Jumat, 05 Desember 2014


Traveling ala Backpacker

Berbekal tiket promo murah yang sudah diburu sejak 2 bulan yang lalu, akhirnya pada tanggal 4 April 2014 perjalanan ini dimulai. Sebuah perjalanan yang sarat pengalaman dalam suka dan duka bagi kami, saya dan istri. Apapun itu, sesungguhnya setiap perjalanan kemanapun menjadi sumber ilmu yang sangat berharga karena pengalaman adalah guru yang terbaik. Terlebih traveling ini pun dilakukan ala backpacker.

Dengan menggunakan maskapai Tiger Airways dari Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta, tepat pukul 07.30 WIB pesawat take off menuju Singapura. Penerbangan Jakarta-Singapura memakan waktu hanya 1 jam 15 menit namun karena waktu Singapura 1 jam lebih cepat daripada waktu Jakarta maka tiba di Changi International Airport pukul 09.45 waktu Singapura.

Sungguh sangat disayangkan jika tiba di Changi International Airport melewatkannya begitu saja apalagi bagi yang pertama kali, Kita dapat menikmatinya dengan berjalan santai ke sana ke sini mengunjungi beberapa gerai toko yang tertata rapih bak berada di sebuah supermall nan megah.
Tentu saja bukan untuk membeli sesuatu tapi hanya sekedar melihat harga yang tertera dalam benda-benda yang dipajang itu. Setelah menganggukan kepala berkali-kali kami pun lantas keluar di toko tanpa banyak bicara. Maklum perjalanan ini ala backpacker kawan!

Permadani terhampar luas. Suasana ramai tapi tidak gaduh. Lampu penerang sekaligus penghias dipasang di beberapa titik menambah suasana nyaman berlama-lama di bandara mewah ini. Tersedia pula fasilitas kereta yang terkoneksi antar terminal dalam bandara. Namun sayangnya karena keterbatasan waktu tidak sempat menikmati fasilitas ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Itu artinya destinasi berikutnya telah menanti.

Setelah menukarkan rupiah ke dolar singapura yang nominalnya makin menciut, palang pintu pertama yang harus dilewati sebelum masuk Singapura adalah imigrasi yang terkenal angker. Tidak banyak pertanyaan petugas karena semua dokumen telah lengkap selengkap-lengkapnya. Kalau perlu surat keterangan RT/RW disiapkan. Hati pun terasa lega. Kini saatnya berpetualang ke dua negara sekaligus; Singapura dan Malaysia. Ibarat pepatah melayu, sekali dayung dua negara terlampaui.

Karena di Singapura direncanakan hanya satu hari, maka kami membeli STP (Singapore Tourist Pass) one day seharga $10. STP adalah kartu pass yang bisa digunakan untuk menaiki transportasi umum di Singapura secara tak terbatas. Kita cukup membeli kartu ini, dan kita bisa naik angkutan umum MRT, LRT serta bus berulang kali tanpa membayar lagi. Kartu ini lebih praktis karena tidak perlu mengantri kembali untuk membeli kartu standar setiap melakukan perjalanan dengan naik kendaraan umum. Kartu ini pun dan dapat direfund di beberapa ticket office setelah tidak kita gunakan lagi dengan batas waktu tertentu.

Shalat Jum’at di Singapura
Sesuai itinerary yang sudah dibuat, shalat jum’at ditunaikan di Masjid Jami’ Sultan di wilayah Bugis, semacam kampung Arab-Melayu. Rute untuk mencapai lokasi ini pun cukup mudah karena peta MRT ini sangat jelas. Dengan kartu STP kita bisa menggunakan MRT dari Changi International Airport, kemudian transit di Stasiun Tanah Merah untuk melanjutkan perjalanan ke Bugis Street.

Saat shalat jum’at Singapura sempat diguyur hujan padahal sudah berbulan-bulan langitnya tidak lagi menurunkan air meski setetes. Khotib jum’at tadi juga sempat menyinggung dalam khutbahnya tentang hemat air dan shalat istisqo. Alhamdulillah, semoga hujan ini mendatangkan rahmat bagi Singapura.

Selepas jum’atan, panas matahari kembali menyengat. Langit menjadi terang benderang. Orang-orang pun kembali hilir mudik beraktivitas dengan kesibukannya masing-masing. Di tengah terik, perut tak lagi kuasa menahan rasa lapar dan dahaga. Saatnya mencari sumber kehidupan. Tentu saja bukan di restoran elit yang bisa menguras banyak dolar tapi cukup tempat makan yang terjangkau dan halal, KFC. Sialnya tempat makan ini tidak menyediakan nasi padahal sedari pagi belum ketemu nasi walaupun sebetulnya sudah makan roti bertumpuk-tumpuk di Bandara Soekarno Hatta. Karena belum makan nasi rasanya belum afdhol makan.

Energi sudah terisi penuh. Semangat kembali menyala. Siang itu juga perjalanan dilanjutkan ke destinasi utama yaitu Merlion Statue, sebuah ikon Negara Singapura yang berbentuk badan ikan tapi kepalanya singa. Kata orang, ke Singapura tanpa berkunjung ke lokasi ini rasanya seperti lulus kuliah tanpa wisuda. Kebayang kan kawan? So, kunjungan ke sini menjadi wajib!
Dari Bugis street kita dapat menyusuri hutan beton yang menjulang-julang dengan jalan kaki. Bingung? Tanya kanan kiri pasti sampai tujuan. Masyarakat disini sangat informatif dan negara ini sangat menghargai para pejalan kaki dengan fasilitas pedesterian yang luas.

Waktu menunjukan pukul 15.00, langit Singapura sangat cerah secerah hati kami yang telah menuntaskan destinasi utama ke Singapura. Perjalanan dilanjutkan ke Little India sekedar untuk membeli souvenir yang tentu saja murah, bukan ke Orchad Street yang terkenal sebagai surga belanja buat mereka yang berkantong tebal. Kali ini perjalanan mencoba menggunakan bis sekaligus merasakan bagaimana nyamannya naik bis umum di Singapura. Setelah bertanya ke kanan kiri naiklah bis 131. Modalnya tentu saja STP, yang bisa digunakan selain untuk naik monorail, kartu ini juga dapat digunakan untuk naik bis kota. Cukup tapping STP di mesin samping sopir, langsung tancap gas. Taaaarik mang!

Sesuai dengan namanya Little India tentu saja semuanya serba India. Bau dupa yang menyengat, lalu lalang orang yang berpenampilan ala India hingga suara musik dari toko-toko sekitar yang memperdengarkan lagu-lagu dari film bollywood. Hmm...aca..aca..sambil geleng-geleng kepala, serasa di New Delhi. Tujuan ke Little India ini adalah ke tempat belanja favorit para Backpacker yang tidak menguras isi dompet, Mustofa Center.

Hari semakin sore, waktu menunjukkan pukul 16.30. Matahari di langit Singapura mulai redup. Dolar makin menipis. Sesuai dengan rencana perjalanan yang sudah dibuat, maka destinasi berikutnya adalah Kota Kuala Lumpur Malaysia. Sebetulnya banyak tersedia bis bahkan kereta dari Singapura tujuan Kuala Lumpur langsung, namun karena pertimbangan ekonomis perjalanan ke Kuala Lumpur ini dimulai dari Johor Baru. Uang yang digunakan di wilayah ini tentu saja RM yang nilainya jauh lebih rendah dari $. Termasuk biaya perjalanan naik bis inipun dicas ringgit

Dari Little India menggunakan MRT menuju Stasiun Kranji lalu dilanjutkan dengan bis Causeway Link/170. Karena bertepatan dengan akhir pekan ternyata di luar stasiun ini banyak sekali warga Singapura yang hendak menyebrang ke Johor Baru dengan menggunakan bis. Akhirnya harus mengantri panjang. Sesaat kemudian bis menuju perbatasan datang, dalam waktu singkat sudah terisi penuh penumpang. Meski cukup sesak kondisi bis tetap nyaman.

Setiba di Gedung Imigrasi Singapura, orang-orang sedikit berlari untuk mengantri lebih awal di pos pemeriksaan. Meski hari ini sangat banyak orang yang hendak keluar Singapura, namun antrian cepat terurai karena banyaknya petugas yang melayani pemeriksaan dan stempel paspor. Setelah itu antrian kembali mengular untuk naik bis menuju pos pemeriksaan Malaysia yang berlokasi di JB Central. Dalam JB Central terdapat stasiun kereta tujuan Kuala Lumpur, namun karena rencana awal ke Kuala Lumpur menggunakan bis maka perjalanan dilanjutkan ke Larkin. Terminal bis jarak jauh ini cukup rapi meski banyak calo-calo yang menawarkan tiket. Bis di sini pun datang dan pergi sehingga walaupun tidak sebesar Terminal Kampung Rambutan kondisinya cukup tertata rapi. Tidak ada bis yang berhenti lama menunggu penumpang di Plat Form. Tersedia pula toko-toko makanan, pakaian hingga mainan. Untuk keperluan shalat terdapat juga masjid yang cukup luas di lantai 3.

Tepat pukul 00.30, bis dengan tarif RM27 berangkat menuju Kuala Lumpur. Kondisinya sangat nyaman, full AC dan luas. Perjalanan ditempuh selama 5 jam. Waktu yang cukup untuk melepas lelah setelah seharian berjalan serba cepat baik saat keliling Kota Singapura maupun saat menaiki dan menuruni tangga di border imigrasi Singapura dan Malaysia. Juga saat berdiri dalam antrian yang mengular untuk menunggu giliran masuk bis lintas negara. Tidur pun sangat lelap, ditemani mimpi.

Bis mulai memasuki Kota Kuala Lumpur. Di tengah kegelapan tiba-tiba segerombolan orang bertopeng menghentikan bis secara mendadak. Sang sopir sekuat tenaga menginjak rem. Bis sedikit oleng. Di tengah kegaduhan penumpang masuklah gerombolan itu dalam bis dengan senjata api yang terkokang di tangan, berteriak-teriak dan memukul pintu secara kasar. Semua penumpang kaget bukan kepalang. Tidak ada satu penumpang pun yang berani menegakkan kepala atau sekedar melihat wajah para perampok yang memang gelap. Suasana semakin mencekam dan badan terasa bergetar hebat saat satu persatu semua penumpang ditanya. Jantung rasanya mau lompat. Tulang-tulang berubah menjadi lunak tak mampu lagi menopang tubuh yang sudah lemas. Saat giliranku dia menepuk bahu. Semakin lama semakin kencang hingga membangunkan tidurku. “Bangun...bangun...sudah sampai Terminal Puduraya Pak”. Sambil mengusap mata, semua barang dikemas karena bis telah sampai.

Sabtu, 05 April 2014
Wellcome to Kuala Lumpur
Pagi masih buta. Langit Kuala Lumpur masih gulita. Jam menunjukkan angka 5. Jalanan pun masih sepi. Satu dua taksi lewat mencari penumpang. Bis berhenti di Terminal Puduraya, salah satu terminal di Kuala Lumpur yang cukup besar. Lantai 1 untuk parkiran bis dengan berbagai tujuan jarak jauh. Lantai 2 sebagai ruang tunggu penumpang dan lantai 3 terdapat fasilitas musholla dan layanan kereta dalam kota. Sambil menunggu waktu shubuh tiba pukul 06.00 sisa waktu singkat ini dimanfaatkan untuk beristirahat di ruang tunggu dengan membiarkan mata yang masih ingin terpejam.

Pukul 08.00 matahari pagi diujung timur mulai merangkak naik. Sinarnya menyelinap dari balik gedung-gedung tinggi menjulang menerangi langit Kuala Lumpur yang mulai terang perlahan. Hari ini tidak terlalu diburu waktu sehingga setelah membersihkan diri di terminal Puduraya langkah pertama yang dituju adalah tempat makan. Menu sarapan kali ini adalah nasi lemak dan teh tarik yang hangat. Hmm....nikmatnya, alhamdulillah. Destinasi pertama yang dikunjungi di Kuala Lumpur ini adalah Batu Cave, sebuat tempat ibadah umat Hindu sekaligus lokasi wisata yang terletak di ujung Kuala Lumpur.

Karena dari Puduraya tidak menemukan bis kota yang langsung menuju Batu Cave, akhirnya untuk mencapai lokasi harus menggunakan bis 2 kali. Tidak banyak penumpang yang naik turun bis. Jalanan masih sepi dan tidak ada kemacetan. Mungkin karena hari ini hari Sabtu, hari libur bagi para pekerja formal. Ongkos bis RM1.

Patung berwarna kuning keemasan di samping mulut goa menyambut kedatangan setiap pengunjung di Batu Cave. Tingginya yang menjulang dan warnanya yang mentereng membuat patung ini sudah terlihat dari kejauhan. Banyak mengunjung yang hadir. Terutama mereka yang hendak melakukan ritual ibadah di tempat suci ini. Meskipun begitu kehadiran para pengunjung lain yang bertujuan wisata tidak menggangu kekhusuan mereka. Mulutnya terus menerus melapalkan sesuatu sambil berjalan cepat menaiki tangga demi tangga tanpa alas kaki menuju mulut goa yang di dalamnya ada tempat ibadah. Luar biasanya tangga itu berjumlah 264 anak tangga. Betul, angka tersebut didapat saat kaki mulai melangkah sambil menghitung. Sayangnya saat turun angka itu berbeda. Entahlah kawan!

Waktu sudah mulai beranjak siang. Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati air kelapa yang melegakan tenggorokan, perjalanan dilanjutkan ke penginapan yang sudah dibooking sebelumnya seharga RM60. Lokasinya cukup strategis di pusat keramaian kota Kuala Lumpur yaitu Bukit Bintang. Dari Batu Cave menaiki kereta menuju KL Central. Kemudian dilanjutkan dengan monorail sampai Bukit Bintang. Alhamdulillah, akhirnya dapat beristirahat di hotel yang sudah dipesan lewat booking.com. Meski kamarnya sangat kecil dan murah namun tetap bersih. Petugas hotel yang berasal dari Bangladesh ini pun sangat friendly. Terlebih saat ngobrol ngalor ngidul cerita tentang pengamalannya bekerja di Kuala Lumpur yang baru 6 bulan.

Sore menjelang, destinasi berikutnya adalah Twin Tower Petronas. Menara kembar tertinggi di dunia ini menjadi icon sekaligus kebanggaan masyarakat Malaysia. Berlokasi di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC). Dari Bukit Bintang naik Monorail ke Stasiun Bukit Nanas, lalu berjalan kaki sejauh 300 meter menuju ke stasiun Dang Wangi untuk melanjutkan perjalanan dengan LRT (Light Rail Transit) menuju ke KLCC. Tiba di sini, kemegahan dan keindahan menara semakin terasa di tengah himpitan gedung-gedung tinggi menjulang. Masing-masing pengunjung sibuk mencari spot terbaik untuk melakukan pemotretan. Termasuk kami.

Ada pemandangan yang tidak menarik saat makan kari kambing di sebuah restoran seberang menara. Rasa sedih di dada melihat seorang pelayan restoran dimarahi oleh pemiliknya lantaran hanya gara-gara masalah sepele. Belakangan diketahui setelah tidak sengaja minta tolong untuk foto di luar tempat makan ternyata pelayan muda itu orang Malang Jawa Timur yang baru bekerja 8 bulan di Malaysia.

Puas berlama-lama di sekitar menara, menjelang magrib kembali ke penginapan. Kali ini menggunakan bis gratis yang telah tersedia di halte Petronas menuju Bukit Bintang. Hari semakin malam. Lampu-lampu mulai terang menghiasi kota Kuala Lumpur yang eksotis. Keramaian Bukit Bintang yang penuh dengan pusat perbelanjaan menghipnotis siapapun yang masuk dalam pusarannya. Siang malam tak ada bedanya, tetap ramai. Karena perjalanan masih harus dilanjutkan besok hari, saatnya beristirahat merebahkan badan yang telah diterpa lelah. Mengumpulkan tenaga yang masih tersisa untuk destinasi berikutnya. Bismika Allahumma Ahya Wa Bismika Amut.

Ahad, 6 April 2014
Matahari pagi mulai memancar terang. Jalanan masih saja sepi oleh lalu lalang kendaraan. Mungkin karena hari ini masih libur. Sebelum kembali ke Indonesia destinasi hari ini adalah Putra Jaya, lokasi kantor pemerintahan Ibu Kota Malaysia yang tertata sangat rapi sampai dijadikan destinasi wisata.

Untuk memenuhi asupan tenaga, kali ini menu sarapannya adalah roti cane. Tentu saja dengan ditemani teh tarik yang hangat dan nikmat. Dari Bukit Bintang naik monorail menuju KL Sentral. Perjalanan ke Putra Jaya dilanjutkan dengan KLIA Transit, turun Stasiun Cyber Jaya. Di sini bis wisata untuk mengelilingi Putra Jaya telah tersedia dengan tarif hanya RM 2 setiap orang.
Bercampur dengan pengunjung lain dari berbagai negara kita difasilitasi guide yang menjelaskan tentang seluk beluk bangunan. Bis berhenti di beberapa spot untuk memberikan kesempatan para pengunjung sekedar mengabadikannya dengan gambar. Soal pemotretan kita harus pintar-pintar bernegosiasi dengan wisatawan asing lain supaya bisa saling foto bergantian. Saat itulah berkenalan dengan sepasang turis dari Vietnam. Adapula turis Uzbekistan yang selalu mengucap salam setiap minta tolong difoto. Mungkin karena istri saya berjilbab.

Menjelang waktu dzuhur tiba bis kembali lagi ke Stasiun Cyber Jaya. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA) menggunakan kereta. Setelah check in dan pemeriksaan dokumen imigrasi di bandara kami kembali ke negeri tercinta, Indonesia.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda