Jumat, 05 Desember 2014


Penghormatan Terakhir Kita

Rasanya baru kemarin kita melintasi bersama almarhumah selama 3 tahun di Darussalam Ciamis. Padahal sudah belasan tahun lalu. Cerita suka dan duka dialami bersama. Canda dan tawa selalu mengiringi. Dia memang orang yang luar biasa. Bahkan bisa dibilang bukan orang rata-rata seperti kebanyakan kita. Selalu menjadi yang terbaik di kelas dalam soalan prestasi belajar. Keuletannya dan kesenangannya dalam bersosialisasi dapat dilihat pada aktivitasnya di OSIS, Pramuka dan Paskibra.

Karena rasa duka yang mendalam itulah kita atas nama para sahabat alumni MAK’98 menetapkan waktu di hari Sabtu, 26 April 2014 untuk bertakziyah, memberikan penghormatan terakhir bagi sahabat kita ini. Di tengah kesibukan pekerjaan kita masing-masing yang tidak berkesesudahan. Tepat pukul 11.00 kita menyempatkan diri bertemu dan  berkumpul di rumah orang tua almarhumah di Sangkanhurip Kuningan.

Ada rasa yang membeku saat kita berdiri persis di hadapan rumahnya yang asri dan bersih. Rumah yang terlihat lebih tua dari penghuninya itu bercat kuning pudar. Desain bangunannya masih mempertahankan pola lama. Di sisinya berdiri sebuah musholla kecil dengan warna yang sama.Antara percaya dan tidak kita berkunjung ke rumahnya justru saat dia sudah tidak ada.

Pintu dibuka oleh seorang bapak yang masih terlihat gagah meski di sudah di usia sepuh, mempersilakan kita untuk masuk. Disambut pula oleh ibunya dengan tangan terbuka. Di dalam rumah yang sederhana ini kita lihat ada foto-foto yang masih menggantung di dinding mempertegas sosok bayangan almarhumah. Seakan dia tengah hadir bersama kita. Menatap kita, menyalami dan menyapa kita satu persatu dengan senyumnya yang merekah. Mungkin karena senang atas kedatangan kita.

Setelah kita dipersilakan duduk di hamparan anyaman tikar, salah seorang dari kita menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan. Bercerita soal masa lalu yang pernah kita lewati bersama. Kata-katanya yang terbata-bata jelas menunjukkan rasa sedih itu meski dikemas dengan sedemikian rupa. Tentu rasa itu dialami oleh kita semua. Dada mulai sesak. Membayangi sosoknya di 15 tahun silam saat masih bersama-sama duduk di bangku MAK. Mungkin di antara kita tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Mungkin juga sebagian kita justru baru beberapa bulan yang lalu bertemu dengannya, bercengkerama dan bercerita. Mungkin ada pula yang hitungannya hanya beberapa jam sebelum kepergiannya, sempat berkomunikasi lewat BBM. Namun takdir berkata lain.

Akhirnya tangis kita tak terbendung. Air mata kita tumpah saat orang tuanya mengungkapkan kronologi kejadian meninggalnya almarhumah. Suaranya terasa berat. Semakin berat. Air matanya deras mengalir. Tak kuasa memendam rasa duka di hati. Sesekali sang bapak melepas kacamatanya untuk menyeka mata yang berair agar dapat melanjutkan kata-katanya. Tak ketinggalan sang ibu meratapi anaknya yang justru malah mendahului dirinya. Sekali lagi ternyata takdir berkata lain.

Sesuai dengan rencana, setelah dzuhur kita menyempatkan diri berdoa bersama di hadapan pusara. Lagi-lagi tangis kita pun pecah saat melihat gundukan tanah yang masih basah penuh taburan bunga yang tertulis atas nama sahabat kita. Sahabat yang tidak pernah menyerah atas derita yang dirasa selama 5 tahun menahan sakit ginjal. Tidak ada keluh kesah. Sahabat kita yang hebat itu Yuyun Yurnaningsih. Dia telah meninggalkan kita selamanya dan meningalkan suami dan anaknya yang masih kecil pada hari Jum'at, 18 april 2014 Pukul.17.45 WIB
Selamat jalan sahabat! Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu‘anha

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda