Jumat, 05 Desember 2014


Menuju Puncak Gunung Gede-Pangrango

Setelah melakukan pendaftaran 1 minggu sebelumnya melalui website resmi, pendakian dimulai dari Gunung Putri Cianjur, salah satu pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango selain Selabintana di Sukabumi dan Cibodas di Cianjur. Saat sore menjelang, saya dan 2 orang teman lainnya melapor ke Petugas Pos di kaki Gunung. Berbekal ijin itulah pendakian Gunung Gede dimulai.

Dalam catatan wikipedia.org, Gunung Gede merupakan sebuah gunung yang berada di Pulau Jawa, Indonesia.Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede-Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.Gunung ini berada di wilayah tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian 1.000 - 3.000 m. dpl. Suhu rata-rata di puncak Gunung Gede18 °C dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 °C, dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm/tahun.

Gunung Gede diselimuti oleh hutan pegunungan,yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya. Hutan pegunungan di kawasan ini merupakan salah satu yang paling kaya jenis flora di Indonesia, bahkan di kawasan Malesia.Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara.

Sebagai pemula tentu pendakianini terasa berat mengingat ketinggian gunung melebihi 2000 dpl dengan track yang cukup terjal. Orang-orang mengkategorikannya dalam pendakian tingkat sedang. Hujan terus menerus mengguyur dengan derasnya memperberat beban cariel punggung yang berisi keperluan selama perjalanan dan di lokasi tujuan. Sungguh ternyata pendakian ini menguras fisikyang luar biasa, sayangnya tidak ada persiapan khusus soal itu, terutama jogging untuk memperkuat otot kaki dan paha ataupun sit up untuk memperkuat otot perut dan pernapasan.

Pos Pertama
Setelah 1 jam memasuki kawasan hutan gunung, tiba-tiba didera rasa lelah fisik dan mental luar biasa. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di pos pertama untuk memulihkan tenaga karena sebelumnya memang telah terkuras selama perjalanan dari Bogor ke Cianjur. Disertai gerimis yang menambah dinginnya angin pegunungan, tenda dipasang untuk sekedar jadi tempat bernaung. Perut diisi dengan bekal secukupnya dan sholat ditunaikan sambil berharap mendapat kekuatan dari Dia Al-Qowy .

Malam semakin larut. Udara bertambah dingin dan gerimis pun mulai reda. Kami merebahkan diri menjelajahi mimpi dengan perlengkapan sleeping bad  untuk penghangat suhu badan. Meski hanya berbantalkan tumpukan cariel mata dapat terpejam lelap diiringi murotottal Syekh Junaidi juz 29 yang terdengar mengalun merdu dari tape kecil di pojok tenda. Tuhan, terimakasih Engkau telah memberikan banyak kenikmatan sampai hari ini. Bismika Allahumma Ahya Wa bismika amut

Malam mulai pekat. Suara-suara jangkrik, katak, burung malam dan binatang kecil lainnya saling bersahutan. Tetesan air terdengar padu dari celah-celah pohon yang menimpa dedaunan. Bunyi gemeretak tak beraturan dari patahan ranting-ranting pohon yang telah rapuh jatuh saling berbenturan terhempas hembusan angin malam.

Waktu menunjukkan pukul 00.01 WIB, pertanda hari telah berganti. Kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Gede. Tenda dan barang-barang lain dikemas seperti semula. Setelah berolah raga kecil untuk memastikan kesegaran badan dan membersihkan sampah-sampah sisa makanan kami memantapkan diri melanjutkan perjalanan.Tiba-tiba 2 orang pendaki lain yang baru tiba di lokasi kami berkemah meminta untuk bergabung. Semangat kian menggumul merasuki aliran darah kami. Rasa takut kegelapan berganti kekuatan tekad. Niat pun menjadi kuat meski beban cariel  rasanya bertambah berat karena terguyur hujan tadi sore.

Berbekal sorotan terang dari lampu senter yang mulai tampak redup, mata dapat menyapu pandangan meski terbatas. Kaki mulai melangkah menyusuri jalur pendakian. Sesekali berhenti sejenak meneguk bekal air minum yang masih tersisa untuk sekedar menghilangkan dahaga yang menyekat tenggorokan. Jalur terkadang datar, kadang pula terjal. Mungkin karena jalurnya melingkar. Rasa dingin terkalahkan oleh bulir-bulir keringat yang keluar dari pori-pori.

Jalur pendakian diapit pepohonan berjajar rapat menjulang tinggi dengan kekarnya dan ditopang oleh akar kuat yang mencengkram perut bumi seolah ingin menunjukkan kewibawaan usianya kepada manusia yang melintas. Tumbuhan kecil merangkak naik meregenerasi pohon lain yang telah lapuk dimakan zaman. Serakan daun-daun berwana coklat kehitam-hitaman menutupi tanah pijakan yang lembab hingga bebatuan. Kabut turun menyelimuti udara yang semakin dingin menggigil. Jejak-jejak para pendaki di tanah dijadikan arah agar tidak tersesat di jalan.

Di ujung mata tampak titik temaram cahaya dalam kegelapan. Kami mendekat menghampiri. Cahaya semakin jelas dilihat. Sekumpulan pendaki lain tengah beristirahat sambil memasak makanan, mengisi perut yang sudah kosong.
Belum lama waktu berselang kami pun berpapasan dengan pendaki lain yang hendak turun gunung berjumlah 3 orang. Jumlah ini memang batas minimal yang dipersyaratkan Pengelola Taman Nasional untuk mengantisipasi kejadian tak terduga. Kami saling menyapa meski tidak kenal. Memang, di tengah hutan yang gulita seperti ini rasanya bertemu dengan sesama pendaki lain menjadi penyemangat tersendiri. Minimal perasaan kita mengatakan “you are not alone”.

Taman Suryakencana
Setelah hampir memakan waktu 7 jam perjalanan pendakian, akhirnya kami sampai di Suryakencana, sebuah dataran taman bunga Edelweiss yang sangat luas. Bunga nya khas. Hanya tumbuh di sekitar puncak gunung. Konon bunga ini disebut bunga abadi. Pohonnya tidak lebih tinggi dari ukuran tinggi kita. Rerumputan menghampar bak karpet hijau yang tertata rapi, digurat oleh sungai kecil memanjang dan dialiri air jernih nan segar. Udara pagi terasa sejuk meski matahari memancarkan sinar terangnya. Semilir angin menyelinap dalam balutan pakaian yang telah lusuh. Dari kejauhan di ujung mata, tersingkap pemandangan kota Cianjur yang dikelilingi perbukitan indah bagai lukisan alam. Awan-awan putih berkumpul menambah kemolekan ciptaan Tuhan. Subhanallah, Dialah Yang Maha Indah.

Di tempat inilah hampir seluruh pendaki menghentikan langkah kakinya untuk menikmati kesejukan udara dan pemandangan indah meski dalam waktu yang tidak lama. Tidak terkecuali kami yang tiba di lokasi ini pukul 7 pagi. Suasana terasa ramai. Di antara mereka ada yang sedang memasak. Adapula yang sedang sibuk mencari lokasi terbaik untuk pemotretan meski dari kamera handphone pinjaman kawan. Bahkan sebagian pendaki sudah ada yang berkemah sejak malam agar bisa menikmati munculnya matahari dari balik gunung dengan warna keemasannya yang mempesona.

Setelah istirahat sejenak untukmengendurkan otot kaki yang mulai kaku, kami pun memasak bahan makanan pengisi perut yang mulai kerocongan. Seakan para pendaki telah sepakat, rasanya tidak ada lagi makanan yang mengenyangkan dan mudah dimasak selain mie instan. Tidak perlu berdebat soal kandungan gizi atau bahan pengawet yang ada di dalamnya. Bagi kami yang penting dapat menambah asupan energi baru. Terlebih perjalanan ke puncak masih memerlukan waktu beberapa jam lagi. Kami saling berbagi. Rasa kebersamaan tumbuh begitu saja sesama pendaki. Duh, indahnya kebersamaan.

Matahari mulai merangkak naik.Tepat jarum jam berhenti di angka 8 kami berkemas bersiap diri melanjutkan pendakian menuju puncak. Dengan berbekal air minum yang diambil dari aliran sungai kecil untuk persiapan perjalanan kami memulai perjalanan. Kali ini melintasi track terjal dan berkerikil. Mungkin kerikil-kerikil ini adalah bekas muntahan Gunung Gede yang memang masih aktif. Sepanjang perjalanan dari Suryakencana menuju Puncak Gede ditumbuhi pepohonan kecil yang tidak terlalu tinggi. Pucuk pohonnya berdaun merah.

Sesama pendaki yang sedang naik ataupun turun gunung saling menyapa dan melempar senyum. Sebuah ungkapan perasaan bahagia dari masing-masing pendaki karena tujuan hampir atau telah tercapai. Bau belerang mulai tercium hidung. Semakin menanjak semakin kuat dirasa. Itu pertanda kawah Gunung Gede telah dekat. Suara bising terdengar diujung telinga. Mungkin mereka tengah melampiaskan kegembiraannya.

Puncak Gede
Jam hampir menanjak pada angka 10 pagi kami telah sampai di Puncak Gede. Senyum mengembang dari para pendaki. Bendera Indonesia berkibar-kibar seperti halnya semangat kami yang menyala-nyala. Keletihan berganti kesegaran. Rasa haru dan puas terpancar. Semua karena merasa tujuan telah tercapai. Banyak pendaki laki-laki maupun perempuan, pendaki lokal maupun asing berdiri di bibir kawah yang hanya dibatasi pagar kabel berfose sambil menikmati pemandangan yang menakjubkan. Asap putih membumbung ke atas mengepul dari celah-celah belerang di pinggir danau kawah berwarna biru yang memanjang itu. Tidak ada satupun pohon yang tumbuh di tepi jurang. Mungkin karena ada hawa panas yang menggelak-gelegak dari dasar danau yang suatu saat atas izin-Nya akan menggelegar memuntahkan isi beban perutnya.

Allah Maha Besar.
Kebesarannya ditampakkan melalui salah satu Gunung ini. Di sinilah sesungguhnya saat yang paling tepat bila kita ingin merenung lebih dalam dengan memperhatikan ayat-ayat-Nya. Betapa kecilnya kita meski sudah di puncak gunung. Kita tidak akan terlihat meski hanya setitik dari sudut manapun di ujung bawah sana. Tidak ada yang lebih besar selain Dia Yang Maha Besar. Allahu Akbar!

Sehebat apapun kita. Tidak ada kuasa sedikitpun atas alam bila tiba-tiba kawah bergerak menelan apa yang ada di atasnya dan memuntahkannya ke penduduk yang ada di bawahnya. Hanya Dia yang berhak sombong. Dialah al-Muttakabbir. Dialah as-Shomad dan Dialah al-Kabir. Sekali lagi, saya, anda atau siapapun kita semua adalah kecil di hadapan Sang Penguasa Alam Raya ini.

Gunung Gede-Pangrango, 6-7 April 2013

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda