Lost in Sentarum
Perjalanan kali ini menjelajahi Taman Nasional Danau Sentarum yang terkenal di mancanegara itu. Di musim penghujan, danau ini digenangi air yang mencapai ketinggian 6-14 meter. Namun di musim kemarau berubah menjadi daratan dan rawa-rawa yang indah. Memiliki kekayaan flora dan fauna yang luar biasa. Dihuni oleh berbagai jenis hewan langka; buaya, ular, biawak, ikan dan lain-lain. Bahkan Sentarum tercatat sebagai salah satu habitat ikan air tawar terlengkap di dunia. Salah satu penghuni aslinya ikan arwana telah menembus pasar internasional. Luasnya kawasan danau mencapai 132.000 hektar.Saat ini jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Langit kota Putussibau telah terang oleh sang surya. Putussibau merupakan ibu kota kabupaten Kapuas Hulu, sebuah kabupaten paling ujung dan terjauh dari Kota Pontianak Kalimantan Barat. +700 KM! Setelah sarapan dengan beberapa lembar roti kering yang telah dipanggang di penginapan, kami berangkat menelusuri jalanan sejauh 120 KM. Jalanan panjang dan berliku ini terhampar sangat rapih meskipun di beberapa titik masih dalam penyelesaian pengaspalan. Kadang menanjak kadang menurun mengikuti kontur jalanan yang berbukit-bukit. Dihimpit oleh pepohonan hutan yang menjulang tinggi dan bentangan sawah padi yang baru ditanam penduduk lokal setelah buka lahan hutan. Sayangnya pembukaan lahan hutan dengan cara dibakar ini menyebabkan beberapa petak pohon lain turut hangus, meskipun pohon-pohon itu masih berdiri kokoh tapi kondisinya sudah menghitam legam menjadi arang.
Jalanan sepi. Hanya hitungan jari kendaraan lain melintas. Hawa sejuk pagi sungguh menyegarkan. Bulir-bulir embun di dedaunan menetes satu demi satu, rembes dalam tanah. Perjalanan memakan waktu 3 jam lebih. Tepat jarum jam berhenti di angka 10, kami tiba di Lanjak, sebuah kecamatan yang menjadi jalur penghubung menuju Taman Nasional Danau Sentarum. Juga 46 km menuju kecamatan Badau, salah satu border perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat selain Entikong di Kabupaten Sanggau, Sajingan di Kabupaten Sambas dan Kecamatan Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang. Lebih dekatnya jarak ke Serawak Malaysia daripada Kota Putussibau sebagai ibukota Kabupaten menyebabkan hampir seluruh barang-barang yang ada toko itu adalah made in Malaysia; minuman, makanan hingga tabung gas. Bahkan mobil-mobil yang berflat asing hilir mudik di jalanan ini.
Selamat Datang di Sentarum
Setelah rehat sejenak dan menyiapkan perbekalanan makanan yang cukup di salah satu warung makan, tepat pada pukul 11.00 kami bersiap melanjutkan penjelajahan ke Taman Nasional Sentarum. Konon pesonanya mampu menghipnotis para wisatawan mancanegara dengan ragam tujuan. Ada yang sekedar ingin tahu seperti kami, tapi lebih banyak yang bertujuan untuk hiking ataupun penelitian flora dan fauna. Hal ini terungkap dari hasil obrolan dengan para bule saat di penginapan di Putussibau ataupun catatan buku tamu di Taman Nasional Danau Sentarum.
Saat ini danau sedang mengering karena musim kemarau sehingga yang terlihat adalah hamparan daratan luas nan hijau seperti savana yang dibelah beberapa sungai besar. Padahal saat pasang ketinggian air mencapai 6 meter lebih hingga menutupi pepohonan yang tumbuh di tengah danau. Kami memulai perjalanan menjelajahi danau dengan naik ojek terlebih dahulu menuju lokasi yang masih terdapat genangan air yang lebih dalam. Mereka menyebutnya dermaga meski tidak terlalu tepat istilah itu.
Destinasi utama kami di Danau Sentarum ini adalah Pulau Tekenang. Start dari dermaga ini perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri genangan air yang membentuk rawa dan sungai panjang. 2 speed boat siap membawa kami menjelajahi salah satu danau terpenting di dunia karena ragam hayatinya yang langka. Kapasitas masing-masing speed boat hanya 4 orang. Bak seperti para peneliti di National Geografic, kami mengamati setiap jengkal rawa-rawa. Mata dipicingkan ke kanan dan ke kiri mencari-cari sesuatu yang mungkin terjadi secara alami di alam terbuka ini yang sayang kalau dilewatkan. Perasaan senang dan takut campur aduk dalam perjalanan ini. Senang karena merasakan pengalaman mengesankan. Perasaan takut muncul karena kadang terlintas bayangan film-film dokumenter tentang hewan-hewan buas di rawa.
Di tepi sungai sekumpulan burung bangau putih tiba-tiba terbang berpindah dari satu daratan ke daratan lain. Susunan formasi terbangnya terlihat cantik menghiasi langit biru. Terlihat pula beberapa burung elang mengitari langit mencari mangsa hewan untuk sekedar makan. Sempat pula menyaksikan adengan burung yang memangsa ikan dengan cara meluncur deras menghujam permukaan air. Hasilnya seekor ikan memenuhi paruh burung yang panjang. Kemudian dibawanya ke daratan untuk proses pencernaannya.
Sepanjang perjalanan air ini beberapa kali menemukan sederetan gubuk para nelayan di bibir sungai. Mereka tinggal di gubuk-gubuk itu hanya saat musim air danau surut. Kembali ke kampungnya saat air danau pasang. Ikan dan madu menjadi buruannya untuk dijual di pasar.
Pukul 14.00 speed boat sampai dan menepi di Pulau Tekenang. Pulau yang berkontur bukit ini menjadi Kantor Pusat Observasi Alam Taman Nasional Danau Sentarum yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan. Setelah mengisi daftar tamu dan membayar biaya perijinan, kami mulai diijinkan mendaki bukit yang memiliki ketinggian 500 dpl. Jalur tracking yang sudah dibuatkan tangga membuat para pendaki menjadi mudah dan terarah. Terlebih disediakan pula tempat istirahat di beberapa titik pemberhentian.
Berada di puncak bukit Pulau Tekenang sungguh memberikan sensasi rasa tersendiri. Terbayar lunas sudah kelelahan perjalanan yang dilalui. Mata dapat menyapu seluruh pandangan menakjubkan di Danau Sentarum. Sungai-sungai panjang bercabang meliuk-liuk di danau sentarum yang sedang mengering. Jika danau sedang pasang yang terlihat sejauh mata memandang hanyalah gugusan pulau kecil serta pucuk pepohonan yang tinggi di tengah hamparan air yang sangat luas membentang.
Berpuas diri di Pulau Tekenang sampai waktu telah beranjak sore. Di pukul 15.00 kami melakukan perjalanan kembali ke dermaga di kecamatan Lanjak. Belum separuh perjalanan kami mampir di beberapa gubuk yang dihuni para nelayan untuk membeli ikan danau yang telah dikeringkan dan beberapa liter madu asli untuk sekedar oleh-oleh.
Dalam perjalanan pulang matahari sore tidak lagi menyengat. Awan di langit bergumpal cukup memberikan keteduhan. Air sungai terasa tenang. Sesekali ikan dari kejauhan terlihat melompat. Masih terlihat pula sekumpulan burung bangau di tepi genangan air. Ketenangan dan kesenangan kami tiba-tiba terusik karena speed boat yang kami tumpangi secara perlahan mendadak berhenti. Mesin diesel dipaksakan hidup tetap saja tak kunjung berhasil. Ternyata bensin telah habis. Celakanya tidak ada sedikitpun minyak cadangan. Sementara speed boat yang lain telah jauh meninggalkan kami. Deru suara mesinnya tak lagi terdengar.
Perahu yang berkapasitas 4 orang itu didayung menepi karena air sedikit demi sedikit mulai masuk ke lambung speed boat yang telah tua itu. Kami disarankan pemilik Speed boat untuk berjalan kaki menelusuri daratan danau yang telah mengering itu karena menurutnya lokasi dermaga sudah dekat. Sementara dia sendiri mendorong perahunya menyusuri sungai.
Tersesat
Senangnya kami berempat dapat menginjak rerumputan yang telah menghijau. Seakan berada di lapangan golf terluas di dunia. Senyum sumringah masing-masing kami merekah. Terdokumentasikan dalam jepretan kamera ponsel yang sudah lowbat. Pemandangan indah ini tersaji alami. Lembayung senja dari pancaran matahari sore memantul cantik dalam genangan air. Tidak salah kalau danau ini telah memikat banyak turis.
Kaki ini telah melangkah hampir satu jam, namun dermaga tempat semula kami mulai berlabuh tak kunjung terlihat. Cahaya di langit pun mulai redup. Kami berpandangan satu sama lain. “Jangan-jangan kita sedang tersesat”. Celetuk salah satu kawan. Saat itulah kepanikan terjadi. Rasa senang berubah menjadi penuh kekhawatiran. Jantung mulai berdebar.
Langit telah pekat. Tak ada sedikit pun benda langit yang memancarkan cahayanya. Ponsel kami yang masih on hanya tersisa satu. Selebihnya tak berguna sama sekali, meski hanya sebagai penerang jalan. Kami berusaha menghubungi tim lain melalui ponsel untuk meminta bantuan, namun kami sendiri tidak tahu di mana posisi kami persisnya. Tidak ada petunjuk yang bisa dijelaskan. Semua terlihat gelap di tengah luasnya cekungan danau yang telah menjadi daratan dan rawa itu. Sempat terdengar suara mesin speed boat melintas di kejauhan, namun suara teriakan kami terdengar percuma.
Pandangan semakin terbatas. Tidak lagi mampu membedakan mana genangan air mana hamparan pasir putih. Jalanan kadang berumput, kadang berpasir dan kadang pula tergenang air. Semua harus dilalui. Tidak ada pilihan. Alas kaki yang semula terasa nyaman, kini dipenuhi lumpur. Gerimis sempat turun meski tidak terlalu lama. Entah berteduh dimana jika gerimis berubah menjadi hujan lebat. Apalagi hujan petir. Tidak hanya itu, genangan air pun akan meninggi. Bayangan para penghuni asli rawa yang sedang mencari makan di malam hari terlintas dalam benak meski tidak berani untuk saling mengungkapkan agar situasi tetap kondusif. Bagaimanapun sejatinya saat ini kami sedang berada di dalam cekungan danau walaupun sedang surut.
Meski diliputi rasa cemas, kaki tetap terus melangkah. Kami tidak menduga sejauh ini jarak yang harus ditempuh. Mungkin jika diperhatikan secara detil saat pemilik perahu menunjuk arah dermaga dengan jari jempolnya dan mengatakan dekat, ternyata jari jempolnya itu melengkung. So jalanan kami pun melengkung-lengkung sesuai bentuk jari itu.
Rasa optimis tiba-tiba muncul saat terlihat di kejauhan ada setitik cahaya merah. Aku menduga pasti itu tower seluler yang dipancang di ketinggian. Lampu berwarna merah itu seakan menjadi penunjuk jalan meskipun kami sendiri tidak tahu persis daerahnya. Pastinya itu berlokasi di daratan sesungguhnya. Semangat kami menyala kembali setelah lelah mendera hebat. Tidak hanya fisik juga mental. Rasa cemas dan senang telah bercampur aduk. Harapan selamat mulai nampak. Kami melangkah pasti. Tidak cepat. Tidak pula lambat. Tujuan mulai jelas. Cahaya merah itu seakan mendekat karena terlihat membesar. Di tengah perjalanan kami dihadang genangan air yang luas. Kini tidak ada lagi daratan yang bisa dipijak. Jalanan menjadi buntu. Kami coba menembus genangan air, ternyata semakin jauh semakin dalam. Kami mundur kembali sambil berharap ada bantuan datang menuju tempat kami berdiri.
Cahaya Terang
Di ujung mata 2 sinar terang bergerak-gerak menerangi daratan pijakan kami. Spontan kami berteriak dengan sekuat tenaga. Melompat-lompat sambil melambaikan tangan. Cahaya ponsel digerakkan. Segala upaya diusahakan agar cahaya itu terarah. Usaha ini berbuah hasil. Cahaya itu tepat menerangi kami. Alhamdulillah, kami girang bukan kepalang. Terlebih beberapa menit kemudian cahaya itu mulai mendekat. Terlihat 2 sosok penjemput di ujung genangan air yang gelap mulai mengarahkan jalan dengan gerakan lampu yang dibawanya.
Kami mengikuti arah gerakan itu hingga mendapati genangan air yang tidak terlalu dalam. Kami melintasinya penuh hati-hati. Air hanya setinggi lutut. Ungkapan terima kasih yang tak terhingga kepada para penjemput. Kami mulai mengatur napas agar lebih rileks untuk meneruskan perjalanan menuju dermaga. Senyum kami merekah sejadinya bak bunga mekar di pagi yang cerahSesampai di dermaga kami naik ojek untuk kembali ke warung makan sekedar melepas lelah. Wajah-wajah muram berubah sumringah. Kini waktu telah berputar ke angka 7. Setelah membersihkan diri dari kotoran lumpur dan menunaikan shalat kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Putussibau. Selama perjalanan tidak henti-hentinya kami bercerita soal suka dan duka dalam ketersesatan. Kami menyebutnya Lost in Sentarum: Terlalu indah tuk dilupakan. Terlalu sakit tuk dikenang.
Perjalanan menuju "dermaga"
Gerbang Pulau Tekenang

