa bayaran dan tanpa pasien. Iing abdul Madjid dan Imron Rosyadi sebagai tuan rumah selalu menjadi rujukan bertanya soal tempat-tempat wisata di Ciamis yang asyik. Dengan bangganya ia menyebut Pantai Pangandaran, Green Canyon dan Karang Kamulyan. Termasuk keduanya juga menjadi koordinator jalan-jalan ke Panjalu yang telah memakan korban. “Agar tidak ketahuan pesantren, bilang saja Dede Hasyim Jatuh dari pohon kelapa” usul salah seorang kawan dengan muka panik. Ahmad Syahidin yang selalu tersenyum ramah kapanpun,dimana pun dan kepada siapapun padahal katanya dia pesepakbola sejati. Ridwanullah yang menjadi pendatang baru mencoba beradaptasi dengan lingkungan.

Di lapangan bola basket terbayang juga Arif Budiman, Deden Wahyudin, Asmuni Marzuki, Yuyun Yurnaningsih, Ratnani Suminar dan Dian Ekawati tengah berteriak-teriak melatih para Capas (Calon Paskibra) dengan tampang yang dipaksa-paksakan sangar agar terkesan berwibawa sebagai instruktur Paskibra padahal tetap aja manis-manis he...he...he....

Fitri Fitriah asal tanggerang yang kini ber-KTP Purwokerto. Afi Fadlihah yang ngomongnya asli Cirebonan. Eni Nuraeni yang kembar dengan Misbahul Khoir. Nurlela Hayati yang kalem. Halida Puspitarini Ane yang tetap berkelas tapi ramah. Santi Novembari Syarifah, anak sang kyiai asal Tasikmalaya. Marwiyyah yang rame. Ade Yuli yang pernah berlabuh cintanya dengan kawan sekelas. Lia Muflihah yang katanya orang Padaherang ternyata wong Suroboyo. Elly Ermawati, orang sukabumi tea. Euis Muflihah yang ngaku saudaranya Hasanudin. Eulis Lisnasari, si humairo dan Cucu Suhartati nu asli Bandung tea.

Terlintas pula ingatan kepada mereka yang pernah bersama; Nurdin yang kalau ngobrol soal alfiyah melulu, Didin yang ahli bahasa Arab, Hasanudin yang terkenal cubrik, Abdul Latif yang mirip Bruce Lee, Dase yang gagah perkasa ditakuti penghuni Syafi’iyah, Aef yang selalu mendapingi Abdul Latif, Tian yang telah menjadi pesaing berat Cucu Setiawan soal perebutan cinta seseorang, Syahrur Munir yang tinggi semampai, Ibi Muhibi yang jago membuat puisi, Dadan Ramdan yang kreatif, Kholil Ma'mun yang lebih memilih kelas 1 lagi agar agar ilmunya lebih muantabb, Maspupah yang besar tinggi dan Lina yang kembaran dengan Eni Nuraeni.

Karena rasa kebersamaan inilah kita terus jalin erat hubungan kita tanpa sekat yang melekat pada masing-masing kita baik dalam bentuk status, profesi, pangkat, jabatan atau lain sebagainya yang menghalangi kebersamaan kita. Saya, anda dan kita semua adalah sama keluarga besar MAKY Darussalam Ciamis atau minimal kita pernah mengenyam beberapa saat di kampus itu. Sekali lagi atas dasar itulah kita akan selalu bersama menjalin ukhuwah yang tidak boleh padam oleh ego.


Menikmati Pesona Air Terjun Cibeureum

Pagi itu udara sangat dingin. Embun pagi terasa menyegarkan. Gemericik air terjun kecil yang tumpah dari danau indah dan menawan itu telah memecahkan kesunyian kaki pegunungan. Gunung Gede-Pangrango tampak terlihat jelas menampakkan kegagahannya terlebih saat semburat cahaya matahari pagi menyinarinya. Langit biru yang terang menyiratkan hari ini akan cerah. Aku dan Tim bersiap melakukan perjalanan menuju Air Terjun Cibeureum, sebuah perjalanan yang pasti melelahkan karena harus menapaki jalan menanjak dan bebatuan kurang lebih 2,8 km atau 1,5 jam perjalanan. Meskipun begitu perjalanan ini tetaplah menyenangkan karena bagiku setiap perjalanan kemanapun akan menemukan pengalaman dan pengetahuan yang baru dan berbeda.

Sesungguhnya Air Terjun Cibeureum terdiri dari air terjun Cikundul, air terjun Cidenden dan air terjun Cibeureum. Kata “Cibeureum” sendiri dalam bahasa sunda berarti “Cai Beureum (Air Merah)” yang berasal dari lumut merah (Sphagnum gedeanum) yang tumbuh secara alami disekitar air terjun. Lokasi air terjun tersebut masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP). Taman Nasional ini dapat ditempuh dari Jakarta kurang lebih 2 jam (100 km), mempunyai luas hutan alami 21.975 ha yang pada tahun 1980 diresmikan menjadi Taman Nasional di Indonesia.

Perjalanan dimulai dari pintu masuk dengan membeli tiket Rp. 3.000,- Hmm…. harga yang cukup murah untuk bisa menikmati alam yang indah ini. Seakan sedang memasuki sebuah lorong yang panjang karena di kanan dan kiri kita  banyak jenis pohon besar dan tumbuhan tinggi yang kalau kita bahas tidak akan selesai tulisan ini karena aku sendiri tidak tahu banyak soal itu. Sesekali terdengar kicauan burung yang saling bersahutan, teriakan owa jawa yang terputus-putus dan binatang liar lainnya yang tidak mau kalah menyambut kedatangan kita. Mungkin kalau boleh kita terjemahkan kira-kira mereka ingin mengatakan marhaban ya marhaban, selamat datang saudaraku, Welcome to the jungle. (He..he…ngarang aja).

Di kilometer 1,5 kita akan menjumpai Telaga Biru. Sejenak kita dapat beristirahat  sambil menikmati keheningan telaga. Karena komposisi geologi gunung berapi, air di wilayah ini kaya akan mineral. Konon telaga biru dapat terlihat berwarna merah, hijau atau biru, tergantung dari perputaran pertumbuhan ganggang.

Perjalanan dilanjutkan dengan melintasi Rawa Gayonggong melalui jembatan kayu yang tersusun rapi namun sebagian sudah lapuk usia. Di sinilah kita bisa menikmati pemandangan yang indah karena Gunung Pangrango terlihat lebih jelas dan suara gemuruh air terjun sudah terdengar. Itu pertanda tidak lama lagi tujuan hampir sampai.

Sesampai di lokasi, bulir-bulir air yang berasal dari air terjun beterbangan seakan menyapa para tamunya dengan lembut. Tanpa terasa badan ini menjadi basah. Hmm…suguh menyegarkan. Di sekitar air terjun Cibeureum juga tampak dua air terjun lainnya yang berukuran lebih kecil. Masing-masing adalah air terjun Cidendeng, dan air terjun Cikundul. Pesona air terjun Cibeureum sesungguhnya tak hanya pada derasnya air yang mengucur dari ketinggian 50 meter, tapi juga lumut merah atau spagnum gedeanum yang tumbuh endemik di sekitaran air terjun. Subhanallah, melihat indahnya karya yang Maha Indah ini, selalu rasanya ingin mengabadikan momen ini dengan gambar.

Selamat menikmati keagungan maha karya dari Sang Pencipta!

KISAH PEMUDA BAIK DAN SEEKOR KUPU-KUPU
Dikisahkan, seorang pemuda baik melewati sebuah pohon. Dilihatnya kupu-kupu tengah berjuang keluar dari kepompongnya. Sang pemuda pun memperhatikan penuh penasaran. Tiba2 hatinya tergerak untuk membantu sang kupu2. Kemudian ditariknya secara perlahan sehingga kupu2 dapat keluar dari kepompongnya dengan sangat mudah.
Lalu apa yang terjadi?
Setelah keluar dari kepompongnya sang kupu2 menggerakkan sayapnya untuk terbang. Ternyata semakin digerakkan sayapnya justru semakin merusak sayapnya yg indah itu. Akhirnya sang kupu2 menjadi cacat dan tidak bisa terbang.

Setelah diketahui ternyata untuk bisa terbang kupu2 harus mempunyai sayap yg kuat. Proses penguatan sayap justru terjadi pada saat kupu2 keluar dari kepompongnya karena ketika itulah cairan alami yang ada dalam kepompong dapat melumasi sayapnya sehingga menjadi kuat.

Pontianak dalam Sebuah Catatan

Pontianak dalam Sebuah Catatan
Memang ini bukanlah perjalananku pertama kali ke Pontianak untuk keperluan tugas tetapi bagiku setiap perjalanan kemanapun akan menemukan pengalaman dan pengetahuan yang baru dan berbeda. Ini yang menjadi catatan penting buatku untuk mencoba banyak belajar dari berbagai pengalaman.
Rasanya aku menginjakkan kaki di kota ini sudah beberapakali. Masih ingat dalam memoriku, awalnya aku hanya singgah sebentar di kota ini karena memang Bandara Supadio ada di kota ini. Kemudian melanjutkan perjalanan melalui darat ke Kota Singkawang, sebuah kota yang dikenal dengan kota Amoy karena banyak didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Keperluanku saat itu adalah untuk melaksanakan tugas pelatihan yang dilaksanakan di MAN
Model Singkawang.
Kegiatanku di tahun-tahun berikutnya adalah sama yaitu melaksanakan tugas pelatihan bagi calon pegawai maupun guru-guru se-Kalimantan Barat yang dipusatkan di Kota Pontianak. Bukan tidak ada alasan memilih melaksanakan kegiatan di Ibu Kota Kalimantan Barat ini karena posisi kota Pontianak lebih mudah dijangkau oleh peserta yang berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Barat yang sangat luas ini; Singkawang, Bengkayang, Landak, Kapuas Hulu, Ketapang, Sintang, Melawi, dll.
Bagiku yang asli Bogor, cuaca kota Pontianak terasa begitu panas menyengat. Mungkin hal ini disebabkan oleh lintasan garis Katulistiwa dan hamparan laut Cina Selatan yang sangat luas membentang di ujung kota. Tugu Katulistiwa peninggalan zaman Belanda yang berada di ujung kota merupakan pertanda garis Katulistiwa melintasi kota ini. Meski bangunan ini sudah tua tetapi ia tetap dirawat karena mengandung nilai-nilai historis dan ilmiah yang sangat tinggi. Pada Bulan Maret dan September tugu ini menjadi lokasi favorit wisatawan untuk menyaksikan kejadian alam tahunan berupa lintasan garis katulistiwa. Konon tepat pada pkl. 12.00 meski berjemur matahari bayangan kita tidak nampak. Subhanallah!
Di tengah waktu senggang, aku mencoba memenuhi keingintahuanku tentang seluk beluk kota Pontianak. Bagiku ini merupakan kesempatan untuk memperkaya wawasan dan pengalaman yang tidak didapat di bangku sekolah maupun kuliah.
Dalam tradisi tutur yang berkembang di masyarakat setempat, istilah Pontianak berasal dari kata Kuntilanak. Orang etnis Tionghoa setempat menyebutnya “Khun tien”. Mubarok, salah seorang warga Pontianak menceritakan asal usul nama Kota Pontanak dengan logat Melayu nya yang khas:
“Dulu ketike Sultan hendak membangun Masjid di samping kesultanan, beliau diganggu oleh Kuntilanak”. “Kemudian kata kuntilanak lama-kelamaan berubah menjadi Pontianak sebagaimane yang kite ucapkan sekarang”. Lanjutnya.
Di kota ini terdapat Istana Kesultanan Kadariah yang terletak di tengah pulau yang diapit oleh sungai Landak dan Kapuas dan dihubungkan oleh 2 jembatan yang menurut istilah orang lokal disebut tol.
Berdasarkan data yang diperoleh istana ini berdiri pada tanggal 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H), oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie, pada masa kekuasaan Van Der Varra (1761-1775), Gubernur Jenderal VOC ke-29. Tahun 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak Pertama. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Sultan yang pernah memegang tampuk Pemerintahan Kesultanan Pontianak:
1. Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808
2. Syarif Kasim Alkadrie memerintah dari tahun 1808-1819.
3. Syarif Osman Alkadrie memerintah dari tahun 1819-1855.
4. Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tahun 1855-1872.
5. Syarif Yusuf Alkadrie memerintah dari tahun 1872-1895.
6. Syarif Muhammad Alkadrie memerintah dari tahun 1895-1944.
7. Syarif Thaha Alkadrie memerintah dari tahun 1944-1945.
8. Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tabun 1945-1950.

Selain itu, hal yang unik di Kota ini adalah tidak adanya bis antar provinsi sebagaimana lazimnya ada di Provinsi lain di Indonesia tetapi yang ada justru bis antar negara. Negara yang ada di Pulau Kalimantan ini adalah Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Para Back Packer banyak yang memanfaatkan jalur darat ini untuk menjelajahi negara lain.
Saat malam menjelang, kehidupan lain mulai menggeliat. Kita bisa lihat banyak kedai-kedai kopi justru buka pada saat malam. Riuh rendah suara terdengar bersahutan dari pemuda-pemuda yang nongkrong di tempat favorit mereka. Di antara mereka ada yang sedang asyik menonton bola melalui layar lebar yang merupakan salah satu trik pemilik kedai untuk menarik pengunjung. Ada pula yang hanya sekedar mengobrol ngalor ngidul dengan kawannya. Entah apa yang dibicarakan. Tentu saja mereka ditemani secangkir minuman hangat yang tersedia di kedai; kopi susu, jahe susu dan minuman energi lainnya kesukaan mereka. Selain itu ada juga makanan ringan untuk sekedar mengganjal perut. Salah satu yang telah menjadi kesukaanku adalah pisang goreng Pontianak. Hmm…sungguh nikmat! Rasanya lain dengan pisang goreng yang aku temukan di Pulau Jawa. Entah apa sesungguhnya yang membedakan keduanya.
Keramaian lain juga terdapat di Pelabuhan. Asyik maksyuk pemuda-pemudi yang sedang menjalin kasih menjadi pemandangan yang mudah ditemukan di tempat ini. Mungkin angin yang berhembus sepoi-sepoi menjadikan tempat ini terasa begitu nyaman untuk mereka. Apalagi sambil makan jagung bakar yang menggoda selera. Kerlap kerlip lampu kapal-kapal besar yang datang dan pergi sesuai jadwalnya menjadi pemandangan berbeda saat malam hari. Para pedagang pun turut meramaikan tempat ini dengan menjajakan dagangannya. “Ini batu cincin asli Kalimantan bang” rayu mereka ke setiap pengunjung yang menurut instingnya bukan penduduk Kalimantan.
Jika ingin sekedar menyusuri sungai Kapuas sambil menyantap makan siang/malam, kita bisa makan di Kafe Terapung. Kafe ini sesungguhnya adalah kapal kecil yang disulap menjadi sebuah rumah makan. Bila sebelumnya ada kesepakatan dengan pemilik kafe, maka kafe ini bisa dijalankan menyusuri sungai. Menarik kan?
Dalam salah satu kesempatan aku pernah melaksanakan tugas pelatihan guru-guru di Rantau Panjang Kabupaten Landak, salah satu Kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Mengingat lokasinya di pedalaman, transportasi yang digunakan adalah klotok, sebuah sebutan orang lokal untuk kapal penumpang. Klotok melaju dengan perlahan tapi pasti menyusuri sungai besar yang diapit oleh hutan lebat. Karena membelah hutan imajinasiku melantur begitu saja membayangkan tentang film-film Barat yang berlatar sungai Amazon dan bertemakan tentang binatang-binatang buas semacam Crocodile atau Anaconda. Setiba di dermaga kecil, perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek dan tentu lagi-lagi menembus hutan sepanjang lebih dari 2KM. Tak terbayangkan kalau perjalanan ini dilakukan di malam hari dan dengan kondisi turun hujan pula.
Mengingat demikian besarnya tantangan menuju lokasi, tiba-tiba hati ini merasa takjub dan menaruh rasa hormat kepada mereka yang mengabdi di wilayah ini. Sebuah perjuangan yang luar biasa. Semoga Allah membalas keikhlasan mereka dengan berlipat ganda.

Pontianak, 26 November 2010

Ikan Cupang dan Peristiwa Isra Mi'raj

Beberapa minggu yang lalu saya dan kawan-kawan telah selesai melaksanakan tugas Diklat guru Agama Islam, Kristen dan Katolik di Kalimantan Barat, tepatnya di Siantan Pontianak Utara selama hampir 1 bulan.

Salah seorang kawan kami ust. Dudu Sardudu, M.Pd membeli oleh-oleh berupa beberapa ekor ikan cupang yang menurutnya jenis ikan itu akan laku dijual di Citayam. Kemudian kami (termasuk di dalamnya beberapa ikan cupang) naik pesawat dari Pontianak ke Jakarta.

Sesampainya di Citayam ikan tersebut diperlihatkan ke beberapa tetangganya. Di antara mereka ada yang percaya dan ada juga yang tidak. Bagi yang tidak percaya mengatakan ikan itu tidak mungkin bisa sampai di Citayam mengingat jarak Citayam-Pontianak ribuan kilo meter dan perlu menyebrangi lautan yang sangat luas. Kemudian harus menyusuri sungai dan selokan hingga ke pelosok Citayam. Mustahil!

Kemudian dijelaskan bahwa ikan-ikan itu dibawa dengan pesawat sehingga jarak Pontianak-Citayam dapat ditempuh hanya 1.15 menit dan ikan itu dalam keadaaan sehat wal afiat.

Melihat hal itu, saya teringat peristiwa isra mi’raj Rasulullah saw. Beliau dibawa Malaikat Jibril dari bumi ke langit dengan kendaraan buraq.

Jadi sebetulnya tidaklah mustahil Rasulullah bisa sampai ke langit dalam waktu semalam sebagaimana tidak mustahilnya ikan cupang pontianak bisa ke citayam hanya dengan waktu 1.15 menit. 

Wallahu a’lam.