Melongok Tapal Batas Negeri
Setiap perjalanan kemanapun kita akan menemukan pengalaman dan pengetahuan yang baru dan berbeda. Ini yang menjadi catatan penting buat kita untuk mencoba banyak belajar dari berbagai pengalaman. Bulan lalu saya berkesempatan melakukan perjalanan yang kali ini menelusuri perbatasan Indonesia-Malaysia melalui jalur darat. Meski memakan waktu yang lama dan melelahkan tapi tekad telah bulat; melongok tapal batas negeri ini!Kalimantan memang pulau yang unik karena dihuni oleh 3 (tiga) Negara yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Karena itulah khusus di Kalimantan Barat ini tidak ada bis antar propinsi tapi yang ada adalah antar Negara. Jumlah bis ini pun dirasa cukup banyak baik yang dikelola Indonesia maupun oleh Malaysia atau Brunei Darussalam. Sayangnya keunikan ini belum terkelola dengan baik oleh Pemerintah Daerah setempat. Terbukti di Pontianak ini belum ada terminal khusus bis antar Negara sehingga tempat pemberangkatan atau kepulangan pun masih menyesuaikan lokasi kantor operator bis tersebut di pinggir jalan raya.
Perjalanan bermula dari Kota Pontianak menuju Kabupaten Sanggau dengan memakan waktu 5 jam. Kondisi jalan yang masih banyak lubang membuat kita harus hati-hati dan menjaga stamina tubuh agar tidak mabuk darat. Setelah selesai melakukan kegiatan di Kabupaten Sanggau keesokan harinya perjalanan dilanjutkan menuju border perbatasan di Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau dengan jarak tempuh 3 jam. Lagi-lagi kerusakan jalan semakin parah di Kabupaten Sanggau ini membuat jarak tempuh menjadi lebih lama.
Meski tidak terlalu lebar, kemulusan jalan baru terasa ketika masuk di jalur Internasional menuju Border Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau. Jalan yang berbukit dengan diapit oleh deretan pohon kelapa sawit dan terasa mengasyikan. Duren lokal dijajakan di tepi-tepi jalan cukup menggoda untuk beristirahat sekedar menikmati beberapa buah duren yang terkenal nikmat dan harum itu. Konon buah berkulit tajam itu dipetik dari hutan sehingga terjaga orisinalitasnya.
Sesampai di perbatasan, suasana lebih ramai. Sebagian orang berkerumun di warung-warung kopi. Sebagian yang lain berlalulalang di Gerbang Pos Pemeriksaan Imigrasi dengan membawa segepok uang Rupiah dan Ringgit di tangan sambil menawarkan penukaran uang. Menurut informasi yang didapat di sinilah salah satu jalur pintu masuk TKI kita ke Sarawak Malaysia dan Burunei Darussalam untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
Motor dan mobil baik yang berplat Indonesia maupun Malaysia terparkir agak semrawut di ‘halaman’ Indonesia ini. Atapnya pun hanya potongan kardus sejadinya, yang penting kendaraan tidak terpanggang panasnya matahari.
Berbeda dengan suasana perbatasan Indonesia di Entikong, perbatasan Malaysia terasa sepi. Tidak ada rumah penduduk apalagi warung-warung yang dibangun sembarang tempat. Jalan-jalannya sangat lebar dan mulus. Rumput tertata rapi. Ah…..seperti beda alam saja.
Karena tidak membawa Paspor, perjalanan hanya diijinkan maksimal sejauh 2 KM saja wilayah Serawak Malaysia. Tepatnya hanya sekitar Tebedu saja. Di sinilah kita baru menemukan semacam Ruko atau Mini Market. Lagi-lagi suasana pun masih terasa sepi. Salah satu keluarga pedagang nasi nya pun kalau dilihat dari logat bahasanya adalah orang Jawa Timur meski menu makanannya adalah makanan khas Melayu. Uniknya di sini Rupiah dan Ringgit boleh digunakan. Di sini juga terjadi perbedaan waktu, Malaysia mempercepat waktunya 1 jam meski sebetulnya hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari Negeri kita.
Pengalaman yang cukup menggelitik di sini adalah saat memesan nasi goreng. Mak Cik menghidangkan nasi goreng dan semangkuk air. Spontan saja tangan dicelupkan ke mangkuk yang agak hangat tersebut untuk cuci tangan sebelum makan . Ternyata eh ternyata….air dalam mangkuk itu adalah kuah untuk nasi goreng. Gubrak!

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda