Jumat, 05 Desember 2014


Lost in Sentarum

Perjalanan kali ini menjelajahi Taman Nasional Danau Sentarum yang terkenal di mancanegara itu. Di musim penghujan, danau ini digenangi air yang mencapai ketinggian 6-14 meter. Namun di musim kemarau berubah menjadi daratan dan rawa-rawa yang indah. Memiliki kekayaan flora dan fauna yang luar biasa. Dihuni oleh berbagai jenis hewan langka; buaya, ular, biawak, ikan dan lain-lain. Bahkan Sentarum tercatat sebagai salah satu habitat ikan air tawar terlengkap di dunia. Salah satu penghuni aslinya ikan arwana telah menembus pasar internasional. Luasnya kawasan danau mencapai 132.000 hektar.

Saat ini jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Langit kota Putussibau telah terang oleh sang surya. Putussibau merupakan ibu kota kabupaten Kapuas Hulu, sebuah kabupaten paling ujung dan terjauh dari Kota Pontianak Kalimantan Barat. +700 KM! Setelah sarapan dengan beberapa lembar roti kering yang telah dipanggang di penginapan, kami berangkat menelusuri jalanan sejauh 120 KM. Jalanan panjang dan berliku ini terhampar sangat rapih meskipun di beberapa titik masih dalam penyelesaian pengaspalan. Kadang menanjak kadang menurun mengikuti kontur jalanan yang berbukit-bukit. Dihimpit oleh pepohonan hutan yang menjulang tinggi dan bentangan sawah padi yang baru ditanam penduduk lokal setelah buka lahan hutan. Sayangnya pembukaan lahan hutan dengan cara dibakar ini menyebabkan beberapa petak pohon lain turut hangus, meskipun pohon-pohon itu masih berdiri kokoh tapi kondisinya sudah menghitam legam menjadi arang.

Jalanan sepi. Hanya hitungan jari kendaraan lain melintas. Hawa sejuk pagi sungguh menyegarkan. Bulir-bulir embun di dedaunan menetes satu demi satu, rembes dalam tanah. Perjalanan memakan waktu 3 jam lebih. Tepat jarum jam berhenti di angka 10, kami tiba di Lanjak, sebuah kecamatan yang menjadi jalur penghubung menuju Taman Nasional Danau Sentarum. Juga 46 km menuju kecamatan Badau, salah satu border perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat selain Entikong di Kabupaten Sanggau, Sajingan di Kabupaten Sambas dan Kecamatan Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang. Lebih dekatnya jarak ke Serawak Malaysia daripada Kota Putussibau sebagai ibukota Kabupaten menyebabkan hampir seluruh barang-barang yang ada toko itu adalah made in Malaysia; minuman, makanan hingga tabung gas. Bahkan mobil-mobil yang berflat asing hilir mudik di jalanan ini.

Selamat Datang di Sentarum
Setelah rehat sejenak dan menyiapkan perbekalanan makanan yang cukup di salah satu warung makan, tepat pada pukul 11.00 kami bersiap melanjutkan penjelajahan ke Taman Nasional Sentarum. Konon pesonanya mampu menghipnotis para wisatawan mancanegara dengan ragam tujuan. Ada yang sekedar ingin tahu seperti kami, tapi lebih banyak yang bertujuan untuk hiking ataupun penelitian flora dan fauna. Hal ini terungkap dari hasil obrolan dengan para bule saat di penginapan di Putussibau ataupun catatan buku tamu di Taman Nasional Danau Sentarum.
Saat ini danau sedang mengering karena musim kemarau sehingga yang terlihat adalah hamparan daratan luas nan hijau seperti savana yang dibelah beberapa sungai besar. Padahal saat pasang ketinggian air mencapai 6 meter lebih hingga menutupi pepohonan yang tumbuh di tengah danau. Kami memulai perjalanan menjelajahi danau dengan naik ojek terlebih dahulu menuju lokasi yang masih terdapat genangan air yang lebih dalam. Mereka menyebutnya dermaga meski tidak terlalu tepat istilah itu.

Destinasi utama kami di Danau Sentarum ini adalah Pulau Tekenang. Start dari dermaga ini perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri genangan air yang membentuk rawa dan sungai panjang. 2 speed boat siap membawa kami menjelajahi salah satu danau terpenting di dunia karena ragam hayatinya yang langka. Kapasitas masing-masing speed boat hanya 4 orang. Bak seperti para peneliti di National Geografic, kami mengamati setiap jengkal rawa-rawa. Mata dipicingkan ke kanan dan ke kiri mencari-cari sesuatu yang mungkin terjadi secara alami di alam terbuka ini yang sayang kalau dilewatkan. Perasaan senang dan takut campur aduk dalam perjalanan ini. Senang karena merasakan pengalaman mengesankan. Perasaan takut muncul karena kadang terlintas bayangan film-film dokumenter tentang hewan-hewan buas di rawa.

Di tepi sungai sekumpulan burung bangau putih tiba-tiba terbang berpindah dari satu daratan ke daratan lain. Susunan formasi terbangnya terlihat cantik menghiasi langit biru. Terlihat pula beberapa burung elang mengitari langit mencari mangsa hewan untuk sekedar makan. Sempat pula menyaksikan adengan burung yang memangsa ikan dengan cara meluncur deras menghujam permukaan air. Hasilnya seekor ikan memenuhi paruh burung yang panjang. Kemudian dibawanya ke daratan untuk proses pencernaannya.

Sepanjang perjalanan air ini beberapa kali menemukan sederetan gubuk para nelayan di bibir sungai. Mereka tinggal di gubuk-gubuk itu hanya saat musim air danau surut. Kembali ke kampungnya saat air danau pasang. Ikan dan madu menjadi buruannya untuk dijual di pasar.
Pukul 14.00 speed boat sampai dan menepi di Pulau Tekenang. Pulau yang berkontur bukit ini menjadi Kantor Pusat Observasi Alam Taman Nasional Danau Sentarum yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan. Setelah mengisi daftar tamu dan membayar biaya perijinan, kami mulai diijinkan mendaki bukit yang memiliki ketinggian 500 dpl. Jalur tracking yang sudah dibuatkan tangga membuat para pendaki menjadi mudah dan terarah. Terlebih disediakan pula tempat istirahat di beberapa titik pemberhentian.

Berada di puncak bukit Pulau Tekenang sungguh memberikan sensasi rasa tersendiri. Terbayar lunas sudah kelelahan perjalanan yang dilalui. Mata dapat menyapu seluruh pandangan menakjubkan di Danau Sentarum. Sungai-sungai panjang bercabang meliuk-liuk di danau sentarum yang sedang mengering. Jika danau sedang pasang yang terlihat sejauh mata memandang hanyalah gugusan pulau kecil serta pucuk pepohonan yang tinggi di tengah hamparan air yang sangat luas membentang.

Berpuas diri di Pulau Tekenang sampai waktu telah beranjak sore. Di pukul 15.00 kami melakukan perjalanan kembali ke dermaga di kecamatan Lanjak. Belum separuh perjalanan kami mampir di beberapa gubuk yang dihuni para nelayan untuk membeli ikan danau yang telah dikeringkan dan beberapa liter madu asli untuk sekedar oleh-oleh.

Dalam perjalanan pulang matahari sore tidak lagi menyengat. Awan di langit bergumpal cukup memberikan keteduhan. Air sungai terasa tenang. Sesekali ikan dari kejauhan terlihat melompat. Masih terlihat pula sekumpulan burung bangau di tepi genangan air. Ketenangan dan kesenangan kami tiba-tiba terusik karena speed boat yang kami tumpangi secara perlahan mendadak berhenti. Mesin diesel dipaksakan hidup tetap saja tak kunjung berhasil. Ternyata bensin telah habis. Celakanya tidak ada sedikitpun minyak cadangan. Sementara speed boat yang lain telah jauh meninggalkan kami. Deru suara mesinnya tak lagi terdengar.

Perahu yang berkapasitas 4 orang itu didayung menepi karena air sedikit demi sedikit mulai masuk ke lambung speed boat yang telah tua itu. Kami disarankan pemilik Speed boat untuk berjalan kaki menelusuri daratan danau yang telah mengering itu karena menurutnya lokasi dermaga sudah dekat. Sementara dia sendiri mendorong perahunya menyusuri sungai.

Tersesat
Senangnya kami berempat dapat menginjak rerumputan yang telah menghijau. Seakan berada di lapangan golf terluas di dunia. Senyum sumringah masing-masing kami merekah. Terdokumentasikan dalam jepretan kamera ponsel yang sudah lowbat. Pemandangan indah ini tersaji alami. Lembayung senja dari pancaran matahari sore memantul cantik dalam genangan air. Tidak salah kalau danau ini telah memikat banyak turis.

Kaki ini telah melangkah hampir satu jam, namun dermaga tempat semula kami mulai berlabuh tak kunjung terlihat. Cahaya di langit pun mulai redup. Kami berpandangan satu sama lain. “Jangan-jangan kita sedang tersesat”. Celetuk salah satu kawan. Saat itulah kepanikan terjadi. Rasa senang berubah menjadi penuh kekhawatiran. Jantung mulai berdebar.

Langit telah pekat. Tak ada sedikit pun benda langit yang memancarkan cahayanya. Ponsel kami yang masih on hanya tersisa satu. Selebihnya tak berguna sama sekali, meski hanya sebagai penerang jalan. Kami berusaha menghubungi tim lain melalui ponsel untuk meminta bantuan, namun kami sendiri tidak tahu di mana posisi kami persisnya. Tidak ada petunjuk yang bisa dijelaskan. Semua terlihat gelap di tengah luasnya cekungan danau yang telah menjadi daratan dan rawa itu. Sempat terdengar suara mesin speed boat melintas di kejauhan, namun suara teriakan kami terdengar percuma.

Pandangan semakin terbatas. Tidak lagi mampu membedakan mana genangan air mana hamparan pasir putih. Jalanan kadang berumput, kadang berpasir dan kadang pula tergenang air. Semua harus dilalui. Tidak ada pilihan. Alas kaki yang semula terasa nyaman, kini dipenuhi lumpur. Gerimis sempat turun meski tidak terlalu lama. Entah berteduh dimana jika gerimis berubah menjadi hujan lebat. Apalagi hujan petir. Tidak hanya itu, genangan air pun akan meninggi. Bayangan para penghuni asli rawa yang sedang mencari makan di malam hari terlintas dalam benak meski tidak berani untuk saling mengungkapkan agar situasi tetap kondusif. Bagaimanapun sejatinya saat ini kami sedang berada di dalam cekungan danau walaupun sedang surut.

Meski diliputi rasa cemas, kaki tetap terus melangkah. Kami tidak menduga sejauh ini jarak yang harus ditempuh. Mungkin jika diperhatikan secara detil saat pemilik perahu menunjuk arah dermaga dengan jari jempolnya dan mengatakan dekat, ternyata jari jempolnya itu melengkung. So jalanan kami pun melengkung-lengkung sesuai bentuk jari itu.

Rasa optimis tiba-tiba muncul saat terlihat di kejauhan ada setitik cahaya merah. Aku menduga pasti itu tower seluler yang dipancang di ketinggian. Lampu berwarna merah itu seakan menjadi penunjuk jalan meskipun kami sendiri tidak tahu persis daerahnya. Pastinya itu berlokasi di daratan sesungguhnya. Semangat kami menyala kembali setelah lelah mendera hebat. Tidak hanya fisik juga mental. Rasa cemas dan senang telah bercampur aduk. Harapan selamat mulai nampak. Kami melangkah pasti. Tidak cepat. Tidak pula lambat. Tujuan mulai jelas. Cahaya merah itu seakan mendekat karena terlihat membesar. Di tengah perjalanan kami dihadang genangan air yang luas. Kini tidak ada lagi daratan yang bisa dipijak. Jalanan menjadi buntu. Kami coba menembus genangan air, ternyata semakin jauh semakin dalam. Kami mundur kembali sambil berharap ada bantuan datang menuju tempat kami berdiri.

Cahaya Terang
Di ujung mata 2 sinar terang bergerak-gerak menerangi daratan pijakan kami. Spontan kami berteriak dengan sekuat tenaga. Melompat-lompat sambil melambaikan tangan. Cahaya ponsel digerakkan. Segala upaya diusahakan agar cahaya itu terarah. Usaha ini berbuah hasil. Cahaya itu tepat menerangi kami. Alhamdulillah, kami girang bukan kepalang. Terlebih beberapa menit kemudian cahaya itu mulai mendekat. Terlihat 2 sosok penjemput di ujung genangan air yang gelap mulai mengarahkan jalan dengan gerakan lampu yang dibawanya.

Kami mengikuti arah gerakan itu hingga mendapati genangan air yang tidak terlalu dalam. Kami melintasinya penuh hati-hati. Air hanya setinggi lutut. Ungkapan terima kasih yang tak terhingga kepada para penjemput. Kami mulai mengatur napas agar lebih rileks untuk meneruskan perjalanan menuju dermaga. Senyum kami merekah sejadinya bak bunga mekar di pagi yang cerahSesampai di dermaga kami naik ojek untuk kembali ke warung makan sekedar melepas lelah. Wajah-wajah muram berubah sumringah. Kini waktu telah berputar ke angka 7. Setelah membersihkan diri dari kotoran lumpur dan menunaikan shalat kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Putussibau. Selama perjalanan tidak henti-hentinya kami bercerita soal suka dan duka dalam ketersesatan. Kami menyebutnya Lost in Sentarum: Terlalu indah tuk dilupakan. Terlalu sakit tuk dikenang.
Perjalanan menuju "dermaga"
Gerbang Pulau Tekenang


Si Anak Bertanya pada Sang Bapak

Suatu hari di stasiun Bojonggede Bogor, seorang laki-laki berkumis dan berambut hitam tebal, badan gempal dan berpakaian necis tengah duduk menanti kereta tujuannya sambil membaca koran harian langganannya. Stasiun terlihat lengang penumpang mengingat waktu telah beranjak siang. Sesekali terdengar suara bising dari para pekerja yang sedang merenovasi fasilitas stasiun. Para petugas berseragam keluar masuk ruang kantor yang bercat putih gading dan berarsitektur Eropa tua itu. Tampaknya PT.KAI tetap mempertahankan bentuk asli bangunan peninggalan Belanda tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring pengumuman soal kedatangan kereta dari corong speaker yang terpasang di beberapa sudut peron. Laki-laki itu pun beranjak dari tempat duduknya untuk bersiap naik kereta, namun karena dalam pengumuman itu tujuan kereta berbeda dengan tujuan laki-laki itu ia pun duduk kembali di tempat semula meneruskan bacaan korannya.

Dari kejauhan seorang anak ABG memperhatikan gerak gerik laki-laki itu. Ia pun duduk mendekatinya ingin melihat lebih jelas tahi lalat yang terdapat di sebelah kiri dagu laki-laki itu. Dalam pikirannya laki-laki itu pasti seorang artis yang dulu terkenal sebagai Si Doel yang sekarang telah menjadi Wakil Gubernur.
Rasa polos dan ingin tahunya mendorong ia menghampiri laki-laki itu.
“Maaf pak, Bapak kayaknya Rano Karno yah?” Tanya anak itu tiba-tiba sampai laki-laki itu sedikit terkejut karena sedang khusyu membaca Koran.

“Bukan!” sahut laki-laki itu sambil kembali memperbaiki posisi duduk seperti semula untuk membaca koran.

Selang beberapa menit anak ABG itu menghampirinya kembali untuk mengulang pertanyaan yang sama. Jawaban yang dilemparkan sang bapak itu pun tetap sama bahwa ia bukan Rano Karno seperti yang diduga anak ABG itu.

Jawaban tegas lelaki itu tidak membuat si anak puas hingga akhirnya ia bertanya kembali dengan rasa penasaran yang lebih tinggi.
“Bapak pasti Rano Karno yah yang sering saya lihat di TV?” tanya anak itu kembali dengan wajah sumringah dan mulut menyeringai.

Bermaksud ingin memuaskan rasa penasaran dan menghindari “gangguan” si anak ABG itu, Bapak yang disebut mirip Rano Karno itu dengan ketus dan sedikit emosi menjawab.
“Iya saya Rano Karno, emang kenapa dik?” Jawab sang bapak dengan nada lebih tegas sambil menunjukkan tahi lalat yang menempel di dagu.

Dengan wajah yang nampak lebih bingung dan dahi mengkerut tidak karuan, si anak ABG itu berkata penuh keheranan.
“tapi kok ga mirip yah pak?


Penghormatan Terakhir Kita

Rasanya baru kemarin kita melintasi bersama almarhumah selama 3 tahun di Darussalam Ciamis. Padahal sudah belasan tahun lalu. Cerita suka dan duka dialami bersama. Canda dan tawa selalu mengiringi. Dia memang orang yang luar biasa. Bahkan bisa dibilang bukan orang rata-rata seperti kebanyakan kita. Selalu menjadi yang terbaik di kelas dalam soalan prestasi belajar. Keuletannya dan kesenangannya dalam bersosialisasi dapat dilihat pada aktivitasnya di OSIS, Pramuka dan Paskibra.

Karena rasa duka yang mendalam itulah kita atas nama para sahabat alumni MAK’98 menetapkan waktu di hari Sabtu, 26 April 2014 untuk bertakziyah, memberikan penghormatan terakhir bagi sahabat kita ini. Di tengah kesibukan pekerjaan kita masing-masing yang tidak berkesesudahan. Tepat pukul 11.00 kita menyempatkan diri bertemu dan  berkumpul di rumah orang tua almarhumah di Sangkanhurip Kuningan.

Ada rasa yang membeku saat kita berdiri persis di hadapan rumahnya yang asri dan bersih. Rumah yang terlihat lebih tua dari penghuninya itu bercat kuning pudar. Desain bangunannya masih mempertahankan pola lama. Di sisinya berdiri sebuah musholla kecil dengan warna yang sama.Antara percaya dan tidak kita berkunjung ke rumahnya justru saat dia sudah tidak ada.

Pintu dibuka oleh seorang bapak yang masih terlihat gagah meski di sudah di usia sepuh, mempersilakan kita untuk masuk. Disambut pula oleh ibunya dengan tangan terbuka. Di dalam rumah yang sederhana ini kita lihat ada foto-foto yang masih menggantung di dinding mempertegas sosok bayangan almarhumah. Seakan dia tengah hadir bersama kita. Menatap kita, menyalami dan menyapa kita satu persatu dengan senyumnya yang merekah. Mungkin karena senang atas kedatangan kita.

Setelah kita dipersilakan duduk di hamparan anyaman tikar, salah seorang dari kita menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan. Bercerita soal masa lalu yang pernah kita lewati bersama. Kata-katanya yang terbata-bata jelas menunjukkan rasa sedih itu meski dikemas dengan sedemikian rupa. Tentu rasa itu dialami oleh kita semua. Dada mulai sesak. Membayangi sosoknya di 15 tahun silam saat masih bersama-sama duduk di bangku MAK. Mungkin di antara kita tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Mungkin juga sebagian kita justru baru beberapa bulan yang lalu bertemu dengannya, bercengkerama dan bercerita. Mungkin ada pula yang hitungannya hanya beberapa jam sebelum kepergiannya, sempat berkomunikasi lewat BBM. Namun takdir berkata lain.

Akhirnya tangis kita tak terbendung. Air mata kita tumpah saat orang tuanya mengungkapkan kronologi kejadian meninggalnya almarhumah. Suaranya terasa berat. Semakin berat. Air matanya deras mengalir. Tak kuasa memendam rasa duka di hati. Sesekali sang bapak melepas kacamatanya untuk menyeka mata yang berair agar dapat melanjutkan kata-katanya. Tak ketinggalan sang ibu meratapi anaknya yang justru malah mendahului dirinya. Sekali lagi ternyata takdir berkata lain.

Sesuai dengan rencana, setelah dzuhur kita menyempatkan diri berdoa bersama di hadapan pusara. Lagi-lagi tangis kita pun pecah saat melihat gundukan tanah yang masih basah penuh taburan bunga yang tertulis atas nama sahabat kita. Sahabat yang tidak pernah menyerah atas derita yang dirasa selama 5 tahun menahan sakit ginjal. Tidak ada keluh kesah. Sahabat kita yang hebat itu Yuyun Yurnaningsih. Dia telah meninggalkan kita selamanya dan meningalkan suami dan anaknya yang masih kecil pada hari Jum'at, 18 april 2014 Pukul.17.45 WIB
Selamat jalan sahabat! Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu‘anha


Traveling ala Backpacker

Berbekal tiket promo murah yang sudah diburu sejak 2 bulan yang lalu, akhirnya pada tanggal 4 April 2014 perjalanan ini dimulai. Sebuah perjalanan yang sarat pengalaman dalam suka dan duka bagi kami, saya dan istri. Apapun itu, sesungguhnya setiap perjalanan kemanapun menjadi sumber ilmu yang sangat berharga karena pengalaman adalah guru yang terbaik. Terlebih traveling ini pun dilakukan ala backpacker.

Dengan menggunakan maskapai Tiger Airways dari Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta, tepat pukul 07.30 WIB pesawat take off menuju Singapura. Penerbangan Jakarta-Singapura memakan waktu hanya 1 jam 15 menit namun karena waktu Singapura 1 jam lebih cepat daripada waktu Jakarta maka tiba di Changi International Airport pukul 09.45 waktu Singapura.

Sungguh sangat disayangkan jika tiba di Changi International Airport melewatkannya begitu saja apalagi bagi yang pertama kali, Kita dapat menikmatinya dengan berjalan santai ke sana ke sini mengunjungi beberapa gerai toko yang tertata rapih bak berada di sebuah supermall nan megah.
Tentu saja bukan untuk membeli sesuatu tapi hanya sekedar melihat harga yang tertera dalam benda-benda yang dipajang itu. Setelah menganggukan kepala berkali-kali kami pun lantas keluar di toko tanpa banyak bicara. Maklum perjalanan ini ala backpacker kawan!

Permadani terhampar luas. Suasana ramai tapi tidak gaduh. Lampu penerang sekaligus penghias dipasang di beberapa titik menambah suasana nyaman berlama-lama di bandara mewah ini. Tersedia pula fasilitas kereta yang terkoneksi antar terminal dalam bandara. Namun sayangnya karena keterbatasan waktu tidak sempat menikmati fasilitas ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Itu artinya destinasi berikutnya telah menanti.

Setelah menukarkan rupiah ke dolar singapura yang nominalnya makin menciut, palang pintu pertama yang harus dilewati sebelum masuk Singapura adalah imigrasi yang terkenal angker. Tidak banyak pertanyaan petugas karena semua dokumen telah lengkap selengkap-lengkapnya. Kalau perlu surat keterangan RT/RW disiapkan. Hati pun terasa lega. Kini saatnya berpetualang ke dua negara sekaligus; Singapura dan Malaysia. Ibarat pepatah melayu, sekali dayung dua negara terlampaui.

Karena di Singapura direncanakan hanya satu hari, maka kami membeli STP (Singapore Tourist Pass) one day seharga $10. STP adalah kartu pass yang bisa digunakan untuk menaiki transportasi umum di Singapura secara tak terbatas. Kita cukup membeli kartu ini, dan kita bisa naik angkutan umum MRT, LRT serta bus berulang kali tanpa membayar lagi. Kartu ini lebih praktis karena tidak perlu mengantri kembali untuk membeli kartu standar setiap melakukan perjalanan dengan naik kendaraan umum. Kartu ini pun dan dapat direfund di beberapa ticket office setelah tidak kita gunakan lagi dengan batas waktu tertentu.

Shalat Jum’at di Singapura
Sesuai itinerary yang sudah dibuat, shalat jum’at ditunaikan di Masjid Jami’ Sultan di wilayah Bugis, semacam kampung Arab-Melayu. Rute untuk mencapai lokasi ini pun cukup mudah karena peta MRT ini sangat jelas. Dengan kartu STP kita bisa menggunakan MRT dari Changi International Airport, kemudian transit di Stasiun Tanah Merah untuk melanjutkan perjalanan ke Bugis Street.

Saat shalat jum’at Singapura sempat diguyur hujan padahal sudah berbulan-bulan langitnya tidak lagi menurunkan air meski setetes. Khotib jum’at tadi juga sempat menyinggung dalam khutbahnya tentang hemat air dan shalat istisqo. Alhamdulillah, semoga hujan ini mendatangkan rahmat bagi Singapura.

Selepas jum’atan, panas matahari kembali menyengat. Langit menjadi terang benderang. Orang-orang pun kembali hilir mudik beraktivitas dengan kesibukannya masing-masing. Di tengah terik, perut tak lagi kuasa menahan rasa lapar dan dahaga. Saatnya mencari sumber kehidupan. Tentu saja bukan di restoran elit yang bisa menguras banyak dolar tapi cukup tempat makan yang terjangkau dan halal, KFC. Sialnya tempat makan ini tidak menyediakan nasi padahal sedari pagi belum ketemu nasi walaupun sebetulnya sudah makan roti bertumpuk-tumpuk di Bandara Soekarno Hatta. Karena belum makan nasi rasanya belum afdhol makan.

Energi sudah terisi penuh. Semangat kembali menyala. Siang itu juga perjalanan dilanjutkan ke destinasi utama yaitu Merlion Statue, sebuah ikon Negara Singapura yang berbentuk badan ikan tapi kepalanya singa. Kata orang, ke Singapura tanpa berkunjung ke lokasi ini rasanya seperti lulus kuliah tanpa wisuda. Kebayang kan kawan? So, kunjungan ke sini menjadi wajib!
Dari Bugis street kita dapat menyusuri hutan beton yang menjulang-julang dengan jalan kaki. Bingung? Tanya kanan kiri pasti sampai tujuan. Masyarakat disini sangat informatif dan negara ini sangat menghargai para pejalan kaki dengan fasilitas pedesterian yang luas.

Waktu menunjukan pukul 15.00, langit Singapura sangat cerah secerah hati kami yang telah menuntaskan destinasi utama ke Singapura. Perjalanan dilanjutkan ke Little India sekedar untuk membeli souvenir yang tentu saja murah, bukan ke Orchad Street yang terkenal sebagai surga belanja buat mereka yang berkantong tebal. Kali ini perjalanan mencoba menggunakan bis sekaligus merasakan bagaimana nyamannya naik bis umum di Singapura. Setelah bertanya ke kanan kiri naiklah bis 131. Modalnya tentu saja STP, yang bisa digunakan selain untuk naik monorail, kartu ini juga dapat digunakan untuk naik bis kota. Cukup tapping STP di mesin samping sopir, langsung tancap gas. Taaaarik mang!

Sesuai dengan namanya Little India tentu saja semuanya serba India. Bau dupa yang menyengat, lalu lalang orang yang berpenampilan ala India hingga suara musik dari toko-toko sekitar yang memperdengarkan lagu-lagu dari film bollywood. Hmm...aca..aca..sambil geleng-geleng kepala, serasa di New Delhi. Tujuan ke Little India ini adalah ke tempat belanja favorit para Backpacker yang tidak menguras isi dompet, Mustofa Center.

Hari semakin sore, waktu menunjukkan pukul 16.30. Matahari di langit Singapura mulai redup. Dolar makin menipis. Sesuai dengan rencana perjalanan yang sudah dibuat, maka destinasi berikutnya adalah Kota Kuala Lumpur Malaysia. Sebetulnya banyak tersedia bis bahkan kereta dari Singapura tujuan Kuala Lumpur langsung, namun karena pertimbangan ekonomis perjalanan ke Kuala Lumpur ini dimulai dari Johor Baru. Uang yang digunakan di wilayah ini tentu saja RM yang nilainya jauh lebih rendah dari $. Termasuk biaya perjalanan naik bis inipun dicas ringgit

Dari Little India menggunakan MRT menuju Stasiun Kranji lalu dilanjutkan dengan bis Causeway Link/170. Karena bertepatan dengan akhir pekan ternyata di luar stasiun ini banyak sekali warga Singapura yang hendak menyebrang ke Johor Baru dengan menggunakan bis. Akhirnya harus mengantri panjang. Sesaat kemudian bis menuju perbatasan datang, dalam waktu singkat sudah terisi penuh penumpang. Meski cukup sesak kondisi bis tetap nyaman.

Setiba di Gedung Imigrasi Singapura, orang-orang sedikit berlari untuk mengantri lebih awal di pos pemeriksaan. Meski hari ini sangat banyak orang yang hendak keluar Singapura, namun antrian cepat terurai karena banyaknya petugas yang melayani pemeriksaan dan stempel paspor. Setelah itu antrian kembali mengular untuk naik bis menuju pos pemeriksaan Malaysia yang berlokasi di JB Central. Dalam JB Central terdapat stasiun kereta tujuan Kuala Lumpur, namun karena rencana awal ke Kuala Lumpur menggunakan bis maka perjalanan dilanjutkan ke Larkin. Terminal bis jarak jauh ini cukup rapi meski banyak calo-calo yang menawarkan tiket. Bis di sini pun datang dan pergi sehingga walaupun tidak sebesar Terminal Kampung Rambutan kondisinya cukup tertata rapi. Tidak ada bis yang berhenti lama menunggu penumpang di Plat Form. Tersedia pula toko-toko makanan, pakaian hingga mainan. Untuk keperluan shalat terdapat juga masjid yang cukup luas di lantai 3.

Tepat pukul 00.30, bis dengan tarif RM27 berangkat menuju Kuala Lumpur. Kondisinya sangat nyaman, full AC dan luas. Perjalanan ditempuh selama 5 jam. Waktu yang cukup untuk melepas lelah setelah seharian berjalan serba cepat baik saat keliling Kota Singapura maupun saat menaiki dan menuruni tangga di border imigrasi Singapura dan Malaysia. Juga saat berdiri dalam antrian yang mengular untuk menunggu giliran masuk bis lintas negara. Tidur pun sangat lelap, ditemani mimpi.

Bis mulai memasuki Kota Kuala Lumpur. Di tengah kegelapan tiba-tiba segerombolan orang bertopeng menghentikan bis secara mendadak. Sang sopir sekuat tenaga menginjak rem. Bis sedikit oleng. Di tengah kegaduhan penumpang masuklah gerombolan itu dalam bis dengan senjata api yang terkokang di tangan, berteriak-teriak dan memukul pintu secara kasar. Semua penumpang kaget bukan kepalang. Tidak ada satu penumpang pun yang berani menegakkan kepala atau sekedar melihat wajah para perampok yang memang gelap. Suasana semakin mencekam dan badan terasa bergetar hebat saat satu persatu semua penumpang ditanya. Jantung rasanya mau lompat. Tulang-tulang berubah menjadi lunak tak mampu lagi menopang tubuh yang sudah lemas. Saat giliranku dia menepuk bahu. Semakin lama semakin kencang hingga membangunkan tidurku. “Bangun...bangun...sudah sampai Terminal Puduraya Pak”. Sambil mengusap mata, semua barang dikemas karena bis telah sampai.

Sabtu, 05 April 2014
Wellcome to Kuala Lumpur
Pagi masih buta. Langit Kuala Lumpur masih gulita. Jam menunjukkan angka 5. Jalanan pun masih sepi. Satu dua taksi lewat mencari penumpang. Bis berhenti di Terminal Puduraya, salah satu terminal di Kuala Lumpur yang cukup besar. Lantai 1 untuk parkiran bis dengan berbagai tujuan jarak jauh. Lantai 2 sebagai ruang tunggu penumpang dan lantai 3 terdapat fasilitas musholla dan layanan kereta dalam kota. Sambil menunggu waktu shubuh tiba pukul 06.00 sisa waktu singkat ini dimanfaatkan untuk beristirahat di ruang tunggu dengan membiarkan mata yang masih ingin terpejam.

Pukul 08.00 matahari pagi diujung timur mulai merangkak naik. Sinarnya menyelinap dari balik gedung-gedung tinggi menjulang menerangi langit Kuala Lumpur yang mulai terang perlahan. Hari ini tidak terlalu diburu waktu sehingga setelah membersihkan diri di terminal Puduraya langkah pertama yang dituju adalah tempat makan. Menu sarapan kali ini adalah nasi lemak dan teh tarik yang hangat. Hmm....nikmatnya, alhamdulillah. Destinasi pertama yang dikunjungi di Kuala Lumpur ini adalah Batu Cave, sebuat tempat ibadah umat Hindu sekaligus lokasi wisata yang terletak di ujung Kuala Lumpur.

Karena dari Puduraya tidak menemukan bis kota yang langsung menuju Batu Cave, akhirnya untuk mencapai lokasi harus menggunakan bis 2 kali. Tidak banyak penumpang yang naik turun bis. Jalanan masih sepi dan tidak ada kemacetan. Mungkin karena hari ini hari Sabtu, hari libur bagi para pekerja formal. Ongkos bis RM1.

Patung berwarna kuning keemasan di samping mulut goa menyambut kedatangan setiap pengunjung di Batu Cave. Tingginya yang menjulang dan warnanya yang mentereng membuat patung ini sudah terlihat dari kejauhan. Banyak mengunjung yang hadir. Terutama mereka yang hendak melakukan ritual ibadah di tempat suci ini. Meskipun begitu kehadiran para pengunjung lain yang bertujuan wisata tidak menggangu kekhusuan mereka. Mulutnya terus menerus melapalkan sesuatu sambil berjalan cepat menaiki tangga demi tangga tanpa alas kaki menuju mulut goa yang di dalamnya ada tempat ibadah. Luar biasanya tangga itu berjumlah 264 anak tangga. Betul, angka tersebut didapat saat kaki mulai melangkah sambil menghitung. Sayangnya saat turun angka itu berbeda. Entahlah kawan!

Waktu sudah mulai beranjak siang. Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati air kelapa yang melegakan tenggorokan, perjalanan dilanjutkan ke penginapan yang sudah dibooking sebelumnya seharga RM60. Lokasinya cukup strategis di pusat keramaian kota Kuala Lumpur yaitu Bukit Bintang. Dari Batu Cave menaiki kereta menuju KL Central. Kemudian dilanjutkan dengan monorail sampai Bukit Bintang. Alhamdulillah, akhirnya dapat beristirahat di hotel yang sudah dipesan lewat booking.com. Meski kamarnya sangat kecil dan murah namun tetap bersih. Petugas hotel yang berasal dari Bangladesh ini pun sangat friendly. Terlebih saat ngobrol ngalor ngidul cerita tentang pengamalannya bekerja di Kuala Lumpur yang baru 6 bulan.

Sore menjelang, destinasi berikutnya adalah Twin Tower Petronas. Menara kembar tertinggi di dunia ini menjadi icon sekaligus kebanggaan masyarakat Malaysia. Berlokasi di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC). Dari Bukit Bintang naik Monorail ke Stasiun Bukit Nanas, lalu berjalan kaki sejauh 300 meter menuju ke stasiun Dang Wangi untuk melanjutkan perjalanan dengan LRT (Light Rail Transit) menuju ke KLCC. Tiba di sini, kemegahan dan keindahan menara semakin terasa di tengah himpitan gedung-gedung tinggi menjulang. Masing-masing pengunjung sibuk mencari spot terbaik untuk melakukan pemotretan. Termasuk kami.

Ada pemandangan yang tidak menarik saat makan kari kambing di sebuah restoran seberang menara. Rasa sedih di dada melihat seorang pelayan restoran dimarahi oleh pemiliknya lantaran hanya gara-gara masalah sepele. Belakangan diketahui setelah tidak sengaja minta tolong untuk foto di luar tempat makan ternyata pelayan muda itu orang Malang Jawa Timur yang baru bekerja 8 bulan di Malaysia.

Puas berlama-lama di sekitar menara, menjelang magrib kembali ke penginapan. Kali ini menggunakan bis gratis yang telah tersedia di halte Petronas menuju Bukit Bintang. Hari semakin malam. Lampu-lampu mulai terang menghiasi kota Kuala Lumpur yang eksotis. Keramaian Bukit Bintang yang penuh dengan pusat perbelanjaan menghipnotis siapapun yang masuk dalam pusarannya. Siang malam tak ada bedanya, tetap ramai. Karena perjalanan masih harus dilanjutkan besok hari, saatnya beristirahat merebahkan badan yang telah diterpa lelah. Mengumpulkan tenaga yang masih tersisa untuk destinasi berikutnya. Bismika Allahumma Ahya Wa Bismika Amut.

Ahad, 6 April 2014
Matahari pagi mulai memancar terang. Jalanan masih saja sepi oleh lalu lalang kendaraan. Mungkin karena hari ini masih libur. Sebelum kembali ke Indonesia destinasi hari ini adalah Putra Jaya, lokasi kantor pemerintahan Ibu Kota Malaysia yang tertata sangat rapi sampai dijadikan destinasi wisata.

Untuk memenuhi asupan tenaga, kali ini menu sarapannya adalah roti cane. Tentu saja dengan ditemani teh tarik yang hangat dan nikmat. Dari Bukit Bintang naik monorail menuju KL Sentral. Perjalanan ke Putra Jaya dilanjutkan dengan KLIA Transit, turun Stasiun Cyber Jaya. Di sini bis wisata untuk mengelilingi Putra Jaya telah tersedia dengan tarif hanya RM 2 setiap orang.
Bercampur dengan pengunjung lain dari berbagai negara kita difasilitasi guide yang menjelaskan tentang seluk beluk bangunan. Bis berhenti di beberapa spot untuk memberikan kesempatan para pengunjung sekedar mengabadikannya dengan gambar. Soal pemotretan kita harus pintar-pintar bernegosiasi dengan wisatawan asing lain supaya bisa saling foto bergantian. Saat itulah berkenalan dengan sepasang turis dari Vietnam. Adapula turis Uzbekistan yang selalu mengucap salam setiap minta tolong difoto. Mungkin karena istri saya berjilbab.

Menjelang waktu dzuhur tiba bis kembali lagi ke Stasiun Cyber Jaya. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA) menggunakan kereta. Setelah check in dan pemeriksaan dokumen imigrasi di bandara kami kembali ke negeri tercinta, Indonesia.

Magic of Football


Sepak bola telah menjadi sihir bagi para penggemarnya. Sihir itu telah mempengaruhi sebagian dari hidup; gaya dan pola hidup hingga mata pencaharian. Coba kita perhatikan di sekeliling kita atau mungkin termasuk kita sendiri, di antara kita senang sekali memakai jersey  klub sepak bola atau tim nasional negara favorit kapan dan dimanapun, tak peduli soal momentum. Adapula yang menggantungkan mata pencahariannya terkait dengan urusan sepak bola. Kini tidak hanya laki-laki yang menyukai sepak bola tapi juga kaum hawa. Tua ataupun muda.

Bagi penggemar, waktu bukanlah persoalan. Meski di tengah malam, pertandingan tetap penting untuk dinanti. Berbagai cara dilakukan untuk mempersiapkan soal itu. Jam tidur rela dikurangi demi menjadi salah saksi dari jutaan orang yang menonton saat tim favorit berlaga.

Banyak cara mengekspresikan kegandrungan. Salah satunya diwujudkan dengan cara mendatangi langsung stadion sepakbola setiap ada pertandingan. Stadion hampir selalu penuh disesaki para fans. Terlebih tim-tim yang bertanding adalah tim-tim besar. Berbagai cara dilakukan untuk mendukung tim. Segala atribut, aksesoris hingga panji-panji kebesaran ditunjukkan kepada khalayak dengan penuh kebanggaan. Teriak kesemangatan dan rasa setia supporter terhadap tim menjadi pil kuat bagi para pemain. Bahkan bisa dikatakan mereka seolah-olah menjadi pemain bola yang ke-12.

Karena jenis olahraga ini banyak penggemarnya tentu saja memiliki daya tarik luar biasa buat para insan bisnis. Klub-klub sepak bola menjadi sarana efektif untuk melakukan promosi produk. Berbagai perusahaan berani menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk itu. Besarnya sokongan dana sponsor seiring sejalan dengan besarnya nama klub. Disitulah sesungguhnya letak sibiosis mutualisme keduanya. Sama-sama untung. Kita tahu bahkan keuntungan itu tidak hanya bersumber dari sponsor saja, ada pula dari bisnis penjualan tiket, jersey hingga aksesoris resmi klub. Intinya sepak bola telah menjadi sebuah industri. Televisi berebut untuk mendapatkan hak siar pertandingan. Tidak heran bila gaji para pemain dan coach sangat besar.

Akan bertambah besar pendapatannya bila disertai dengan prestasi. Bahkan di antara mereka gara-gara olah raga ini menjadi kaya raya. Kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar telah merubah kehidupan mereka dari sebelumnya miskin. Tentu untuk menjadi pemain top tidak seperti sim salabim yang begitu saja dapat “menjadi” tetapi memerlukan proses yang tidak mudah dan waktu yang tidak singkat. Ketekunan berlatih, kemauan dan kerja keras mungkin menjadi kata kunci dalam proses ini. Bila sudah “menjadi” maka nama besar mereka seolah menjadi jimat tersendiri bagi tim. Lebih dari itu pengaruhnya juga merambah ke luar urusan sepakbola. Nilai transfer pun meningkat.

Beruntung kini kita tidak perlu bersusah payah untuk datang jauh ke Eropa karena semua dapat disaksikan cukup duduk manis di depan televisi atau berbaring dengan berbagai macam gaya. Sajian ini menjadi hiburan tersendiri bagi para penggilanya. Keindahan sepak bola yang diramu berbagai macam trik dan intrik dipertontonkan liga-liga Eropa dan Liga Champion; Spanyol, Inggris, Italia, Perancis dan Jerman. Negeri kita pun diramaikan dengan Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia.

Saat pertandingan berlangsung tidak hanya dialami para pemain, kita pun turut terlibat emosi. Tegang, was was, penasaran, senang, sedih bercampuraduk tak beraturan sebagaimana bola menggelinding kemanapun ia ditendang. Tangan meninju ke atas disertai teriakan kegirangan manakala tim kesayangannya memperoleh kemenangan. Sebaliknya wajah tertunduk lesu sebagai ekspresi kekecewaan atas kekalahan. Hal-hal yang diakibatkan oleh semua itu dapat dikatakan sebagai The magic of football.

Kawan, kesetiaan dan kecintaan kita terhadap sebuah klub seyogyanya tidak menjadi alasan kita untuk membenci orang lain yang bersebrangan dengan kita. Semua hanya permainan. Tidak lebih dari itu. Menang atau kalah akan bergulir sebagaimana bola itu itu sendiri adalah bulat.

Pontianak, 27 April 2013
Pukul. 05.40 WIB


Menuju Puncak Gunung Gede-Pangrango

Setelah melakukan pendaftaran 1 minggu sebelumnya melalui website resmi, pendakian dimulai dari Gunung Putri Cianjur, salah satu pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango selain Selabintana di Sukabumi dan Cibodas di Cianjur. Saat sore menjelang, saya dan 2 orang teman lainnya melapor ke Petugas Pos di kaki Gunung. Berbekal ijin itulah pendakian Gunung Gede dimulai.

Dalam catatan wikipedia.org, Gunung Gede merupakan sebuah gunung yang berada di Pulau Jawa, Indonesia.Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede-Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.Gunung ini berada di wilayah tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian 1.000 - 3.000 m. dpl. Suhu rata-rata di puncak Gunung Gede18 °C dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 °C, dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm/tahun.

Gunung Gede diselimuti oleh hutan pegunungan,yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya. Hutan pegunungan di kawasan ini merupakan salah satu yang paling kaya jenis flora di Indonesia, bahkan di kawasan Malesia.Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara.

Sebagai pemula tentu pendakianini terasa berat mengingat ketinggian gunung melebihi 2000 dpl dengan track yang cukup terjal. Orang-orang mengkategorikannya dalam pendakian tingkat sedang. Hujan terus menerus mengguyur dengan derasnya memperberat beban cariel punggung yang berisi keperluan selama perjalanan dan di lokasi tujuan. Sungguh ternyata pendakian ini menguras fisikyang luar biasa, sayangnya tidak ada persiapan khusus soal itu, terutama jogging untuk memperkuat otot kaki dan paha ataupun sit up untuk memperkuat otot perut dan pernapasan.

Pos Pertama
Setelah 1 jam memasuki kawasan hutan gunung, tiba-tiba didera rasa lelah fisik dan mental luar biasa. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di pos pertama untuk memulihkan tenaga karena sebelumnya memang telah terkuras selama perjalanan dari Bogor ke Cianjur. Disertai gerimis yang menambah dinginnya angin pegunungan, tenda dipasang untuk sekedar jadi tempat bernaung. Perut diisi dengan bekal secukupnya dan sholat ditunaikan sambil berharap mendapat kekuatan dari Dia Al-Qowy .

Malam semakin larut. Udara bertambah dingin dan gerimis pun mulai reda. Kami merebahkan diri menjelajahi mimpi dengan perlengkapan sleeping bad  untuk penghangat suhu badan. Meski hanya berbantalkan tumpukan cariel mata dapat terpejam lelap diiringi murotottal Syekh Junaidi juz 29 yang terdengar mengalun merdu dari tape kecil di pojok tenda. Tuhan, terimakasih Engkau telah memberikan banyak kenikmatan sampai hari ini. Bismika Allahumma Ahya Wa bismika amut

Malam mulai pekat. Suara-suara jangkrik, katak, burung malam dan binatang kecil lainnya saling bersahutan. Tetesan air terdengar padu dari celah-celah pohon yang menimpa dedaunan. Bunyi gemeretak tak beraturan dari patahan ranting-ranting pohon yang telah rapuh jatuh saling berbenturan terhempas hembusan angin malam.

Waktu menunjukkan pukul 00.01 WIB, pertanda hari telah berganti. Kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Gede. Tenda dan barang-barang lain dikemas seperti semula. Setelah berolah raga kecil untuk memastikan kesegaran badan dan membersihkan sampah-sampah sisa makanan kami memantapkan diri melanjutkan perjalanan.Tiba-tiba 2 orang pendaki lain yang baru tiba di lokasi kami berkemah meminta untuk bergabung. Semangat kian menggumul merasuki aliran darah kami. Rasa takut kegelapan berganti kekuatan tekad. Niat pun menjadi kuat meski beban cariel  rasanya bertambah berat karena terguyur hujan tadi sore.

Berbekal sorotan terang dari lampu senter yang mulai tampak redup, mata dapat menyapu pandangan meski terbatas. Kaki mulai melangkah menyusuri jalur pendakian. Sesekali berhenti sejenak meneguk bekal air minum yang masih tersisa untuk sekedar menghilangkan dahaga yang menyekat tenggorokan. Jalur terkadang datar, kadang pula terjal. Mungkin karena jalurnya melingkar. Rasa dingin terkalahkan oleh bulir-bulir keringat yang keluar dari pori-pori.

Jalur pendakian diapit pepohonan berjajar rapat menjulang tinggi dengan kekarnya dan ditopang oleh akar kuat yang mencengkram perut bumi seolah ingin menunjukkan kewibawaan usianya kepada manusia yang melintas. Tumbuhan kecil merangkak naik meregenerasi pohon lain yang telah lapuk dimakan zaman. Serakan daun-daun berwana coklat kehitam-hitaman menutupi tanah pijakan yang lembab hingga bebatuan. Kabut turun menyelimuti udara yang semakin dingin menggigil. Jejak-jejak para pendaki di tanah dijadikan arah agar tidak tersesat di jalan.

Di ujung mata tampak titik temaram cahaya dalam kegelapan. Kami mendekat menghampiri. Cahaya semakin jelas dilihat. Sekumpulan pendaki lain tengah beristirahat sambil memasak makanan, mengisi perut yang sudah kosong.
Belum lama waktu berselang kami pun berpapasan dengan pendaki lain yang hendak turun gunung berjumlah 3 orang. Jumlah ini memang batas minimal yang dipersyaratkan Pengelola Taman Nasional untuk mengantisipasi kejadian tak terduga. Kami saling menyapa meski tidak kenal. Memang, di tengah hutan yang gulita seperti ini rasanya bertemu dengan sesama pendaki lain menjadi penyemangat tersendiri. Minimal perasaan kita mengatakan “you are not alone”.

Taman Suryakencana
Setelah hampir memakan waktu 7 jam perjalanan pendakian, akhirnya kami sampai di Suryakencana, sebuah dataran taman bunga Edelweiss yang sangat luas. Bunga nya khas. Hanya tumbuh di sekitar puncak gunung. Konon bunga ini disebut bunga abadi. Pohonnya tidak lebih tinggi dari ukuran tinggi kita. Rerumputan menghampar bak karpet hijau yang tertata rapi, digurat oleh sungai kecil memanjang dan dialiri air jernih nan segar. Udara pagi terasa sejuk meski matahari memancarkan sinar terangnya. Semilir angin menyelinap dalam balutan pakaian yang telah lusuh. Dari kejauhan di ujung mata, tersingkap pemandangan kota Cianjur yang dikelilingi perbukitan indah bagai lukisan alam. Awan-awan putih berkumpul menambah kemolekan ciptaan Tuhan. Subhanallah, Dialah Yang Maha Indah.

Di tempat inilah hampir seluruh pendaki menghentikan langkah kakinya untuk menikmati kesejukan udara dan pemandangan indah meski dalam waktu yang tidak lama. Tidak terkecuali kami yang tiba di lokasi ini pukul 7 pagi. Suasana terasa ramai. Di antara mereka ada yang sedang memasak. Adapula yang sedang sibuk mencari lokasi terbaik untuk pemotretan meski dari kamera handphone pinjaman kawan. Bahkan sebagian pendaki sudah ada yang berkemah sejak malam agar bisa menikmati munculnya matahari dari balik gunung dengan warna keemasannya yang mempesona.

Setelah istirahat sejenak untukmengendurkan otot kaki yang mulai kaku, kami pun memasak bahan makanan pengisi perut yang mulai kerocongan. Seakan para pendaki telah sepakat, rasanya tidak ada lagi makanan yang mengenyangkan dan mudah dimasak selain mie instan. Tidak perlu berdebat soal kandungan gizi atau bahan pengawet yang ada di dalamnya. Bagi kami yang penting dapat menambah asupan energi baru. Terlebih perjalanan ke puncak masih memerlukan waktu beberapa jam lagi. Kami saling berbagi. Rasa kebersamaan tumbuh begitu saja sesama pendaki. Duh, indahnya kebersamaan.

Matahari mulai merangkak naik.Tepat jarum jam berhenti di angka 8 kami berkemas bersiap diri melanjutkan pendakian menuju puncak. Dengan berbekal air minum yang diambil dari aliran sungai kecil untuk persiapan perjalanan kami memulai perjalanan. Kali ini melintasi track terjal dan berkerikil. Mungkin kerikil-kerikil ini adalah bekas muntahan Gunung Gede yang memang masih aktif. Sepanjang perjalanan dari Suryakencana menuju Puncak Gede ditumbuhi pepohonan kecil yang tidak terlalu tinggi. Pucuk pohonnya berdaun merah.

Sesama pendaki yang sedang naik ataupun turun gunung saling menyapa dan melempar senyum. Sebuah ungkapan perasaan bahagia dari masing-masing pendaki karena tujuan hampir atau telah tercapai. Bau belerang mulai tercium hidung. Semakin menanjak semakin kuat dirasa. Itu pertanda kawah Gunung Gede telah dekat. Suara bising terdengar diujung telinga. Mungkin mereka tengah melampiaskan kegembiraannya.

Puncak Gede
Jam hampir menanjak pada angka 10 pagi kami telah sampai di Puncak Gede. Senyum mengembang dari para pendaki. Bendera Indonesia berkibar-kibar seperti halnya semangat kami yang menyala-nyala. Keletihan berganti kesegaran. Rasa haru dan puas terpancar. Semua karena merasa tujuan telah tercapai. Banyak pendaki laki-laki maupun perempuan, pendaki lokal maupun asing berdiri di bibir kawah yang hanya dibatasi pagar kabel berfose sambil menikmati pemandangan yang menakjubkan. Asap putih membumbung ke atas mengepul dari celah-celah belerang di pinggir danau kawah berwarna biru yang memanjang itu. Tidak ada satupun pohon yang tumbuh di tepi jurang. Mungkin karena ada hawa panas yang menggelak-gelegak dari dasar danau yang suatu saat atas izin-Nya akan menggelegar memuntahkan isi beban perutnya.

Allah Maha Besar.
Kebesarannya ditampakkan melalui salah satu Gunung ini. Di sinilah sesungguhnya saat yang paling tepat bila kita ingin merenung lebih dalam dengan memperhatikan ayat-ayat-Nya. Betapa kecilnya kita meski sudah di puncak gunung. Kita tidak akan terlihat meski hanya setitik dari sudut manapun di ujung bawah sana. Tidak ada yang lebih besar selain Dia Yang Maha Besar. Allahu Akbar!

Sehebat apapun kita. Tidak ada kuasa sedikitpun atas alam bila tiba-tiba kawah bergerak menelan apa yang ada di atasnya dan memuntahkannya ke penduduk yang ada di bawahnya. Hanya Dia yang berhak sombong. Dialah al-Muttakabbir. Dialah as-Shomad dan Dialah al-Kabir. Sekali lagi, saya, anda atau siapapun kita semua adalah kecil di hadapan Sang Penguasa Alam Raya ini.

Gunung Gede-Pangrango, 6-7 April 2013


Di Sebuah Negeri……

Di sebuah negeri, seorang raja menulis sebuah sayembara. Dalam sayembara tersebut tertulis; “Wahai rakyatku, Barang siapa di antara kalian berhasil menyebrangi sebuah kolam istana, maka akan aku anugerahi ia 2 (dua) hadiah; Pertama aku nikahkan ia dengan putriku, Kedua; aku angkat ia menjadi putra mahkotaku. Melalui sekretarisnya, sayembara itu kemudian disebar melalui koran, televisi, radio, facebook, twitter dan lain-lain.

Keesokan harinya, karena tergiur dengan 2 hadiah tersebut berkumpullah ribuan calon peserta sayembara di depan kolam istana kerajaan. Di antara mereka ada yang muda, tua bahkan kakek-kakek bercucu tiga.

Berselang beberapa waktu, sang raja keluar dari istananya dan berpidato di hadapan para calon peserta sayembara.
“Wahai rakyatku, terima kasih kalian telah memenuhi undanganku. Pada kesempatan ini ingin kutegaskan kembali, siapa di antara kalian yang mampu menyebrangi kolam istana ini, maka aku akan anugrahi ia 2 hadiah; Pertama aku nikahkan ia dengan putriku, Kedua; aku angkat ia menjadi putra mahkotaku”.

Mendengar pengumuman tersebut semua calon peserta gemuruh bertepuktangan. “Tapi tunggu dulu wahai rakyatku” lanjut Sang raja. “Aku perlu ingatkan kepada kalian bahwa kolam ini berisi ribuan ikan Piranha”. Sebagai bukti Sang Raja pun meminta kepada anak buahnya untuk menceburkan seekor kerbau. Dalam hitungan detik kerbau tersebut habis dilalap ikan Piranha. Melihat kejadian menakutkan ini, banyak peserta mengundurkan diri.

Tiba-tiba ada seorang pemuda berperawakan kurus kering melompat ke dalam kolam, kemudian dengan secepat kilat ia berenang menuju ke tepian. Akhirnya ia pun berhasil. Semua peserta terkagum-kagum dengan keberanian pemuda itu. Gemuruh tepuktangan tiada henti sebagai rasa bangganya mereka kepada pemuda pemberani itu.

Dengan rasa senang, Sang raja memuji-muji pemuda tersebut. Ia bertutur “Luar biasa, sungguh anda luar biasa hai pemuda! Sesuai janjiku, aku akan menghadiahi engkau 2 hadiah; menikahi putriku dan  kuangkat engkau menjadi putra mahkotaku”

“Tunggu paduka” Potong sang pemuda. “Ampun beribu-ribu ampun, Paduka. Sebelum Paduka memberi hadiah kepada hamba, hamba ingin tahu siapa yang mendorong hamba dari belakang sehingga hamba tercebur ke dalam kolam”. Lanjut pemuda dengan rasa penasaran.

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita ini?