Jumat, 05 Desember 2014

Kebersamaan Kita


Sabtu siang itu tanggal 9 Juli 2011 kita sudah berkumpul di kediaman sdr. Dadang Gani. Teringat yang hadir adalah saya, Dadang Gani, Cucu Setiawaan, Asmuni Marzuki, Misbahul Khoir & istri, Enceng & istri,  H. Taqiyudin, Fitriyah, Hari Hermawan, Ratnani Suminar, Indra Rahadian Asmara, Junjun Mulyana, Nurlaela Hayati & anak, Imron Rosyadi. Jumlah yang hadir memang tidak terlalu banyak sebagaimana rencana awal kita tetapi Alhamdulillah tidak mengurangi sedikitpun rasa kebahagian itu atas dasar kebersamaan kita.

Menjelang siang kita melakukan napak tilas dengan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di masjid ar-rahman sekaligus numpang mandi (maklum lagi langka air). Kemudian bersilaturrahim dengan keluarga Kang Farhani sekedar untuk bercengkrama dan berpose bersama di halaman rumah nya. Napak tilas pun dilanjutkan dengan mengunjungi sekolah kita yang sudah almarhum.

Kegiatan berlanjut silaturrahim ke rumah Kang Hasan. Dengan logat dan tawanya yang khas suasana terasa lebih renyah. Obrolan pun lebih hidup, tidak ada ketegangan sebagaimana terjadi 12 tahun silam bila berhadapan dengan beliau.

Setelah menikmati santap malam berupa nasi liwet, ikan bakar dan cah kangkung buatan para ahli, tepat tengah malam semua berkumpul di alun-alun Kota Ciamis menikmati udara malam. Tiba-tiba salah seorang mengajukan usul untuk melanjutkan perjalanan wisata ke Green Canyon. Semua setuju kecuali salah seorang yang tidak bisa ikut karena alasan klasik. Gas pun ditancap malam itu juga. Untung kita punya Imron Rosyadi yang bertindak sebagai sopir tembak 24 jam. Dengan nyalinya yang besar ia berani menerebos pekatnya malam dan jalanan yang berliku untuk mencapai destinasi pertama yaitu rumah sdr. Enceng di Parigi. Perjalanan pun ditempuh 3 jam non stop.Di tempat itu pula shalat shubuh ditunaikan. Sarapan pagi kemudian dihidang di pinggir pantai Batukaras dengan menu yang sangat nikmat, hmmm....pete nya lebih banyak dari lauk nya. Mandi di Green Canyon sambil menikmati ukiran alam yang indah terpahat di dinding-dinding bebatuan.

Berkumpul seperti ini dengan teman-teman MAKY’98, raga seakan terlempar jauh masuk ke dalam masa sekolah 12 tahun silam. Saat itu kita berkumpul di kelas, suara kita terdengar seperti segerombolan lebah, saling berbisik soal siapa yang mendapatkan hadiah dari KISS (Kuis Infak dan Shadakah) kali ini. Terlebih saat Dadan Ramdan, sang pencetus mengumumkan pemenangnya. Ide kreatifnya selalu membuat kelas kita begitu hidup semarak.

Demikian pula saat pelajaran Ulumul Qur’an di kelas dimulai, teringat saat itu suasana begitu tegang. Hampir semua kepala terlihat menunduk, entah sedang memelototi tulisan gundul kitab tebal itu atau justru menghindari telunjuk sang guru yang mengarah kepada “korban” berikutnya.

Terlihat pula di pojok kelas Dadang Gani sedang khusu’ membolak-balikan alfiyah ibn malik  sampai kucel and dekumel dan kemudian satu persatu bait-baitnya beterbangan masuk ke dalam kepalanya dengan berbaris rapi sesuai nadzomnya. Sementara itu Indra Rahadian Asmara, si jagoan kungfu dari Tasikmalaya sedang memperagakan keahlian jurus maboknya dengan meniru gaya Yoko di Return of The Condor Heroes. Ateng Sutisna diam-diam tengah menyusun pidato politiknya untuk persiapan pemilihan ketua OSIS yang sebentar lagi digelar. Ternyata hasilnya jitu. Dede Hasyim Asyari tetap bersikukuh dengan pendapatnya bila diskusi meskipun didebat oleh satu kampung sekalipun. Cucu Setiawan kini telah menjadi seorang dosen padahal cita-citanya ingin menjadi Tajug Masjid saat ditanya oleh guru Bahasa Indonesia saat itu. Di pelataran masjid ar-rahmah, Ahmad Basuni sang pangeran cinta sedang berkonsultasi dengan penasehat cinta, Misbahul Khoir soal rencana meeting di ibn Bajah. Di kamarnya Taqiyudin sedang merapikan pakaiannya untuk persiapan ke Baitullah. Asep Bambang Hartono, Hidra Mulyana dan Solehudin selalu menyepi menjemput inspirasi di sebuah tempat yang aman dari ganguan bagian keamanan. Hari Hermawan dipaksa menghafal al-Qur’an untuk mendapatkan hati dari sang pujaan meskipun selalu gagal.

Karena tulisan indahnya, sang Kaligerafer Junjun Muyana selalu didapuk guru untuk menuliskan teks berbahasa Arab di papan tulis, yang lainnya hanya bisa berdecak kagum. Dengan niat tulusnya Enceng sang Qori terbaik tingkat kelas selalu mengingatkan kita tiap pagi dengan memperdengarkan kaset ceramah KH. Jujun Junaedi dari Tape rakitannya yang nyaring masuk ke gendang telinga mengalahkan music rock n’ roll yang juga distel oleh Isman Rohimansah di kamar sebelah. Faisal Elahi Fikri yang kemana-mana membawa Kamus bahasa Inggris tapi sekarang malah kerja di Arab Saudi.
H. Abdul Muiz yang sedari kecil telah berhaji tengah menyendiri menghafal al-Qur’an. Konon ia telah hafal melampaui hafalan teman sekelasnya yang memang malas menghafal. Nurhasanudin, sesepuh asli Betawi ini terlihat lebih gagah bila kumis nya tetap terpampang melintang. Erwin Hadiansyah jago basket namun tetap lembut dalam tutur bahasanya. Sunda banget euy!

Di kamar khususnya Rafiudin melayani konsultasi cinta 24 jam tanpa bayaran dan tanpa pasien. Iing abdul Madjid dan Imron Rosyadi sebagai tuan rumah selalu menjadi rujukan bertanya soal tempat-tempat wisata di Ciamis yang asyik. Dengan bangganya ia menyebut Pantai Pangandaran, Green Canyon dan Karang Kamulyan. Termasuk keduanya juga menjadi koordinator jalan-jalan ke Panjalu yang telah memakan korban. “Agar tidak ketahuan pesantren, bilang saja Dede Hasyim Jatuh dari pohon kelapa” usul salah seorang kawan dengan muka panik. Ahmad Syahidin yang selalu tersenyum ramah kapanpun,dimana pun dan kepada siapapun padahal katanya dia pesepakbola sejati. Ridwanullah yang menjadi pendatang baru mencoba beradaptasi dengan lingkungan.

Di lapangan bola basket terbayang juga Arif Budiman, Deden Wahyudin, Asmuni Marzuki, Yuyun Yurnaningsih, Ratnani Suminar dan Dian Ekawati tengah berteriak-teriak melatih para Capas (Calon Paskibra) dengan tampang yang dipaksa-paksakan sangar agar terkesan berwibawa sebagai instruktur Paskibra padahal tetap aja manis-manis he...he...he....

Fitri Fitriah asal tanggerang yang kini ber-KTP Purwokerto. Afi Fadlihah yang ngomongnya asli Cirebonan. Eni Nuraeni yang kembar dengan Misbahul Khoir. Nurlela Hayati yang kalem. Halida Puspitarini Ane yang tetap berkelas tapi ramah. Santi Novembari Syarifah, anak sang kyiai asal Tasikmalaya. Marwiyyah yang rame. Ade Yuli yang pernah berlabuh cintanya dengan kawan sekelas. Lia Muflihah yang katanya orang Padaherang ternyata wong Suroboyo. Elly Ermawati, orang sukabumi tea. Euis Muflihah yang ngaku saudaranya Hasanudin. Eulis Lisnasari, si humairo dan Cucu Suhartati nu asli Bandung tea.

Terlintas pula ingatan kepada mereka yang pernah bersama; Nurdin yang kalau ngobrol soal alfiyah melulu, Didin yang ahli bahasa Arab, Hasanudin yang terkenal cubrik, Abdul Latif yang mirip Bruce Lee, Dase yang gagah perkasa ditakuti penghuni Syafi’iyah, Aef yang selalu mendapingi Abdul Latif, Tian yang telah menjadi pesaing berat Cucu Setiawan soal perebutan cinta seseorang, Syahrur Munir yang tinggi semampai, Ibi Muhibi yang jago membuat puisi, Dadan Ramdan yang kreatif, Kholil Ma'mun yang lebih memilih kelas 1 lagi agar agar ilmunya lebih muantabb, Maspupah yang besar tinggi dan Lina yang kembaran dengan Eni Nuraeni.

Karena rasa kebersamaan inilah kita terus jalin erat hubungan kita tanpa sekat yang melekat pada masing-masing kita baik dalam bentuk status, profesi, pangkat, jabatan atau lain sebagainya yang menghalangi kebersamaan kita. Saya, anda dan kita semua adalah sama keluarga besar MAKY Darussalam Ciamis atau minimal kita pernah mengenyam beberapa saat di kampus itu. Sekali lagi atas dasar itulah kita akan selalu bersama menjalin ukhuwah yang tidak boleh padam oleh ego.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda