Jumat, 05 Desember 2014


Rapat a la Tikus

Ratusan tikus tengah melakukan rapat akbar di sebuah lokasi yang sangat dirahasiakan. Saking rahasianya, tidak semua tikus tahu soal ini, apalagi kucing yang menjadi musuh bebuyutannya.

“Ini rahasia besar untuk masa depan anak cucu kita!” Tukas sang pemimpin rapat dengan nada tegas dihadapan perwakilan tikus-tikus yang berasal dari  mancanegara itu.

Rapat kali ini soal bagaimana caranya tikus-tikus hidup nyaman tanpa gangguan kucing. Demikian pentingnya urusan ini, rapat berjalan sangat alot. Masing-masing Negara mengajukan usulan dan saling berdebat satu sama lain untuk mencari sebuah solusi tepat dan cepat dalam upaya ketentraman hidup mereka.

Ada satu usulan yang sangat menarik hati pemimpin rapat bahkan peserta lainnya. Usulan tersebut dinilai sangat jitu. Dalam bayangan mereka dengan usulan ini hidup para tikus menjadi tentram karena mereka tahu kapan datangnya bahaya. Dengan demikian mereka dapat segera melakukan antisipasi yang cepat agar terhindar dari petaka itu.

Usulan salah seekor peserta rapat itu adalah mengalungkan leher kucing dengan kaleng. Dengan tergantungnya kaleng di leher kucing maka kemanapun ia pergi atau hanya sekedar bergerak saja sudah dapat terdengar suaranya. So, para tikus dapat segera menghindari bahaya itu.

Mendengar usulan yang luar biasa itu, para peserta rapat sangat bergembira. Gemuruh tepuk tangan terdengar membahana. Mereka kegirangan seakan beban seumur hidupnya telah terlepas. Hidup menjadi merdeka. Tidak ada lagi tekanan hidup. Jeratan yang membelengu mereka selama ini telah terurai. Bayang-bayang ketakutan telah sirna. Perasaan mereka pun ploong.

“Tok….tok…tok….!!” Pemimpin rapat berusaha menghentikan kebisingan peserta dengan memukul palu berkali-kali. Sang pemimpin pun melanjutkan ucapan:

“Wahai para peserta rapat, usulan ini betul-betul sangat luar biasa, namun siapa di antara kalian yang berani mengalungkan kaleng tersebut di leher sang kucing?”

Suasana tiba-tiba senyap. Tak ada suara dan gerakan apapun. Raut wajah mereka terlihat pucat tanpa ekspresi. Pandangan mata kosong dengan mulut ternganga. Semua diam.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda