Jumat, 05 Desember 2014

BAHAYA GOSIP


Gosip adalah kabar yang belum tentu kebenarannya. Juga cerita tanpa dasar fakta dan data yang kuat. Penyebarannya demikian cepat bisa melalui obrolan ringan di warung-warung kopi, di pasar-pasar bahkan di kantor-kantor. Kini ia dikemas sedemikan rupa dan ditayangkan di televisi-televisi. Hampir semua stasiun televisi memiliki program ini sebab saat ini gosip menjadi industri bisnis yang menggiurkan. Ia akan terus berkembang karena masyarakat menyukainya. Dan akan berhenti bila masyarakat bertekad kuat untuk tidak menontonnya.

Ketahuilah, gosip bila disebar tidak akan berkurang ceritanya bahkan terus akan bertambah seiring dengan penyebarannya itu sendiri karena memang biasanya gosip  itu semakin digosok akan semakin sip. Tidak salah bila ia disebut sebagai “bisa” yang dapat meracuni setiap orang. Siapapun bisa menjadi korbannya, entah seorang pejabat, artis, politisi, agamawan atau hanya orang biasa.

Dalam konteks yang lebih luas ia dapat menjatuhkan kewibawaan pemerintah dengan menyebarkan propokasi dan hasutan melalui penyebaran berita negatif tanpa data dan fakta yang akurat itu. Tujuannya adalah untuk mengkroposi sendi-sendi pemerintahan, menggangu kenyamanan sosial dan merusak tatanan. Bila halnya terjadi demikian bukan tidak mungkin pemerintahan akan jatuh.

Gosip juga akan menggangu hubungan pernikahan. Cobalah kita tengok orang-orang di sekitar kita, berapa banyak pernikahan hancur hanya gara-gara gosip murahan. Istri/suami begitu mudah terhasut karena yang dikedepankan adalah sisi emosional nya ketimbang logika sehat. Pernikahan yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan perasaan sakinah, mawaddah warohmah luluh lantak akibat menjalarnya “bisa” yang disebut dengan gosip  itu.

Sudah sejak dahulu kala, gosip dapat dijadikan alat untuk menghancurkan karir seseorang, mencemarkan nama baik, menyebabkan sakit kepala, menyebabkan mimpi buruk, membangkitkan kecurigaan, menyebarkan kesedihan, menyebabkan orang-orang yang tidak bersalah menangis pilu, membasahi bantal mereka dengan air mata.

Tidak terkecuali, istri Rasulullah saw pernah merasakan dampak dari bahaya gosip. Kisah ini tertuang dalam hadist yang diriwayatkan olah Aisya RA oleh Imam Bukhari dengan sanadnya dari Ibnu Syubaid az-Zuhri, Said al-Musaiyid, Alqamah bin Waqqash, Ubaidullah bin Abdulah bin Utbah bing peristiwa tersebut, dikatakan setelah usai peperangan itu, semua rombongan kaum Muslimin bermaksud kembali ke Madinah. Saat itulah, Aisya RA menyadari bahwa kalungnya yang terbuat dari merjan Azhfar telah putus (hilang). Maka Aisya RA yang biasanya ditandu, segera kembali ke tendanya untuk mencari kalung tersebut. Sekian lama ia mencari kalung tersebut. Sementara, orang-orang yang membawa tandu Aisya tidak menyadari bahwa tuannya tidak berada di dalamnya. Karena itulah, Aisya RA tetinggal dari rombongan. Maka, Aisya RA hanya pasrah. Ia berharap, ada rombongan kaum Muslimin yang kembali. Terlalu lama menunggu, Aisya akhirnya terserang kantuk hingga akhirnya tertidur. Tanpa diduga, di saat itulah muncul salah seorang rombongan yang bernama Shafwan bin Mu’athal as-Sulami adz-Azakwani. Shafwan bertugas sebagai anggota pasukan yang paling belakang.

Melihat ada yang tertinggal, Shafwan segera menjenguknya. Namun, setelah mengetahui yang tertinggal itu adalah Ummul Mukminin, Aisya RA, Shafwan pun langsung ber-istirja (mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rajiun), dan membuat Aisya terbangun dan reflek memakai cadarnya. Shafwan pun segera memberikan tunggangnnya (unta) kepada Aisya, sedangkan Shafwan sendiri berjalan kaki sambil menuntun unta yang ditunggangi oleh Aisya. Mereka berdua berhasil menyusul rombongan kaum Muslimin yang sedang beristirahat.

Orang-orang yang menyaksikan kedatangan Ummul Mukminin besama Shafwan, muncullah gosip terhadap hubungan keduanya. Mereka membicarakannya menurut prasangka masing-masing. Gosip itu kemudian terus menyebar hingga akhirnya menjadi fitnah atau berita bohong terhadap diri Aisya RA, hingga seluruh rombongan tiba di Madinah. Fitnah ini akhirnya menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum Muslimin. Si penyebar berita itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Dalam sejarah peristiwa ini dikenal dengan haditsul ifki. Kisah selengkapnya dapat di lihat dalam sirah Ibnu Hasyim 2/297, Tarikh At-Thabari 2/611, Tafsir At-Thabari 18/93 dll.

Peristiwa kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang munafik itu diabadikan Allah dalam al-Qur’an pada surah An-Nur [24] ayat 11-26.
“sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu adalah buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan, siapa diantara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS An-Nuur [4]:11).

Sekali lagi gosip adalah racun yang menjalar dan akan mengerogoti korbannya dengan pasti. Tidak memandang siapa yang jadi korbannya, saya, anda atau kita semua, Daripada bergosip lebih baik kita manfaatkan waktu dengan membaca, menulis atau aktivitas lain yang bermanfaat. Lebih baik menuai pahala daripada menuai dosa.

Dari ulasan ini pelajaran yang mendasar untuk kita adalah sebelum kita mengulang sebuah cerita, tanya pada diri anda sendiri, benarkah cerita ini? Wajarkah cerita ini? Perlukan saya ceritakan? Bila tidak, tutup mulut! Wallahu a’lam

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda