Jumat, 05 Desember 2014

Pontianak dalam Sebuah Catatan

Pontianak dalam Sebuah Catatan
Memang ini bukanlah perjalananku pertama kali ke Pontianak untuk keperluan tugas tetapi bagiku setiap perjalanan kemanapun akan menemukan pengalaman dan pengetahuan yang baru dan berbeda. Ini yang menjadi catatan penting buatku untuk mencoba banyak belajar dari berbagai pengalaman.
Rasanya aku menginjakkan kaki di kota ini sudah beberapakali. Masih ingat dalam memoriku, awalnya aku hanya singgah sebentar di kota ini karena memang Bandara Supadio ada di kota ini. Kemudian melanjutkan perjalanan melalui darat ke Kota Singkawang, sebuah kota yang dikenal dengan kota Amoy karena banyak didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Keperluanku saat itu adalah untuk melaksanakan tugas pelatihan yang dilaksanakan di MAN
Model Singkawang.
Kegiatanku di tahun-tahun berikutnya adalah sama yaitu melaksanakan tugas pelatihan bagi calon pegawai maupun guru-guru se-Kalimantan Barat yang dipusatkan di Kota Pontianak. Bukan tidak ada alasan memilih melaksanakan kegiatan di Ibu Kota Kalimantan Barat ini karena posisi kota Pontianak lebih mudah dijangkau oleh peserta yang berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Barat yang sangat luas ini; Singkawang, Bengkayang, Landak, Kapuas Hulu, Ketapang, Sintang, Melawi, dll.
Bagiku yang asli Bogor, cuaca kota Pontianak terasa begitu panas menyengat. Mungkin hal ini disebabkan oleh lintasan garis Katulistiwa dan hamparan laut Cina Selatan yang sangat luas membentang di ujung kota. Tugu Katulistiwa peninggalan zaman Belanda yang berada di ujung kota merupakan pertanda garis Katulistiwa melintasi kota ini. Meski bangunan ini sudah tua tetapi ia tetap dirawat karena mengandung nilai-nilai historis dan ilmiah yang sangat tinggi. Pada Bulan Maret dan September tugu ini menjadi lokasi favorit wisatawan untuk menyaksikan kejadian alam tahunan berupa lintasan garis katulistiwa. Konon tepat pada pkl. 12.00 meski berjemur matahari bayangan kita tidak nampak. Subhanallah!
Di tengah waktu senggang, aku mencoba memenuhi keingintahuanku tentang seluk beluk kota Pontianak. Bagiku ini merupakan kesempatan untuk memperkaya wawasan dan pengalaman yang tidak didapat di bangku sekolah maupun kuliah.
Dalam tradisi tutur yang berkembang di masyarakat setempat, istilah Pontianak berasal dari kata Kuntilanak. Orang etnis Tionghoa setempat menyebutnya “Khun tien”. Mubarok, salah seorang warga Pontianak menceritakan asal usul nama Kota Pontanak dengan logat Melayu nya yang khas:
“Dulu ketike Sultan hendak membangun Masjid di samping kesultanan, beliau diganggu oleh Kuntilanak”. “Kemudian kata kuntilanak lama-kelamaan berubah menjadi Pontianak sebagaimane yang kite ucapkan sekarang”. Lanjutnya.
Di kota ini terdapat Istana Kesultanan Kadariah yang terletak di tengah pulau yang diapit oleh sungai Landak dan Kapuas dan dihubungkan oleh 2 jembatan yang menurut istilah orang lokal disebut tol.
Berdasarkan data yang diperoleh istana ini berdiri pada tanggal 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H), oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie, pada masa kekuasaan Van Der Varra (1761-1775), Gubernur Jenderal VOC ke-29. Tahun 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak Pertama. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Sultan yang pernah memegang tampuk Pemerintahan Kesultanan Pontianak:
1. Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808
2. Syarif Kasim Alkadrie memerintah dari tahun 1808-1819.
3. Syarif Osman Alkadrie memerintah dari tahun 1819-1855.
4. Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tahun 1855-1872.
5. Syarif Yusuf Alkadrie memerintah dari tahun 1872-1895.
6. Syarif Muhammad Alkadrie memerintah dari tahun 1895-1944.
7. Syarif Thaha Alkadrie memerintah dari tahun 1944-1945.
8. Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tabun 1945-1950.

Selain itu, hal yang unik di Kota ini adalah tidak adanya bis antar provinsi sebagaimana lazimnya ada di Provinsi lain di Indonesia tetapi yang ada justru bis antar negara. Negara yang ada di Pulau Kalimantan ini adalah Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Para Back Packer banyak yang memanfaatkan jalur darat ini untuk menjelajahi negara lain.
Saat malam menjelang, kehidupan lain mulai menggeliat. Kita bisa lihat banyak kedai-kedai kopi justru buka pada saat malam. Riuh rendah suara terdengar bersahutan dari pemuda-pemuda yang nongkrong di tempat favorit mereka. Di antara mereka ada yang sedang asyik menonton bola melalui layar lebar yang merupakan salah satu trik pemilik kedai untuk menarik pengunjung. Ada pula yang hanya sekedar mengobrol ngalor ngidul dengan kawannya. Entah apa yang dibicarakan. Tentu saja mereka ditemani secangkir minuman hangat yang tersedia di kedai; kopi susu, jahe susu dan minuman energi lainnya kesukaan mereka. Selain itu ada juga makanan ringan untuk sekedar mengganjal perut. Salah satu yang telah menjadi kesukaanku adalah pisang goreng Pontianak. Hmm…sungguh nikmat! Rasanya lain dengan pisang goreng yang aku temukan di Pulau Jawa. Entah apa sesungguhnya yang membedakan keduanya.
Keramaian lain juga terdapat di Pelabuhan. Asyik maksyuk pemuda-pemudi yang sedang menjalin kasih menjadi pemandangan yang mudah ditemukan di tempat ini. Mungkin angin yang berhembus sepoi-sepoi menjadikan tempat ini terasa begitu nyaman untuk mereka. Apalagi sambil makan jagung bakar yang menggoda selera. Kerlap kerlip lampu kapal-kapal besar yang datang dan pergi sesuai jadwalnya menjadi pemandangan berbeda saat malam hari. Para pedagang pun turut meramaikan tempat ini dengan menjajakan dagangannya. “Ini batu cincin asli Kalimantan bang” rayu mereka ke setiap pengunjung yang menurut instingnya bukan penduduk Kalimantan.
Jika ingin sekedar menyusuri sungai Kapuas sambil menyantap makan siang/malam, kita bisa makan di Kafe Terapung. Kafe ini sesungguhnya adalah kapal kecil yang disulap menjadi sebuah rumah makan. Bila sebelumnya ada kesepakatan dengan pemilik kafe, maka kafe ini bisa dijalankan menyusuri sungai. Menarik kan?
Dalam salah satu kesempatan aku pernah melaksanakan tugas pelatihan guru-guru di Rantau Panjang Kabupaten Landak, salah satu Kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Mengingat lokasinya di pedalaman, transportasi yang digunakan adalah klotok, sebuah sebutan orang lokal untuk kapal penumpang. Klotok melaju dengan perlahan tapi pasti menyusuri sungai besar yang diapit oleh hutan lebat. Karena membelah hutan imajinasiku melantur begitu saja membayangkan tentang film-film Barat yang berlatar sungai Amazon dan bertemakan tentang binatang-binatang buas semacam Crocodile atau Anaconda. Setiba di dermaga kecil, perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek dan tentu lagi-lagi menembus hutan sepanjang lebih dari 2KM. Tak terbayangkan kalau perjalanan ini dilakukan di malam hari dan dengan kondisi turun hujan pula.
Mengingat demikian besarnya tantangan menuju lokasi, tiba-tiba hati ini merasa takjub dan menaruh rasa hormat kepada mereka yang mengabdi di wilayah ini. Sebuah perjuangan yang luar biasa. Semoga Allah membalas keikhlasan mereka dengan berlipat ganda.

Pontianak, 26 November 2010

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda